
Ukasyah bin Mihshan, Sahabat Nabi yang Masuk Surga tanpa dihisab – Siapa yang tidak ingin masuk surga tanpa menghadapi hisab? Tanpa pertanggungjawaban, tanpa rasa takut menghadapi perhitungan amal.
Sungguh suatu keberuntungan besar yang diimpikan setiap Muslim. Tapi, siapakah yang mendapatkan anugerah istimewa ini? Keistimewaan besar ini dijanjikan oleh Rasulullah SAW kepada sahabatnya, Ukasyah bin Mihshan al-Asadi.
Ukasyah adalah seorang pejuang Tangguh dari keluarga Bani Asad yang ikut serta dalam berbagai pertempuran untuk membela agama Islam, termasuk Perang Badar yang sangat penting.
Ia dikenal memiliki iman yang teguh, berani di medan perang, dan taat kepada Rasulullah SAW, sehingga diangkat sebagai salah satu ksatria yang dipilih oleh Nabi.
Keberanian Di Medan Perang
Ukkasyah bin Mihshan memeluk Islam sejak awal masa dakwah Nabi Muhammad. Setelah ia menjadi Muslim, ia sering mengalami siksaan dari orang-orang suku Quraisy. Setelah Nabi Muhammad pindah ke Madinah untuk menghindari siksaan yang diterimanya dari suku Quraisy, Ukkasyah bin Mihshan mengikuti Nabi bersama para sahabat yang lain.
Di Madinah, Ukkasyah bin Mihshan mengikuti Pertempuran Badar pada tahun 2 H (624 M). Ia berperang dengan berani dan penuh semangat hingga pedangnya patah. Nabi memberinya sebatang kayu, dan ketika ia memegangnya, kayu itu berubah menjadi pedang berwarna putih yang sangat kuat.
Dengan pedang itu, ia terus berperang semangat hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan. Ia juga ikut serta dalam beberapa perang lain bersama Muhammad, seperti Perang Uhud dan Perang Khandaq.
Pada peristiwa Dzu Qarad, yang melibatkan sekelompok Yahudi yang mengurus monyet, Ukasyah berhadapan dengan Aubar dan putranya Amr yang naik unta. Ukasyah membunuh keduanya dengan sekali lemparan tombaknya.
Baca Juga:

Sahabat Nabi Yang Buruk Rupa Tetapi Menjadi Rebutan Bidadari https://sabilulhuda.org/sahabat-nabi-yang-buruk-rupa-tetapi-menjadi-rebutan-bidadari/
Pada bulan Rabiul Awal tahun ke-6 hijriyah, Ukkasyah bin Mihshan diberi tugas oleh Muhammad untuk melakukan sebuah ekspedisi bersama Tsabit bin Aqram dan Syuja’ bin Wahab. Tugasnya adalah memimpin empat puluh orang sahabat Nabi ke daerah Ghamar, yang merupakan sumber air milik keluarga Bani Asad.
Ekspedisi ini kemudian dikenal dengan nama Ekspedisi Ghamar atau Ekspedisi Ukkasyah bin Mihshan. Ukkasyah dan rombongannya membuat orang-orang di sana takut hingga mereka lari meninggalkan sumber air mereka.
Ukkasyah mengirim beberapa orang untuk memeriksa kondisi daerah tersebut. Akhirnya, mereka bertemu dengan seorang pemimpin suku yang menunjukkan tempat penyimpanan ternak mereka. Di sana mereka menemukan 200 ekor unta, dan ternak-ternak itu kemudian dibawa ke Madinah.
Keinginan Mati Syahid
Salah satu keistimewaan terbesar Ukasyah bin Mihshan RA adalah kabar gembira yang diberikan langsung oleh Rasulullah SAW, bahwa dia termasuk orang yang akan masuk surga tanpa perlu dihisab. Kejadian ini dicatat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Imran bin Hushain.
Dalam riwayat tersebut, Said bin Jabir menceritakan bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Aku diperlihatkan umat-umat yang hidup sebelumku. Aku melihat satu atau dua nabi berjalan diikuti oleh orang-orangnya masing-masing.
Tapi ada seorang nabi lainnya yang tidak diikuti oleh siapa pun. Lalu muncul awan yang sangat gelap menutupi langit di atasku. Aku bertanya, ‘Apa itu? ‘ Lalu dikatakan kepadaku, ‘Itu adalah Musa dan kaumnya. ‘”
Rasulullah SAW kemudian berkata, “Dan dikatakan (kembali), ‘Lihatlah ke arah ufuk! ‘ Ternyata langit tertutup awan hitam. Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke sini dan ke arah ufuk langit! ‘ Ternyata awan hitam benar-benar menutupi langit. Dikatakan kepadaku, ‘Itu adalah umatmu, dan dari mereka akan masuk surga tujuh puluh ribu orang tanpa dihisab. “
Mendengar ucapan itu, para sahabat merasa penasaran dan bertanya-tanya siapa saja yang termasuk dalam kelompok itu. Mereka berkata, “Kita adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya.
Jadi, yang dimaksud dalam ucapan beliau mungkin kita, atau mungkin anak-anak kita yang lahir dalam Islam, sedangkan kita sendiri lahir di masa Jahiliah. “
Rasulullah SAW yang mendengar pembicaraan mereka pun bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak mendengar berita buruk (tidak melakukan ruqyah), tidak putus asa, tidak terburu-buru, dan mereka mempercayakan segala urusan kepada Tuhan. “
Saat itu, Ukasyah bin Mihshan RA berdiri dan bertanya, “Apakah aku termasuk dalam kelompok mereka, wahai Rasulullah? ” Dengan tegas, Rasulullah SAW menjawab, “Benar. ” Ini adalah kabar gembira yang luar biasa, sebuah jaminan langsung dari Rasulullah SAW bahwa Ukasyah RA termasuk golongan yang akan masuk surga tanpa dihisab.
Kabar gembira ini sejalan dengan firman Allah SWT tentang orang-orang yang bertawakal kepada-Nya:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا”
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)
Pelajaran dari kisah hidup Ukasyah
Kisah hidup Ukasyah bin Mihsan memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam.
Pertama, ia mengajarkan kita untuk selalu teguh beriman dan berani memperjuangkan kebenaran, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan.
Kedua, Ukasyah juga menunjukkan bahwa meskipun kita memiliki kekurangan atau kelemahan, dengan iman yang kuat dan niat yang tulus, kita bisa mencapai kemuliaan di sisi Allah.
Yang tidak kalah penting adalah ketulusan Ukasyah dalam mencintai Rasulullah SAW dan agama Islam. Ia tidak hanya mendengarkan ajaran Nabi, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan.
Keberaniannya di medan perang adalah wujud dari kesetiaannya kepada Rasulullah dan perjuangannya untuk menegakkan Islam.
Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud













