
Adegan I: Halaman Istana Hastinapura
Wayang Bocah Heboh! Uang Triliunan Dan Kasus CPO – Suasana pagi Anak-anak Pandawa dan Korawa berkumpul di halaman istana, memainkan gundu dan mainan wayang dari pelepah pisang.
Ada Lesmana Mandrakumara yang sombong, Drestajumena yang bijak, Sadewa kecil yang senang mengumpulkan daun-daunan, dan tentu saja ada Abimanyu yang cerdas dan selalu ingin tahu.
Tak jauh dari sana, para punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong tengah sibuk mengatur mainan, sambil menikmati wedang jahe.
“Lho, lho, anak-anak jangan main gundu di atas batu licin begitu! Nanti kepeleset, terus ujung-ujungnya minta ganti sandal baru!” seru Semar, mengusap keringatnya.
“Aku sudah lihat berita, Pak Semar!” teriak Abimanyu tiba-tiba. “Ada yang aneh sekali!”
“Lho kok anak raja malah ngomong kayak jurnalis?” sahut Gareng.
Abimanyu menunjukkan selembar gulungan lontar dengan tulisan besar:
PENAMPAKAN UANG TRILIUNAN CPO
“PENAMPAKAN UANG TRILIUNAN CPO: KASUS TERBESAR DALAM SEJARAH KEJAGUNG!”
Anak-anak pun heboh.
“Apa itu CPO? Cendol Pisang Oseng-oseng?” tanya Bagong dengan polos.
“Bukan, Gong. CPO itu Crude Palm Oil, minyak kelapa sawit mentah,” jelas Petruk dengan gaya profesor dadakan.
“Lho, minyak kok bisa bikin kasus triliunan?” Drestajumena mengernyit.
“Wah, kayaknya ini serius. Kita harus menyelidiki!” seru Abimanyu.
Lesmana Mandrakumara, anak Duryudana, langsung menyela, “Heh! Yang bisa menyelidiki urusan besar cuma pihak kerajaan! Kalian cuma anak-anak.”
Tapi Abimanyu tak gentar, “Justru karena kami anak-anak, kami belum tercemar! Ayolah!”
Baca Juga:

Pelajaran Dari Peradaban Jawa “Sastra Jendra” Episode 3 https://sabilulhuda.org/pelajaran-dari-peradaban-jawa-sastra-jendra/
Adegan II: Di Ladang Sawit Kerajaan
Anak-anak Pandawa dan Korawa diam-diam berangkat ke ladang sawit milik kerajaan yang letaknya di perbatasan Hastinapura. Mereka di temani para punakawan yang membawa bekal lemper dan kerupuk jangek.
“Awas ya, jangan sampai ketahuan prajurit sawit,” bisik Sadewa.
Mereka menemukan gudang besar. Di balik pintu kayu yang retak, tampak tumpukan kardus bersegel. Petruk mencoba membuka satu.
PLOK!
Isinya bukan minyak… tapi gulungan daun lontar bertulis angka fantastis!
“1… 2… 3 triliun?! Ini catatan pengeluaran negara?!” teriak Gareng.
Bagong gemetar. “Aku baru bisa nulis sampai angka seratus… Ini angka segini bikin aku pusing!”
Tak lama kemudian terdengar suara gaduh.
“Woy! Ngapain kalian di sini?!”
Penjaga gudang muncul. Namun sebelum anak-anak di tangkap, Semar angkat bicara.
“Tenang, kami ini tim investigasi kecil, bagian dari Kelompok Pengawas Perilaku Anggaran Wayang atau KPPAW.”
“Beneran, Pak? Mana ID-nya?”
“Ini!” Semar mengeluarkan… kartu potongan kerupuk berlabel ‘Resmi oleh Raja Cilik’.
Ajaibnya, penjaga itu percaya. Ia malah membisikkan sesuatu.
“Pak… sebenarnya saya juga heran. Uang sebanyak itu katanya untuk subsidi rakyat. Tapi yang datang ke gudang ini malah keranjang kosong…”
Anak-anak makin penasaran.
Adegan III: Ruang Rahasia di Balik Gudang
Dengan bantuan punakawan, mereka masuk ke ruangan bawah tanah. Di sana, mereka melihat lukisan besar – bukan lukisan biasa, tapi sketsa jaringan!
“Ini… seperti peta aliran dana. Ada jalur dari kerajaan, belok ke pasar, tapi eh… kok masuk ke ‘CV Daun Kelapa Jaya’, ‘PT Cendol Abadi’, dan ‘Koperasi Gajayana’?!” seru Abimanyu.
Petruk menyambar, “Ini kayak sinetron korupsi! Uang negara di puter-puter kayak roda pedati, ujung-ujungnya masuk kantong pribadi!”
Gareng menambahkan, “Kalau ini beneran terjadi, maka ini korupsi tingkat… triliunan!”
Sadewa menunjuk gambar topeng bertulis “Tuan Minyak Tersembunyi”.
“Siapa itu?” tanya Abimanyu.
Semar menyahut, “Itu kode. Banyak uang negara di tarik atas nama subsidi, tapi tidak sampai ke petani kecil. Minyak lari, uang melayang, rakyat cuma dapat asap pembakaran lahan.”
Anak-anak terpaku.
Lesmana Mandrakumara tiba-tiba berkata, “Kalau ini benar… kita harus lapor ke Dewan Hastinapura. Ini kejahatan besar.”
Adegan IV: Sidang Kecil di Balai Istana
Punakawan mengatur panggung kecil di depan istana. Anak-anak Pandawa dan Korawa membawa “barang bukti” dari penyelidikan. Semua wayang tua, termasuk Bhisma, Durna, Widura, dan Prabu Destarata datang.
Abimanyu maju ke depan, “Kami mungkin masih kecil, tapi kami mencium bau amis dari minyak mentah yang di selewengkan. Ini bukan soal sawit, tapi tentang kejujuran!”
Sadewa membawa daftar nama perusahaan fiktif yang menerima uang negara.
Drestajumena memperlihatkan grafik buatan tangan: “Jumlah subsidi CPO vs minyak goreng di pasar” — grafiknya naik turun seperti ular tangga.
Penonton tergelak saat Bagong menirukan gaya si koruptor:
“Saya ini cuma pelaksana! Semua sesuai prosedur, Pak… Tapi uangnya entah menguap di mana… mungkin di bawa burung Garuda!”
Petruk maju dengan topeng “Tuan Minyak Tersembunyi”.
Ia berkata, “Kalau hutan di ganti sawit, kalau uang rakyat di ganti mark-up, maka yang tumbuh bukan kesejahteraan… tapi keserakahan!”
Sorak pun pecah.
Adegan V: Hukuman Wayang Kocak
Prabu Destarata berdiri, “Walau kalian masih kecil, kalian membawa cahaya. Para punakawan, siapkan hukuman!”
Gareng maju, membawa wajan raksasa dan botol minyak goreng.
“Untuk para pelaku korupsi, hukumannya: di suruh goreng tempe dari pagi sampai sore, tapi cuma di kasih satu tetes minyak!”
Petruk menambahkan, “Dan wajib dengar ceramah Bagong tentang kejujuran, setiap hari selama 40 hari 40 malam.”
Bagong langsung berdiri dan mulai ceramah:
“Anak-anak! Kalau kamu korupsi, jangan harap kamu bisa tidur nyenyak! Mimpi saja bisa di kejar KPK!”
Semua tertawa.
Penutup: Kembali ke Halaman Istana
Anak-anak kembali main di halaman, tapi kini dengan misi baru: membuat pasar jujur. Mereka buka warung kecil, menjual minyak goreng dengan harga adil. Abimanyu mengatur catatan, Sadewa jadi kasir, dan Lesmana jadi tukang promosi.
Punakawan duduk di bawah pohon beringin, tersenyum.
“Kadang, untuk melawan kebusukan besar… cukup dengan hati kecil yang bersih dan keberanian untuk bertanya, ‘Ini uang siapa sebenarnya?’” ujar Semar lirih.
Gareng nyeletuk, “Dan satu lagi…”
Semua menoleh.
“…Pastikan sebelum makan gorengan, pastikan minyaknya bukan hasil korupsi!”
Pesan Moral:
Baca Juga: Wayang ‘Lalu Nasip’ dalam Bingkai Moderasi Beragama
Cerita ini menyampaikan bahwa keberanian dan kejujuran tak mengenal usia. Ketika orang dewasa terlena kekuasaan dan harta, justru anak-anak dan tokoh-tokoh jenaka bisa jadi pengingat nurani. Dan jangan lupa, di negeri wayang pun, kasus triliunan bisa terbongkar oleh anak-anak yang main gundu… dan punakawan yang sok detektif!
Oleh : Ki Pekathik





