Setiap Muslim pasti pernah bersyahadat. Syahadat yaitu membaca kalimat persaksian bahwa Allah SWT merupakanj satu-satunya Illah, tiada sesembahan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW benar sebagai utusan-Nya.
Demikian pentingnya, kalimat tauhid nan agung itu berulang kali meluncur dari lisan beriman. Setidaknya dalam menunaikan sholat, ucapan tersebut wajib diucapkan dalam gerakan tasyahud. Itulah sebabnya, seharusnya syahadat memberi bekas. Termaktub dalam pikiran, ucapan, perilaku, hingga akhlaq. Dan pasti ada tapak yang jelas.
Dulu, Bilal bin Rabah pernah membuktikan dahsyatnya syahadat. Beliau pernah menjadi budak, tampil menjadi manusia produktif, berdaya saing, bahkan unggul dan menembus barisan tokoh-tokoh hebat lainnya. Sahabat yang lain juga demikian. Semua berubah seketika. Menjadi manusia yang mulia sebab syahadat. Pengaruhnya sangat luar biasa dalam kehidupan. Namun, untuk saat ini kekuatan syahadat meredup. Bahkan ada yang merasa kehilangan rasa dahsyat dari syahadat. Bukan karena manfaat dari syahadat tersebut hilang, namun kesadaran umat Islam yang perlahan berubah.
Untuk itu, mari kita sebagai umat Rasulullah, sudah sepantasnya kita meyakini ke-Esaan Allah SWT dan meyakini bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah SWT. Dengan demikian, perlahan kita juga membenahi kehidupan di zaman tua ini.
Sumber: www.hidayatullah.com
( Nisa )










