Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 2

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 2

Awal Pemerintahan: Harapan dan Realitas Pahit

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 2 – Ketika naik takhta, Abdul Hamid II mewarisi sebuah kekaisaran yang berada di ambang kehancuran. Krisis Balkan memuncak, dengan pemberontakan di Serbia dan Montenegro, serta intervensi dari kekuatan-kekuatan Eropa.

Kas keuangan kekaisaran nyaris kosong, dan hutang luar negeri mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Selain itu, ada tekanan kuat dari para reformis untuk segera mengimplementasikan konstitusi.

Abdul Hamid II memenuhi janjinya. Pada 23 Desember 1876, ia memproklamasikan Konstitusi Utsmaniyah yang pertama, yang dikenal sebagai Kanun-i Esasi.

Era konstitusional pertama di Kekaisaran Utsmaniyah

Ini adalah momen bersejarah yang menandai dimulainya era konstitusional pertama di Kekaisaran Utsmaniyah dan pembukaan parlemen. Dunia berharap Kesultanan Utsmaniyah akan bertransformasi menjadi monarki konstitusional seperti di Eropa.

Namun, harapan ini berumur pendek. Perang Rusia-Turki (1877-1878) pecah tak lama setelah itu, di mana Utsmaniyah mengalami kekalahan telak dan kehilangan wilayah yang luas. Perang ini, bersama dengan krisis internal yang terus-menerus dan apa yang ia lihat sebagai intrik politik para reformis.

Meyakinkan Abdul Hamid bahwa sistem parlementer yang baru terlalu lemah dan tidak efektif untuk menghadapi tantangan besar yang dihadapi kekaisaran. Ia juga merasa bahwa para reformis terlalu condong pada ide-ide Barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Utsmaniyah.

Dalam sebuah langkah yang kontroversial namun ia yakini sebagai kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan kekaisaran. Pada tahun 1878, Abdul Hamid II membubarkan parlemen dan menangguhkan Konstitusi Kanun-i Esasi.

Ia kemudian memerintah secara otokratis selama lebih dari tiga dekade, sebuah periode yang dikenal sebagai era “Istibdad” atau absolutisme.

Dari seorang pangeran yang pendiam dan terpelajar, hingga seorang Sultan yang berjuang sendirian melawan arus sejarah. Perjalanan hidup Abdul Hamid II adalah cerminan dari pergulatan sebuah kekaisaran yang berusaha bertahan di dunia yang berubah dengan cepat.

Pola asuhnya yang menekankan agama, pendidikan modern, dan pengalaman pribadinya di Eropa. Membentuk seorang pemimpin yang sangat sadar akan tantangan zamannya.

Namun juga seorang yang, pada akhirnya, akan dikenang sebagai Sultan yang memegang kemudi Kekhalifahan dalam senja terakhirnya.

Baca Juga:

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1 https://sabilulhuda.org/sultan-terakhir-turki-utsmani-sultan-abdul-hamid-ii-part-1/

Prestasi Gemilang Di Tengah Badai Sultan Abdul Hamid II, Sang “Sultan Agung” Utsmaniyah

Dalam lembaran sejarah Kesultanan Utsmaniyah yang panjang dan penuh gejolak, nama Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) seringkali memicu perdebatan sengit. Ia adalah sosok kontroversial yang dijuluki “Sultan Merah” oleh para penentangnya karena pendekatannya yang otokratis.

Namun di sisi lain, dihormati sebagai “Ulu Hakan” (Sultan Agung) oleh para pendukungnya. Terlepas dari kontroversinya, mustahil untuk menyangkal. Bahwa masa pemerintahannya selama 33 tahun adalah periode krusial.

Di mana ia berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Kekhalifahan Utsmaniyah dari keruntuhan total. Sekaligus meletakkan dasar-dasar modernisasi yang tak terhitung jumlahnya. Artikel ini akan mengulas prestasi terbaik Sultan Abdul Hamid II yang seringkali terabaikan di tengah narasi negatif.

Menunjukkan bagaimana ia, dengan segala keterbatasannya, merupakan salah satu arsitek terpenting dalam upaya penyelamatan “Orang Sakit Eropa” tersebut.

Mempertahankan Kedaulatan Di Tengah Tekanan Eropa

Salah satu prestasi terbesar Abdul Hamid II adalah kemampuannya untuk mempertahankan integritas teritorial dan kedaulatan Kesultanan Utsmaniyah. Di tengah gelombang imperialisme Eropa yang semakin agresif.

Ketika ia naik takhta pada tahun 1876, Kekhalifahan Utsmaniyah telah kehilangan sebagian besar wilayahnya di Balkan. Dan menghadapi tekanan diplomatik serta militer yang luar biasa dari kekuatan-kekuatan Barat.

Seperti Inggris, Prancis, Rusia, dan Austria-Hongaria. Mereka berlomba-lomba memecah belah dan menguasai wilayah-wilayah Utsmaniyah yang kaya sumber daya dan strategis.

Abdul Hamid II mengadopsi strategi “keseimbangan” yang cerdik. Ia tidak sepenuhnya menolak Barat, melainkan memanfaatkan persaingan di antara kekuatan-kekuatan Eropa untuk keuntungan Utsmaniyah.

Ia sering kali bermain kartu satu kekuatan melawan yang lain, memastikan bahwa tidak ada satu pun negara Eropa yang mendapatkan dominasi penuh. Meskipun terjadi beberapa kehilangan wilayah (seperti Siprus ke Inggris, Tunisia ke Prancis, dan Mesir secara de facto ke Inggris).

Ia berhasil mencegah kolaps total yang diprediksi banyak pihak. Ia mempertahankan jantung Kekhalifahan Utsmaniyah—Anatolia, Levant, dan Mesopotamia—sambil terus menegaskan klaim atas wilayah yang masih tersisa.

Kemampuan diplomatiknya, meskipun terkadang terlihat pasif atau hati-hati, sebenarnya merupakan bentuk pertahanan yang efektif dalam menghadapi tekanan global yang masif.

Kebangkitan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Di bawah pemerintahan Abdul Hamid II, sektor pendidikan mengalami reformasi dan perluasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia adalah seorang yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan menyadari bahwa modernisasi tidak akan tercapai tanpa peningkatan kualitas pendidikan rakyatnya.

Meskipun dikenal sebagai seorang konservatif dalam banyak hal, ia adalah seorang progresif dalam visi pendidikannya.

Beberapa pencapaian signifikan dalam pendidikan meliputi:

Pendirian Sekolah-Sekolah Modern:

Abdul Hamid II mendirikan ratusan sekolah baru di seluruh kekaisaran, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ini termasuk sekolah-sekolah sipil, militer, dan kejuruan yang mengajarkan kurikulum modern bersama dengan pendidikan agama.

Jumlah sekolah dasar meningkat drastis, memberikan kesempatan pendidikan bagi lebih banyak rakyat.

Peningkatan Perguruan Tinggi:

Ia sangat mendukung pengembangan pendidikan tinggi. Salah satu puncaknya adalah pendirian Darülfünun (kemudian menjadi Universitas Istanbul) pada tahun 1900. Sebuah institusi pendidikan tinggi komprehensif pertama di Utsmaniyah yang setara dengan universitas-universitas di Eropa.

Ia juga mendirikan sekolah-sekolah khusus seperti Sekolah Hukum, Sekolah Kedokteran, Sekolah Teknik, dan Sekolah Seni Rupa.

Beasiswa dan Pengiriman Pelajar ke Luar Negeri:

Sultan secara aktif mendukung pengiriman pelajar-pelajar Utsmaniyah terbaik ke Eropa untuk menuntut ilmu di berbagai bidang, mulai dari kedokteran, teknik, hingga ilmu militer. Para lulusan ini kemudian kembali dan menjadi tulang punggung upaya modernisasi kekaisaran.

Pendirian Perpustakaan dan Pusat Penelitian:

Ia memerintahkan pembangunan perpustakaan-perpustakaan baru dan mendukung penerjemahan karya-karya ilmiah Barat ke dalam bahasa Turki, memperkaya khazanah intelektual Utsmaniyah.

Melalui upaya-upaya ini, Abdul Hamid II meletakkan dasar bagi sistem pendidikan modern Turki yang akan datang. Menciptakan generasi baru yang terdidik dan siap menghadapi tantangan zaman.

Revolusi Infrastruktur dan Komunikasi

Visi Abdul Hamid II untuk modernisasi tidak hanya berhenti pada pendidikan, tetapi juga meluas ke pembangunan infrastruktur yang vital untuk kekaisaran yang luas.

Ia memahami bahwa komunikasi dan transportasi yang efisien adalah kunci untuk mengintegrasikan wilayah-wilayah yang berbeda dan memfasilitasi administrasi serta perdagangan.

Prestasi terbesar dalam bidang ini adalah:

Jaringan Kereta Api Hijaz:

Ini adalah proyek mercusuar masa pemerintahannya. Meskipun Kekaisaran Utsmaniyah sangat miskin pada saat itu. Sultan menginisiasi dan secara pribadi membiayai sebagian besar pembangunan jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah.

Dengan tujuan utama untuk mempermudah perjalanan ibadah haji bagi umat Muslim dan memperkuat ikatan spiritual antara rakyat dengan Kekhalifahan.

Proyek ini tidak hanya memiliki makna religius yang mendalam tetapi juga dampak ekonomi dan militer yang signifikan, menghubungkan wilayah-wilayah terpencil dan memfasilitasi pergerakan pasukan.

Perluasan Jaringan Telegraf:

Abdul Hamid II sangat mengagumi teknologi telegraf dan berinvestasi besar-besaran dalam perluasan jaringan telegraf di seluruh kekaisaran.

Ini memungkinkan komunikasi yang lebih cepat antara ibu kota dan provinsi-provinsi jauh, meningkatkan efisiensi administrasi dan militer. Jaringan telegraf Utsmaniyah pada masa itu termasuk yang terluas di dunia.

Pembangunan Jalan dan Jembatan:

Ia juga memerintahkan pembangunan dan perbaikan jalan serta jembatan di seluruh wilayah, memfasilitasi perdagangan dan pergerakan penduduk.

Pengembangan Pelabuhan dan Angkatan Laut:

Meskipun seringkali menghadapi keterbatasan anggaran, Sultan juga berupaya memodernisasi angkatan laut Utsmaniyah dan mengembangkan fasilitas pelabuhan untuk mendukung perdagangan maritim.

Proyek-proyek infrastruktur ini, terutama Kereta Api Hijaz, adalah bukti nyata dari tekad Abdul Hamid II untuk membangun kembali kekuatan Utsmaniyah dengan memanfaatkan teknologi modern.

Penguatan Ideologi Pan-Islamisme

Di tengah ancaman nasionalisme etnis yang menggerogoti Kekaisaran Utsmaniyah dari dalam dan imperialisme Barat dari luar, Abdul Hamid II secara aktif mempromosikan ideologi Pan-Islamisme.

Ini adalah upaya strategis untuk menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di bawah panji Khalifah Utsmaniyah, yang saat itu merupakan satu-satunya kekhalifahan Islam yang tersisa.

Prestasi dalam bidang ini meliputi:

Pembaruan Status Khalifah:

Sultan Abdul Hamid II secara tegas dan aktif menggunakan gelarnya sebagai Khalifah seluruh umat Muslim. Ia mengirimkan utusan-utusan ke berbagai belahan dunia Muslim, dari Afrika hingga Asia Tenggara, untuk menyebarkan pesan persatuan Islam dan menegaskan otoritas spiritual Kekhalifahan Utsmaniyah.

Dukungan untuk Gerakan Islam:

Ia mendukung gerakan-gerakan Islam di berbagai negara yang berada di bawah kekuasaan kolonial Barat, meskipun dukungan ini seringkali bersifat simbolis atau moral. Ini memberinya pengaruh dan legitimasi di luar batas-batas kekaisarannya.

Pembangunan Institusi Keagamaan:

Ia mendukung pembangunan masjid, madrasah, dan lembaga-lembaga keagamaan lainnya, serta menyebarkan literatur Islam untuk memperkuat identitas keagamaan di seluruh kekaisaran.

Pemanfaatan Kereta Api Hijaz:

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Kereta Api Hijaz tidak hanya proyek infrastruktur tetapi juga simbol Pan-Islamisme, mempermudah akses ke Dua Kota Suci bagi jutaan Muslim.

Meskipun Pan-Islamisme tidak sepenuhnya mampu menghentikan disintegrasi Kekaisaran. Ia berhasil menyuntikkan semangat persatuan dan identitas Islam yang kuat. Yang terus bergema di dunia Muslim hingga saat ini.

Ini merupakan upaya terakhir untuk menyatukan Kekaisaran yang multietnis di bawah payung agama, memberikan legitimasi baru bagi kepemimpinan Sultan.

Reformasi Administrasi dan Militer

Di bidang administrasi dan militer, Abdul Hamid II juga melakukan reformasi yang signifikan, meskipun seringkali dibayangi oleh sifat otokratis pemerintahannya. Ia berusaha untuk memusatkan kekuasaan dan menciptakan birokrasi yang lebih efisien dan modern.

Baca Juga: Sultan Agung

Modernisasi Angkatan Bersenjata:

Ia sangat menyadari kelemahan militer Utsmaniyah dibandingkan dengan kekuatan Eropa. Oleh karena itu, ia mengundang penasihat militer Jerman, seperti Kolonel Colmar von der Goltz (Goltz Pasha).

Untuk melatih dan memodernisasi tentara Utsmaniyah. Ia berinvestasi dalam persenjataan modern dan memperkenalkan sistem wajib militer yang lebih terorganisir.

Peningkatan Birokrasi:

Sultan berupaya meningkatkan efisiensi birokrasi dengan mereformasi struktur pemerintahan dan memperkenalkan praktik-praktik administrasi modern. Meskipun ia memerintah secara otokratis, ia tetap membutuhkan birokrasi yang efektif untuk mengelola kekaisaran yang besar.

Pengembangan Polisi Rahasia:

Ini adalah aspek kontroversial dari pemerintahannya, namun dari sudut pandang Sultan, ini adalah alat untuk menjaga stabilitas dan menekan oposisi yang dianggap mengancam keberadaan kekaisaran. Meskipun represif, ini berhasil menjaga keamanan internal relatif stabil untuk periode yang cukup lama di tengah gejolak eksternal.

Penutup: Warisan yang Kompleks

Sultan Abdul Hamid II adalah seorang pemimpin yang mewarisi sebuah imperium di ambang kehancuran. Dalam kondisi yang sangat sulit, ia tidak hanya berjuang untuk mempertahankan apa yang tersisa. Tetapi juga berhasil mengimplementasikan reformasi dan pembangunan yang monumental.

Dari sistem pendidikan yang direformasi, jaringan komunikasi dan transportasi yang revolusioner seperti Kereta Api Hijaz. Hingga upaya strategis untuk menyatukan umat Islam melalui Pan-Islamisme, prestasinya jauh melampaui citra negatif yang seringkali dilekatkan padanya.

Ia mungkin adalah seorang otokrat, namun otokrasinya adalah respons terhadap kekacauan dan ancaman eksistensial yang melanda kekaisarannya. Visi dan kerja kerasnya meletakkan dasar bagi banyak aspek Turki modern.

Meskipun ia sendiri akhirnya dilengserkan oleh gelombang perubahan yang tak terbendung. Kisah Abdul Hamid II adalah bukti bahwa bahkan di tengah badai terbesar sekalipun.

Seorang pemimpin yang gigih dapat meninggalkan warisan abadi yang membentuk masa depan. Menjadikannya salah satu Sultan terbesar dalam sejarah Utsmaniyah yang patut dikenang dengan segala kompleksitasnya. (Bersambung)

Oleh: Ki Pekathik