Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 7

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1

Kembali ke Istanbul Tawanan Di Istana Sendiri

Pada tahun 1912, seiring dengan kekalahan Utsmaniyah dalam Perang Balkan Pertama, Thessaloniki berada di bawah ancaman pendudukan Yunani. Demi keselamatan Abdul Hamid II dan untuk mencegahnya jatuh ke tangan musuh.

Turki Muda memutuskan untuk memindahkannya kembali ke Istanbul. Pemindahan ini, meskipun kembali ke tanah airnya, bukanlah pembebasan, melainkan hanya perubahan lokasi penjara.

Ia ditempatkan di Istana Beylerbeyi, sebuah istana musim panas yang indah di tepi Bosporus. Sekilas, tempat itu mungkin tampak lebih nyaman. Pemandangan Selat Bosporus yang biru, angin sepoi-sepoi, dan arsitektur megah istana seharusnya menawarkan ketenangan.

Namun, bagi Abdul Hamid II, Beylerbeyi hanyalah sangkar yang lebih besar. Ia tetap seorang tawanan virtual, dengan sedikit atau tanpa kontak dengan dunia luar, dan kebebasannya sangat terbatas.

Di Istana Beylerbeyi, kesendirian Abdul Hamid II semakin mendalam. Ia menyaksikan dari jauh dimulainya Perang Dunia I (1914-1918), sebuah konflik global yang akan menyempurnakan kehancuran Kesultanan Utsmaniyah.

Turki Muda, di bawah kepemimpinan triumvirat Enver Pasha, Talat Pasha, dan Cemal Pasha, memutuskan untuk bergabung dengan Blok Sentral (Jerman dan Kekaisaran Austro-Hungaria). Ini adalah keputusan yang sangat berisiko dan pada akhirnya terbukti fatal bagi imperium.

Sebagai seorang yang cerdas dan berpengalaman dalam diplomasi internasional, Abdul Hamid II kemungkinan besar menyadari bahaya besar dari keterlibatan dalam perang semacam itu. Ia pernah berusaha keras untuk menjaga netralitas Utsmaniyah dalam konflik-konflik Eropa besar sebelumnya.

Baca Juga:

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 6 https://sabilulhuda.org/sultan-terakhir-turki-utsmani-sultan-abdul-hamid-ii-part-6/

Namun, kini ia tidak memiliki suara, tidak memiliki pengaruh. Ia hanya bisa menonton dari balik dinding Istana Beylerbeyi, sementara kekhalifahan yang ia perjuangkan sekuat tenaga untuk diselamatkan kini di ambang kehancuran total.

Setiap kekalahan di medan perang, setiap laporan tentang kelaparan dan penderitaan rakyat, setiap berita tentang genosida Armenia yang dilakukan oleh pemerintahan Turki Muda—semua ini pasti menambah beban kesedihan di hatinya.

Ia adalah seorang Khalifah, pelindung umat Islam, namun kini ia tak berdaya menyaksikan umatnya dan kerajaannya hancur. Ini adalah bentuk pengkhianatan terakhir—bukan lagi terhadap dirinya secara pribadi, melainkan terhadap warisan dan masa depan Kesultanan Utsmaniyah itu sendiri.

Meskipun secara fisik ia berada di Istanbul, di jantung bekas kekaisarannya, secara emosional dan politis ia berada di tempat yang jauh. Kesendiriannya adalah kesendirian seorang nakhoda yang dipaksa meninggalkan kapalnya yang oleng, hanya untuk menyaksikan dari kejauhan ia tenggelam dalam badai yang mematikan.

Akhir Sebuah Masa: Kematian dalam Kesunyian

Pada tanggal 10 Februari 1918, Sultan Abdul Hamid II menghembuskan napas terakhirnya di Istana Beylerbeyi. Ia meninggal dalam usia 75 tahun, setelah sembilan tahun hidup dalam pengasingan dan kesendirian.

Kematiannya, meskipun dilaporkan secara resmi, tidak mengguncang dunia seperti seharusnya kematian seorang sultan. Dunia saat itu sibuk dengan kancah Perang Dunia I yang sedang memuncak. Kekhalifahan Utsmaniyah sendiri sudah berada di ambang kekalahan total.

Kematiannya terjadi hanya beberapa bulan sebelum berakhirnya Perang Dunia I, dan sebelum Kesultanan Utsmaniyah secara resmi dibubarkan. Ironisnya, ia meninggal sebelum harus menyaksikan puncak kehancuran yang ia ramalkan dan coba cegah.

Ia tidak menyaksikan pendudukan Istanbul oleh Sekutu, penghapusan Kesultanan pada tahun 1922, dan pembubaran Kekhalifahan pada tahun 1924 oleh Republik Turki yang baru berdiri di bawah Mustafa Kemal Atatürk.

Sultan Abdul Hamid II dimakamkan di Makam Sultan Mahmud II di Distrik Fatih, Istanbul, di samping kakeknya, Sultan Mahmud II, dan ayahnya, Sultan Abdülmecid I. Sebuah akhir yang sederhana bagi seorang kaisar yang hidupnya penuh gejolak dan berakhir dalam kepedihan.

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 7

Warisan Pahit Dari Sang Khalifah Terakhir

Kisah pengasingan dan kesendirian Sultan Abdul Hamid II adalah sebuah narasi tragis tentang seorang pemimpin yang terjebak dalam pusaran perubahan zaman yang tak terhindarkan. Ia mencintai negerinya dan rakyatnya.

Dan ia percaya bahwa metode otokratisnya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kekaisaran dari kehancuran. Namun, ia menjadi korban dari ideologi baru, ambisi politik, dan kekuatan-kekuatan global yang lebih besar.

Ia adalah seorang visioner yang melihat ancaman dari Barat dan berjuang untuk membangun kembali kekuatan Utsmaniyah. Namun, ia dikhianati oleh generasi muda yang ia harapkan akan meneruskan perjuangannya.

Kesendiriannya di pengasingan adalah cerminan dari kesendirian sebuah imperium yang terasing dari kejayaannya, tergerus oleh waktu, dan akhirnya runtuh di bawah beban internal dan eksternal.

Sultan Abdul Hamid II, sang Ulu Hakan, mengakhiri hidupnya dalam kesunyian, hati yang remuk, menyaksikan impian dan upaya seumur hidupnya untuk menyelamatkan Kekhalifahan Islam kandas di tengah ombak pengkhianatan dan kehancuran.

Kisahnya adalah pengingat pahit akan kerapuhan kekuasaan dan seringkali, nasib tragis para pemimpin di ambang perubahan besar sejarah.

Ia mungkin telah dilupakan oleh sebagian, namun penderitaan dan kesepiannya dalam pengasingan akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi senja merah Kesultanan Utsmaniyah. (Bersambung)

Baca Juga: Sultan Agung

Oleh:Ki Pekathik