Sunnah-sunnah di Bulan Syawal Untuk Menjaga Amalan Setelah Ramadhan

Bulan Syawal merupakan bulan hijriah setelah bulan Ramadhan, bulan dimana umat muslim berpuasa selama 30 hari.

Pada bulan Ramadhan ini umat muslim di seluruh dunia berlomba-lomba memperbanyak amalannya karena pahala dari beramal dilipatgandakan.

Akan tetapi setelah bulan Ramadhan usai, kita harus tetap menjaga ibadah dan amalan kita dan tidak meninggalkan ibadah yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan.

Berikut beberapa sunnah yang bisa kita lakukan untuk menjaga amalan kita setelah Ramadhan:

  1. Puasa Selama 6 Hari di Bulan Syawal

Puasa yang sebelumnya menjadi kewajiban di bulan ramadhan menjadi sunnah hukumnya di bulan Syawal, akan tetapi kita tidak boleh berpuasa di tanggal 1 bulan Syawal karena tidak diperbolehkan dalam Islam.

Abu Ayyub Al Anshori pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda :

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” HR. Muslim.

Puasa di bulan Syawal ini boleh dilakukan kapan saja di bulan Syawal dan diperbolehkan tidak berturut-turut.

  1. Menikah

Pernikahan merupakan salah satu hal yang didambakan oleh banyak kalangan muda. Menikah juga merupakan amalan yang akan mendatangkan pahala yang besar apabila semata-mata berniat karena Allah dan siap mengemban tanggung jawab rumah tangga.

Istri Rasulullah SAW, Aisyah RA pernah berkata:

Rasulullah SAW menikahiku saat bulan Syawal dan mengadakan malam pertama dengan aku di bulan Syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian selain aku?.” HR. Muslim, An Nasa’i

Dari hadis diatas dapat disimpulkan bahwa menikah di bulan Syawal merupakan sunnah yang mendatangkan pahala yang besar karena dilakukan oleh Rasulullah SAW dulu.

  1. Mempererat Silaturahmi

Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi umat muslim untuk selalu bersilaturahmi satu sama lain. 

Di bulan Syawal sendiri banyak umat muslim yang merayakan Idul Fitri dengan bertamu ke saudara, keluarga, bahkan orang yang tidak dikenal.

Hal ini bukan semata-mata sebuah kebiasaan saja, namun merupakan sunnah dimana akan mendapat pahala apabila dilakukan;

(Aldnmask)

Artikel yang Direkomendasikan

Abu Darda mempunyai nama lengkap yaitu Uwaimir bin Zaid bin Qais, Abu Darda lahir di Madinah pada 580 Masehi dan meninggal di Damaskus. Sebelum masuk Islam Abu Darda adalah seorang yang menyembah berhala. Kisah keislaman Abu Darda sangat unik, diawali dengan kedatangan Abdullah bin Rawahah dan Muhammad bin Maslamah radhiallahu’anhuma ke rumahnya. Tujuan mereka adalah untuk menghancurkan berhala yang disembah oleh Abu Darda. Ketika Abu Darda mengetahui berhala nya hancur Abu Darda sangat marah. Namun, tiba-tiba Abu Darda tersadar dan mendapat hidayah dari Allah SWT. Dia menyadari berhala itu tak mampu membelanya dan menolongnya dari Abdullah. Lalu Abu Darda pergi menemui Rasullullah, dan ia bersedia masuk islam.