Nama lengkapnya, Hasan bin Abil Hasan al-Basri. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun kekhalifaan Umar bin Khattab, yaitu tahun 21 H. Asal keluarganya berasal dari Misan. Ayah Hasan al-Basri adalah seorang budak milik Zaid bin Tsabit. Ibu beliau juga seorang budak milik Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad SAW.
Ummu Salamah sebelum islam adalah seorang yang paling sempurna akhlak dan berpendirian teguh. Ia juga seorang perempuan yang sangat luas keilmuaannya diantara istri-istri Nabi SAW. Kemungkinan besar, Hasan al-Basri menjadi ulama yang sangat populer dan sangat dihormati dikarenakan barakah dari susuan Ummu Salamah yang diberikan ketika Hasan al-Basri masih kecil.
Pada usia 12 tahun, Syaikh Hasan al-Basri sudah hafal al-qur’an. Sedangkan pada usianya ke-14 tahun Hasan bersama keluarganya pindah ke kota Basrah, Irak. Semenjak itulah beliau dikenal dengan nama Hasan al-Basri. Dikala itu, Basrah merupakan kota keilmuan yang pesat peradabannya. Sehingga banyak Tabi’in yang singgah kesana untuk memperdalam keilmuannya.
Di Basrah, beliau sangat aktif mengikuti perkuliahannya. Beliau banyak belajar kepada Ibnu Abbas. Dari Ibnu Abbas beliau memperdalam ilmu tafsir, ilmu hadist dan qira’at. Sedangkan ilmu fiqh, bahasa dan sastra didapatkan dari sahabat yang lain. Adapun karya Syaih Hasan al-Basri diantaranya adalah buku tentang tafsir dan risalah tentang jumlah ayat yang berjudul al-‘Adad atau ‘Adad Ayi al-Qur’an al-Karim (Jumlah Ayat-Ayat Al-Qur’an). Risalah-risalahnya ; (1) al-Ihklas (keikhlasan), (2). Risalah Fada’il Makkah wa as-Sakan fih dan (4) risalah Faraid ad-Din.
Para ahli kalam, memandangnya sebagai salah seorang pemuka Muktazilah karena ia berbicara tentang masalah al-Qada wa al-Qadar. Di samping itu, beliau dikenal sebagai ahli fiqih dan tafsir. Keilmuannya dalam dua bidang yang disebut terakhir diakui oleh banyak ulama, antara lain oleh Anas Ibn Malik dan Ja’far as-Sadiq (Imam Mazhab Ja’fari).
Hasan al-Bashri hidup pada zaman dinasti Bani Umayyah. Hasan al-Bashri menjauhkan diri dari kehidupan politik. Beliau tidak mencampuri persoalan yang menyebabkan timbulnya perpecahan umat Islam dan tidak melakukan perlawanan terhadap kezaliman penguasa dengan perbuatan kekerasan. Jalan hidup yang dipilihnya ialah menjauhkan diri dari kehidupan duniawi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pandangan tasawuf Hasan Al-Bashri sebagai berikut, “Takut (khauf) dan pengharapan (raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan ; tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah”. Pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya “
Hasan Basri adalah seorang ulama Tabi’in yang sangat mementingkan kehidupan akhirat. Yang patut kita teladani dari kehidupan Hasan al-Basri adalah kezuhudannya. Hasan al-Basri tidak pernah memerintah, memberikan nasihat dan anjuran sebelum ia sendiri melakukan dengan ketulusan hatinya.
Lebih dari itu Hasan al-Basri adalah orang yang penyabar dan penuh dengan kebijaksanaan. Hasan al-Basri mempunyai seorang tetangga yang beragama nasrani, diatas rumah Hasan al-Basri oleh tetangga tersebut didirikan kamar kecil. Hasan al-Basri menyuruh kepada istinya untuk meletakkan wadah di kamarnya supaya air kencingnya tertampung dan tidak berceceran.
Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq. Pada hari jum’at 5 Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.***
( Yuni )








