Berita  

Warga Israel Ramai-Ramai Beli Tanah di Siprus! Pemerintah Lokal Waspada

Warga Israel Ramai-Ramai Beli Tanah di Siprus! Pemerintah Lokal Waspada
Warga Israel Ramai-Ramai Beli Tanah di Siprus! Pemerintah Lokal Waspada
Warga Israel Ramai-Ramai Beli Tanah di Siprus! Pemerintah Lokal Waspada
Warga Israel Ramai-Ramai Beli Tanah di Siprus! Pemerintah Lokal Waspada

Warga Israel Ramai-Ramai Beli Tanah di Siprus! Pemerintah Lokal Waspada – Setelah konflik selama 12 hari antara Israel dan Iran yang dimulai pada 13 Juni 2025, fenomena baru kembali mencuat. Ribuan warga Israel berbondong-bondong membeli tanah dan rumah di Siprus.

Aktivitas ini mencatat terdapat lonjakan signifikan yang membuat pemerintah dan masyarakat lokal menjadi khawatir.

Laporan media Politis menyebutkan bahwa sekitar 15.000 warga Israel telah membeli properti di Siprus. Bahkan, gerakan Yahudi Cabat mulai membangun infrastruktur pendukung seperti sekolah dan sinagog di wilayah tersebut.

Banyak pihak yang menyebut bahwa fenomena ini sebagai “Tanah yang Dijanjikan jilid dua” setelah sebelumnya ditujukan ke Palestina.

Baca Berita: Gudang Garam Megap-megap! Padahal Indonesia Juara Perokok Dunia

Kekhawatiran Pemerintah Siprus Meningkat

Sekretaris Jenderal partai oposisi terbesar di Siprus, Partai Akel, Stefanos Stefanou, secara terbuka menyuarakan kekhawatirannya. Ia menyebut bahwa pembelian properti secara besar-besaran oleh warga Israel tanpa pengawasan dapat membahayakan kedaulatan dan keamanan nasional.

Stefanou mengkritisi langkah sistematis Israel membeli lahan luas dan pusat ekonomi strategis, khususnya di kota Larnaca dan Limasol. Di wilayah tersebut, dibentuk komunitas tertutup (gated community).

Yang hanya bisa di akses oleh warga negara Israel, membatasi akses penduduk lokal.

Langkah Politik untuk Batasi Aksi Pembelian

Dalam merespons fenomena ini, Partai Akel telah mengajukan dua rancangan undang-undang di Parlemen Siprus. RUU tersebut bertujuan untuk membatasi pembelian tanah oleh warga negara non-Uni Eropa, terutama Israel. Serta mengawasi proses perizinan kepemilikan properti di dekat infrastruktur penting negara.

Stefanou menekankan bahwa kebijakan ini bukan karena sentimen rasis atau antisemitisme, namun demi menjaga stabilitas nasional dan kedaulatan wilayah.

Ia juga menyebut bahwa negara-negara besar seperti Spanyol, Italia, dan Jerman telah lebih dahulu memberlakukan pembatasan serupa untuk menjaga kepentingan nasional mereka.

Fenomena Baru, Risiko Baru

Saat ini Siprus tengah menghadapi persoalan yang besar. di satu sisi, mereka terbuka pada investasi asing. Tetapi  di sisi lain, pembelian masif oleh kelompok asing tertentu dapat  memicu kecemasan sosial, politik, dan ekonomi.

Baca: Eskalasi Konflik Iran-Israel: Dampak Global dan Evakuasi WNI