Sultan Hamengku Buwono X Buka Suara: PSIM Jogja Boleh Gunakan Stadion Maguwoharjo!

Sultan Hamengku Buwono X Buka Suara: PSIM Jogja Boleh Gunakan Stadion Maguwoharjo!
Sultan Hamengku Buwono X Buka Suara: PSIM Jogja Boleh Gunakan Stadion Maguwoharjo!

Sultan Hamengku Buwono X Buka Suara: PSIM Jogja Boleh Gunakan Stadion Maguwoharjo! – Sebuah angin segar berembus bagi PSIM Yogyakarta dan para penggemarnya! Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan lampu hijau terkait penggunaan Stadion Maguwoharjo di Sleman sebagai kandang PSIM. Kabar ini tentu saja disambut gembira, terutama setelah sebelumnya sempat muncul keraguan dan larangan.

Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa inti dari sebuah stadion adalah fungsinya untuk bertanding.

“Sebelum memenuhi standar fifa Mandala Krida,  Kan enggak ada masalah bisa di sleman”, ucap Sultan.

Beliau meluruskan anggapan bahwa hanya karena posisinya, Stadion Maguwoharjo tidak boleh digunakan oleh PSIM.

Mandala Krida Belum Standar Fifa, Maguwoharjo Jadi Opsi

Pernyataan ini muncul setelah timbul perdebatan sengit mengenai lokasi pertandingan PSIM. Sebelumnya, Stadion Mandala Krida di Kota Yogyakarta, yang merupakan kandang utama PSIM, belum memenuhi standar FIFA.

Hal ini memicu pertanyaan tentang di mana PSIM akan bermarkas. Dengan tegas, Sultan menyatakan, “Yang lain kan tidak belum dianggap memenuhi standar. Dasarnya kan itu aja. Jangan berdasarkan masalah stadion itu posisinya di mana. Enggak ada posisinya.”

Baca Juga:

PSG Bantai Real Madrid 4-0! Taktik Pressing Luis Enrique

PSG Bantai Real Madrid 4-0! Taktik Pressing Luis Enrique https://sabilulhuda.org/psg-bantai-real-madrid-4-0-taktik-pressing-luis-enrique/

Bahkan, Sultan memberikan contoh yang sangat relevan. “Wong yang dari Jakarta aja basecamp-nya di Jogja ya boleh,” katanya, merujuk pada tim-tim luar daerah yang seringkali menjadikan Yogyakarta sebagai markas sementara.

Logika yang sederhana namun menohok ini seolah menampar keras alasan-alasan yang tidak substansial dalam melarang PSIM bermain di Maguwoharjo.

Tanggapan Dari Bupati Sleman

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, turut memberikan tanggapan. Ia mengakui adanya perbedaan pandangan dan friksi antar supporter. Khususnya antara suporter PSIM dan PSS Sleman yang sebelumnya menjadikan Maguwoharjo sebagai kandang.

“Selama ini kan memang ada perbedaan antara suporter PSIM dan suporter PSS. Itu ada gap komunikasilah,” ujar Harda. Namun, ia menekankan pentingnya mencari solusi.

“Saya minta di selesaikan. Cek semua fasilitas stadion, biar tahu persis kalau nanti ada hal yang tidak di inginkan terjadi, dan sebagainya.”

Kekhawatiran akan gesekan antar suporter memang menjadi salah satu batu sandungan utama. Namun, Sultan kembali menyoroti esensi permasalahan.

“Kalau enggak ada jaminan ya saya enggak berani,” tegas Sultan, mengisyaratkan bahwa jaminan keamanan adalah kunci utama. Beliau menambahkan, “Saya akan merekomendasi itu, izin PSIM kalau semuanya sudah clear.”

Ini bukan sekadar izin bermain bola, ini adalah soal hak dan keadilan. Sebuah klub kebanggaan seperti PSIM, yang memiliki sejarah panjang dan basis suporter militant.

Tentu berhak mendapatkan tempat yang layak untuk bertanding. Larangan yang tidak berdasar hanya akan melukai hati para pecinta sepak bola dan menggerus semangat sportivitas.

Pesan dari Sultan Hamengku Buwono X sangat jelas: stadion adalah untuk semua. Sepak bola adalah milik rakyat, dan seharusnya tidak ada sekat-sekat artifisial yang menghalangi.

Ini adalah momentum bagi semua pihak untuk duduk bersama, menyelesaikan perbedaan, dan memastikan bahwa semangat persatuan dan sportivitas selalu menjadi prioritas utama.

Semoga dengan keputusan ini, PSIM dapat kembali berjuang di kandang yang layak, di dukung penuh oleh ribuan suporter setianya, dan membawa nama baik Yogyakarta di kancah sepak bola nasional.

Baca Juga: Tinjau Revitalisasi Stadion Maguwoharjo, Menteri PU: Sudah Sesuai Standar PSSI dan FIFA