
Tangisan Keluarga Umar bin Abdul Aziz – Pada masa Kekhalifahan Umayyah, dunia menyaksikan seorang pemimpin yang mengubah arah sejarah kekuasaan menjadi ladang ibadah. Dialah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang hanya memerintah dua tahun lima bulan, namun meninggalkan jejak abadi dalam kalbu umat Islam.
Bukan hanya rakyat yang terkejut akan gaya kepemimpinannya yang bersih dan adil, bahkan keluarganya sendiri merasa gamang. Mereka tidak siap dengan perubahan drastis dari hidup mewah istana menjadi kehidupan zuhud dan penuh keprihatinan.
Ini adalah kisah menyentuh dari balik dinding istana kisah tangisan dan protes haru istri dan anak-anak Umar bin Abdul Aziz yang merasa ‘kehilangan dunia’, padahal tengah bersanding dengan sosok yang memilih akhirat.
Dari Pangeran Menjadi Pemikul Amanah
Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz hidup sebagai bangsawan Umayyah. Ia berpakaian mewah, memoles rambut dengan minyak wangi terbaik, dan memiliki budak-budak yang melayaninya. Istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, adalah putri khalifah.
Ia tumbuh dalam kemewahan, dibesarkan di antara istana dan perhiasan. Semua berubah ketika suaminya diangkat menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik.
Baca Juga:

Kisah menyentuh dari rumah tangga Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang adil https://sabilulhuda.org/anting-anting-untuk-putri-khalifah/
Pada hari pertama ia memegang kekuasaan, Umar menolak naik singgasana. Ia menangis tersedu-sedu, menggigil memandang beban berat di hadapannya.
“Wahai Allah,” doanya di malam pertama, “Engkau telah membebaniku memimpin umat Muhammad ﷺ. Jika Engkau menolongku, aku akan selamat. Jika tidak, aku hancur.”
Dan ia memilih jalan yang membuat seisi istana menggigil dalam ketidakpercayaan: menjual seluruh harta pribadi yang mewah, mengembalikan perhiasan kerajaan ke Baitul Mal, memecat para pejabat zalim, dan menghapus tunjangan keluarga Kerajaan termasuk milik istri dan anak-anaknya.
Fatimah Menangis: “Wahai Umar, Apakah Ini Balasannya?”
Fatimah, sang istri yang setia, adalah putri dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Ia terbiasa tidur di ranjang emas, dengan perhiasan menggantung dari lengan hingga leher. Tapi Umar, dengan penuh kelembutan, berkata padanya:
“Wahai Fatimah, engkau tahu bahwa perhiasanmu berasal dari pemberian ayahmu yang dulu diambil dari Baitul Mal. Apakah engkau rela mengembalikannya?”
Air mata Fatimah jatuh. Ia terdiam sejenak, hatinya berkecamuk. Tapi ia tahu, suaminya bukan lelaki biasa. Ia bukan hanya suami, tapi seorang pemimpin yang mempertanggungjawabkan hartanya di hadapan Allah.
Dengan suara lirih ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memilih dunia atas akhirat. Ambillah semuanya.”
Hari itu, perhiasan Fatimah dijual, dan hasilnya dikembalikan ke Baitul Mal.
Namun yang lebih berat bukan hanya kehilangan emas dan perhiasan. Yang lebih berat adalah menyaksikan anak-anak mereka mulai menampakkan wajah pucat, tubuh kurus, dan baju-baju tambal sulam yang jauh dari semarak istana.
“Ayah, Mengapa Kita Seperti Pengemis?”
Suatu hari, seorang putri Umar bin Abdul Aziz yang masih kecil menghampirinya. Matanya sembab, wajahnya kusut, dan pakaiannya robek di sana-sini.
“Wahai Ayah,” katanya lirih, “bolehkah aku meminta sesuatu?”
Umar tersenyum dan mendekap putrinya. “Apa yang kau inginkan, buah hatiku?”
“Ayah… aku ingin pakaian yang lebih layak. Aku malu keluar rumah. Anak-anak para pejabat berpakaian indah, tapi aku seperti pengemis.”
Umar menahan air mata. Ia menatap baju putrinya yang memang sangat lusuh, bahkan lebih pantas untuk dijadikan kain lap daripada pakaian seorang anak khalifah. Tapi dari lisannya, tak keluar penolakan kasar. Ia tidak menyalahkan sang anak yang masih belia dan belum memahami perjuangan ini.
Dengan pelan, ia menulis sepucuk surat ke bendahara negara:
“Jika engkau mengizinkan aku mengambil gaji khalifah sebelum waktunya, maka izinkan aku membelikan baju untuk anakku. Tapi jika itu melanggar keadilan, maka biarkan ia bersabar di jalan Allah.”
Jawaban bendahara pun datang:
“Wahai Amirul Mukminin, aku tidak berani mengizinkan engkau mengambil sesuatu yang bukan hakmu. Gaji khalifah belum jatuh tempo. Bersabarlah, semoga Allah memberi ganjaran yang lebih baik.”
Saat surat itu dibacakan, Umar menggenggam tangan putrinya. Ia mencium keningnya dan berkata, “Nak, maafkan Ayah. Ayah tidak ingin membeli sesuatu yang belum menjadi hak kita. Insya Allah, Allah akan mencukupkanmu dengan sesuatu yang lebih baik di surga nanti.”
Putrinya hanya bisa menangis. Dan Umar… ia menahan tangisnya dalam diam.
Protes Lembut dari Fatimah:“Wahai Umar, Kau Membuat Anak-Anak Kita Terlantar”
Fatimah menyaksikan penderitaan anak-anaknya dari hari ke hari. Ia, yang dahulu begitu dimanjakan dunia, kini harus memasak sendiri, menjahit baju anak-anaknya, dan berhemat dalam segala hal. Pada suatu malam, ia tak mampu lagi menahan keluhannya.
Dengan suara getir, ia berkata kepada Umar:
“Wahai Umar, anak-anak kita kedinginan. Mereka lapar. Kau dahulu menjanjikan mereka akan mulia. Tapi kini mereka hidup lebih miskin dari rakyat biasa. Apa ini keadilan?”
Umar menunduk lama. Ia tidak marah. Ia tidak membantah. Ia hanya memeluk Fatimah dan berkata dengan mata berkaca-kaca:
“Fatimah, aku mencintaimu, dan aku mencintai anak-anakku. Tapi aku lebih mencintai keadilan. Aku tak sanggup berdiri di hadapan Allah dengan harta yang bukan hak kita. Jika aku memberikan kekayaan kepada mereka hari ini dari jalan yang tidak halal, aku sedang menjerumuskan mereka ke neraka.”
Lalu Umar pun memanggil anak-anaknya dan duduk bersama mereka.
Ia berkata, “Anak-anakku, kalian adalah buah hatiku. Tapi ketahuilah, Ayah lebih memilih kalian miskin di dunia tapi selamat di akhirat. Ayah tidak ingin memberi kalian makanan dan pakaian dari sesuatu yang akan membakar tubuh kita di neraka.”
Anak-anaknya tak sepenuhnya memahami, tapi mereka bisa melihat sesuatu yang berbeda di mata ayah mereka: cinta yang tidak membuai, tapi membimbing. Air mata mereka jatuh, bukan hanya karena lapar, tapi karena mereka tahu… mereka sedang di besarkan dalam cinta yang suci.
Perpisahan yang Menyayat Hati
Hidup zuhud Umar bin Abdul Aziz memang tidak berlangsung lama. Setelah dua tahun lebih menjadi khalifah, tubuhnya mulai melemah karena beban kerja dan makanan sederhana yang tidak mencukupi.
Dalam keadaan sakit parah, Umar masih menolak menggunakan uang negara untuk pengobatan mewah. Ia hanya mau di rawat dengan ramuan rakyat biasa. Bahkan di malam terakhir hidupnya, ia tidak tidur di ranjang empuk, melainkan di atas tikar dari daun kurma.
Anak-anaknya mengelilinginya dengan isak tangis. Fatimah menangis sejadi-jadinya. Ia tak bisa lagi menyimpan amarah, tapi juga tak bisa menyalahkan.
“Wahai Umar, maafkan aku pernah mengeluh. Engkau lelaki terbaik yang pernah kukenal,” kata Fatimah sambil menggenggam tangan suaminya.
Umar tersenyum lemah. Ia berkata:
“Fatimah, jangan menangis. Dunia ini hanya sebentar. Aku berharap engkau dan anak-anak akan berkumpul kembali denganku di surga, di rumah yang tidak ada kesedihan, tidak ada kemiskinan, dan tidak ada keluh kesah.”
Beberapa saat kemudian, ruh Umar bin Abdul Aziz kembali kepada Tuhannya. Wajahnya bersinar, bibirnya menyebut Laa ilaaha illallah dengan senyum yang menenangkan.
Warisan Sejati
Setelah Umar wafat, anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi jujur, pemberani, dan bersahaja. Meskipun mereka tidak di warisi istana dan harta, mereka membawa warisan sejati: keadilan, kejujuran, dan ketakwaan.
Salah seorang anaknya bahkan menjadi pemimpin yang saleh di kalangan umat. Ia berkata:
“Ayahku tidak meninggalkan kami emas dan perak. Tapi beliau meninggalkan nama yang harum dan Allah cukupkan kami.”
Fatimah pun menua dalam kesederhanaan. Ia tak lagi menangisi dunia yang hilang. Sebaliknya, ia bangga menjadi bagian dari kisah besar suaminya.
Ia pernah berkata kepada seorang wanita yang memamerkan kalung emas:
“Kalungku dulu lebih indah dari punyamu. Tapi aku menukarnya dengan kalung pahala yang tak akan putus di akhirat.”
Penutup
Kisah Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya bukan sekadar sejarah. Ia adalah cermin untuk para pemimpin dan orang tua. Cinta kepada keluarga tidak harus di wujudkan dalam harta dan kemewahan, tetapi dalam kejujuran dan tanggung jawab moral.
Terkadang, cinta yang paling tulus justru membuat orang yang di cintai menangis. Tapi kelak, tangisan itu akan menjadi saksi bahwa mereka pernah di pimpin oleh hati yang takut kepada Allah.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari istana yang sunyi namun penuh cahaya itu istana Umar bin Abdul Aziz.
Baca Juga: Mengenal Masa Kecil Umar bin Abdul Aziz
Oleh: Ki Pekathik













