“Anak yang sedang digendong ibu itu kemarin ada di kolong jembatan.” Ucap Riri pada Hesti dengan suara setengah berbisik. Mereka bersembunyi dibalik warung Bu Tinah sembari mengamati Ibu yang baik hati itu. Mereka melihat ibu itu menggendong anak itu dengan penuh kasih sayang.
“Ayo kita samperin ibu itu Ri!” Ajak Hesti pada Riri. Riri pun mengiyakan ajakan Hesti. Dengan sopan mereka mendekati ibu dengan bayi yang sedang digendongnya. Seperti wawancara, mereka berdua bertanya banyak hal mengenai ibu dan bayi yang kemarin berada di kolong jembatan.
Ibu itu bernama Bu Siti. Bu Siti menceritakan bagaimana ia bisa menemukan bayi itu. Dengan belas kasih, Bu Siti membawa bayi yang ia temukan untuk dibawa pulang karena Bu Siti tahu bahwa bayi itu telah dibuang oleh ibu kandungnya. Sungguh tega hati ibu kandung bayi itu.
Semalam bayi itu menangis, mungkin dia kelaparan karena entah berapa lama ia tidak minum susu. Tidak lama kemudian, suami Bu Siti pulang dan langsung membelikan susu bayi dengan uang seadanya.
Rasa bahagia yang Bu siti alami bak menemukan permata diantara padang pasir. Bu Siti dan suaminya berjanji akan merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Sungguh mulia hati Bu Siti dan suaminya. Walaupun umur mereka bisa dibilang sudah agak renta, namun tetap rela hati untuk merawat bayi yang entah dibuang oleh orang tuanya.***
[Nisa]











