Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II
Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1

Perjalanan Hidup Sultan Abdul Hamid II dari Kelahiran Menuju Kekhalifahan

Sultan Terakhir Turki Utsmani Sultan Abdul Hamid II Part 1 – Sejarah Kesultanan Utsmaniyah adalah tapestry (seni tenun yang menampilkan gambar atau narasi) yang kaya akan kisah-kisah kejayaan, intrik, dan kemunduran. Di antara para sultan yang memimpin kekaisaran megah ini, nama Sultan Abdul Hamid II (berkuasa 1876-1909) seringkali memicu perdebatan sengit dan emosi yang kuat.

Ia adalah sosok kontroversial yang naik takhta di tengah badai perubahan dan berakhir digulingkan. Untuk memahami kompleksitas kepribadian dan kebijakan politiknya, penting untuk menyelami masa-masa awalnya: kelahiran, pendidikan, dan pola asuh yang membentuknya menjadi Khalifah terakhir yang paling signifikan dalam sejarah Utsmaniyah.

Kelahiran Di Tengah Pusaran Perubahan (21 September 1842)

Abdul Hamid II dilahirkan pada tanggal 21 September 1842 (atau 2 Syawal 1258 H) di Istana Topkapı, Istanbul. Ia adalah putra dari Sultan Abdülmecid I, sultan ke-31 Utsmaniyah, dan istri ketiganya, Tirimüjgan Kadın Efendi.

Seorang wanita Kaukasia dengan darah Sirkasia yang dikenal karena kecantikan dan kelembutannya. Kelahiran Abdul Hamid terjadi pada periode Tanzimat, era reformasi besar-besaran yang digagas oleh ayahnya untuk memodernisasi kekaisaran agar setara dengan kekuatan-kekuatan Eropa.

Era ini, meskipun bertujuan baik, seringkali menciptakan ketegangan antara tradisi dan modernitas, antara sentimen Islam dan pengaruh Barat. Lingkungan ini secara tidak langsung akan membentuk pandangan dunia Abdul Hamid di kemudian hari.

Sayangnya, masa kecil Abdul Hamid tidak sepenuhnya bahagia. Ketika ia baru berusia 10 tahun, ibunya, Tirimüjgan Kadın Efendi, meninggal dunia akibat TBC pada tahun 1853. Kematian ibunya meninggalkan luka mendalam pada diri Abdul Hamid muda.

Kehilangan ini sangat mempengaruhi emosinya, menjadikannya seorang yang cenderung introvert dan pemikir. Untungnya, Sultan Abdülmecid I kemudian mempercayakan pengasuhan Abdul Hamid kepada salah satu istri kesayangannya, Perestu Kadın Efendi.

Baca Juga:

Perestu Kadın, yang tidak memiliki anak kandung, membesarkan Abdul Hamid dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri. Hubungan mereka sangat dekat, dan Perestu Kadın tetap menjadi figur ibu yang di hormati Abdul Hamid hingga akhir hayatnya.

Pendidikan Seorang Pangeran Perpaduan Klasik dan Modern

Sebagai seorang pangeran Utsmaniyah, pendidikan Abdul Hamid II sangat komprehensif. Mencerminkan perpaduan antara tradisi kekhalifahan Islam dan pengaruh modernisasi Tanzimat. Pendidikan awalnya dimulai di lingkungan istana. Di bawah bimbingan guru-guru privat yang merupakan ulama terkemuka, ahli bahasa, dan sarjana militer.

Pendidikan Agama:

Ini adalah fondasi utama pendidikannya. Abdul Hamid belajar Al-Qur’an, Hadis, Fiqih (hukum Islam), Tafsir, dan sejarah Islam. Ia di kenal sebagai seorang yang taat beragama sejak muda, sering menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan sangat menghormati nilai-nilai Islam.

Keyakinan agamanya yang kuat akan menjadi pilar utama kebijakannya sebagai sultan, terutama dalam pendekatannya terhadap Pan-Islamisme.

Bahasa:

Ia menguasai beberapa bahasa asing, sebuah keharusan bagi seorang calon penguasa kekaisaran multietnis dan multilingua. Selain bahasa Turki Utsmaniyah, ia fasih berbahasa Arab dan Persia (bahasa-bahasa klasik Islam dan literatur).

Ia juga belajar bahasa Prancis, bahasa diplomatik dan kebudayaan Eropa pada masanya. Pemahamannya tentang bahasa Prancis memungkinkannya membaca literatur dan laporan diplomatik Eropa secara langsung, memberikan wawasan yang lebih dalam tentang pemikiran Barat.

Sejarah dan Geografi:

Abdul Hamid muda dididik secara intensif tentang sejarah Utsmaniyah, sejarah dunia, dan geografi. Ia memahami seluk-beluk wilayah kekaisaran yang luas serta peta politik dunia.

Pengetahuannya tentang sejarah Utsmaniyah memberinya perspektif tentang kemunduran kekaisaran dan kebutuhan untuk mempertahankan wilayah yang tersisa.

Ilmu Militer:

Sebagai pewaris takhta, pendidikan militer adalah bagian tak terpisahkan. Ia belajar strategi militer, taktik perang, dan ilmu persenjataan. Meskipun ia tidak pernah memimpin pasukan di medan perang, ia memiliki pemahaman yang kuat tentang organisasi militer dan pentingnya angkatan bersenjata yang modern.

Musik dan Kesenian:

Abdul Hamid II memiliki minat yang mendalam pada musik. Ia pandai memainkan piano dan sangat menikmati opera, bahkan mengundang komposer dan musisi Eropa ke istana. Ia juga seorang pelukis yang cukup berbakat. Minatnya pada seni menunjukkan sisi sensitif dan estetika dalam dirinya.

Pola Asuh dan Lingkungan yang Membentuknya

Pola asuh Abdul Hamid II adalah kombinasi dari disiplin istana yang ketat dan kehangatan personal dari ibu angkatnya.

Kehilangan ibu kandungnya di usia muda membuatnya mengembangkan kecenderungan untuk berhati-hati dan sedikit tertutup. Namun, kasih sayang Perestu Kadın Efendi memberinya stabilitas emosional.

Lingkungan istana pada masa itu penuh dengan intrik politik dan persaingan antar pangeran dan faksi. Abdülmecid I, ayahnya, adalah seorang reformis yang cenderung boros.

Kehidupan istana yang mewah namun seringkali di warnai dengan gosip dan ketidakpastian politik kemungkinan besar menumbuhkan sifat kewaspadaan dan kecurigaan dalam diri Abdul Hamid.

Setelah kematian ayahnya pada tahun 1861, dan saudaranya, Sultan Abdülaziz naik takhta, Abdul Hamid menjalani masa-masa yang relatif bebas dari tekanan. Abdülaziz, meskipun seorang yang kuat, memiliki preferensi pada gaya hidup yang lebih santai.

Ini memberi Abdul Hamid kesempatan untuk bepergian, sesuatu yang jarang di lakukan oleh pangeran Utsmaniyah. Pada tahun 1867, ia menemani pamannya, Sultan Abdülaziz, dalam perjalanan penting ke Eropa, mengunjungi Paris, London, dan Wina.

Perjalanan ini adalah pengalaman yang sangat formatif bagi Abdul Hamid. Ia menyaksikan langsung kemajuan industri, teknologi, dan militer di Eropa. Ia juga melihat kekuatan dan ambisi imperialis negara-negara Barat.

Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa Kesultanan Utsmaniyah harus modern dan kuat untuk bertahan, namun juga harus waspada terhadap niat terselubung Eropa.

Selama periode ini, Abdul Hamid juga mengembangkan jaringan kontak di kalangan para pejabat dan intelektual. Ia di kenal sebagai seorang yang sangat memperhatikan keuangan kekaisaran, sebuah kontras dengan kemewahan yang seringkali di tunjukkan oleh anggota keluarga kerajaan lainnya.

Ia menginvestasikan uangnya dengan hati-hati dan mengamati dengan cermat masalah ekonomi yang melanda Utsmaniyah. Kecermatannya dalam masalah keuangan ini akan menjadi salah satu ciri khas pemerintahannya.

Baca Juga: Sultan Agung

Jalan Berliku Menuju Takhta

Jalan Abdul Hamid menuju takhta tidaklah mulus. Sultan Abdülaziz, pamannya, di gulingkan pada Mei 1876 dalam sebuah kudeta yang di dalangi oleh Wazir Agung Midhat Pasha dan sekumpulan menteri reformis.

Midhat Pasha adalah tokoh sentral di balik gerakan konstitusional yang menginginkan pembatasan kekuasaan sultan. Setelah Abdülaziz, takhta di duduki oleh Murad V, saudara tiri Abdul Hamid.

Namun, Murad V, yang di kenal lemah dan tidak stabil secara mental, hanya berkuasa selama 93 hari. Kesehatan mentalnya memburuk dengan cepat, dan ia di nyatakan tidak mampu memerintah.

Melihat kekacauan politik dan ketidakmampuan Murad V, para pemimpin kudeta, termasuk Midhat Pasha, mulai mencari alternatif. Mereka mendekati Abdul Hamid, yang di kenal sebagai seorang yang cerdas, taat beragama, dan memiliki pemahaman yang baik tentang masalah-masalah kekaisaran.

Negosiasi pun terjadi. Abdul Hamid, dalam pertemuannya dengan Midhat Pasha, mengindikasikan kesediaannya untuk menerima konstitusi dan mendirikan parlemen jika ia diangkat menjadi Sultan. Para reformis, yang mendambakan era konstitusional, melihatnya sebagai harapan terbaik mereka.

Pada tanggal 31 Agustus 1876, Sultan Murad V secara resmi di lengserkan, dan Pangeran Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Abdul Hamid II. Upacara pelantikan di lakukan dengan khidmat, menandai di mulainya era baru yang penuh tantangan. (Bersambung)

Oleh: Ki Pekathik