
Dongeng anak pengantar tidur cerita 3 Weki Si Bebek yang Mau Jadi Singa – Di sebuah desa kecil yang damai di pinggir hutan lereng Gunung Merapi, tinggallah seekor bebek unik bernama Weki. Weki punya bulu coklat mengilap, langkah cepat, dan suara… yah, agak cempreng.
Tapi Weki punya mimpi besar.
“Aku ingin jadi SINGA!” katanya setiap pagi sambil berdiri di atas batu, mengepakkan sayap kecilnya. “WWARRROAAARRR!”
Sayangnya, suaranya terdengar lebih seperti, “wek WEK wek!”
Ayam Ruyuk tergelak, “Kamu tuh bebek, Weki, bukan raja hutan!”
Kucing Miu menambahkan, “Singa itu garang dan gagah, kamu mah… empuk dan basah.”
Tapi Weki tak menyerah. Ia membuat surai dari rumput ilalang, berjalan pelan sambil menengadah gagah (meski sering tersandung), dan tiap malam, ia mengaum ke arah bulan.
Lalu datanglah musim hujan.
Suatu malam, badai besar mengguncang desa. Sungai meluap, dan puluhan anak-anak hewan terjebak di gundukan kecil di tengah sawah. Mereka menangis ketakutan. Air makin tinggi.
Semua hewan panik.
Lalu muncullah Weki.
Tanpa ragu, ia berenang, menyelam, dan satu per satu, menyelamatkan mereka. Ia menggendong kelinci, menuntun anak ayam, bahkan membantu si landak yang ketus.
Baca Dongeng Berikut:

Dongeng Anak pengantar tidur: Cerita 1 Keju Raksasa Palsu Dari Geng Promik https://sabilulhuda.org/keju-raksasa-palsu-dari-geng-promik-cerita-1/
Keesokan harinya, desa menggelar perayaan. Weki dielu-elukan.
“Weki pahlawan!”
“Bebek pemberani!”
Kakek Kura-kura menepuk pundaknya dan berkata, “Kamu mungkin bukan singa, Nak, tapi keberanianmu lebih besar dari singa mana pun.”
Weki tersipu. Ia berkata, “Yah… mungkin aku memang bukan singa. Tapi aku juga bukan bebek biasa!”
Semua bersorak. Tapi…
Beberapa hari kemudian… sesuatu terjadi.
Seekor singa betulan tua, kurus, tersesat dari hutan seberang—muncul di desa. Semua hewan panik. Mereka lari bersembunyi. Si singa mengaum lemah, tapi tetap menakutkan.
Weki maju.
Ia berdiri di hadapan singa itu. “Hei! Aku tahu kamu singa. Tapi ini desa kami. Kamu gak bisa seenaknya!”
Singa itu menatap… lalu tersenyum.
“Aku datang bukan untuk menyerang. Aku datang… mencari anakku.”
Semua hewan terdiam.
“Anakku… saat kecil hanyut di sungai. Kami kira ia mati. Tapi kabar tentang bebek pemberani yang bersuara aneh sampai ke telingaku. Dan aku tahu… hanya satu makhluk yang bisa seberani itu. Putraku.”
Semua menatap Weki. Weki terbata, “Tunggu… maksudmu… AKU?”
Singa itu mengangguk. “Kamu bukan bebek biasa. Kamu anak singa yang diasuh angsa.”
Weki pingsan di tempat.
Ternyata, saat kecil, Weki memang ditemukan di tepi sungai oleh Mama Angsa, dan dibesarkan sebagai bebek. Tapi sesungguhnya… ia anak angkat, dan darah singa mengalir dalam dirinya!
Sejak saat itu, Weki tetap tinggal di desa, tetap lucu dan konyol, tapi semua kini tahu: ia memang bukan bebek biasa. Ia singa berhati bebek. Atau bebek berhati singa. Atau… dua-duanya.
Pesan Moral:
Kadang, impian kita terlihat aneh bagi orang lain—tapi bisa jadi, itu adalah panggilan sejati dari jati diri kita yang tersembunyi. Teruslah percaya, karena siapa tahu… kamu memang lahir untuk jadi raja meski awalnya cuma bisa ngak-ngok!
Baca Juga: Buku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud
Oleh: Izzayumna













