Suka Duka Menjadi Santri

Hari ini adalah hari yang cerah, tapi tidak untuk  Laila. Hari ini adalah hari yang berat baginya. Dia terlihat murung karena hari ini ia akan berangkat ke pondok pesantren. Berat baginya jika harus berpisah dari orangtuanya. Namun apa yang bisa ia lakukan, ia tidak tega untuk menolak keinginan orangtuanya. Karena itu juga demi kabaikannya.

Setelah berpamitan dengan keluarganya, Laila segera berangkat walau dengan berat hati. Di perjalanan dia hanya murung, ibunya yang melihat itu segera menasehatinya bahwa di pondok pesantren tidak seburuk apa yang ia pikirkan. Setelah dinasehati oleh ibunya, barula ia merasa sedikit lega.

                                             ***

Setelah sampai di pondok pesantren, Laila dan orangtuanya berbincang-bincang terlebih dahulu kepada pengurus pondok tersebut. Setelah beberapa saat, orangtua Laila pamit kepada pengurus pondok. Lalu  disaat kedua orangtuanya ingin pulang, Laila menangis histeris hingga air matanya hampir habis, tetapi ibunya menenangkannya sekali lagi. Akhirnya Laila ikhlas sepenuh hati ditinggalkan orangtuanya dan setuju untuk tinggal di pondok tersebut.

Beberapa hari kemudian, Laila merenung sendiri dikamarnya karena  masih memikirkan orangtuanya yang ada dirumah. Setelah lama merenung, ada seorang yang peduli kepadanya dengan mendekati dan mengajaknya bicara.

“ngapa si deneng dewekan ? kenang ngapa?” tanya Ayu

“haa?” kata Laila sambil melongo kebingungan

“maksud e nyong, kamu kenapa sendirian, diem-diem bae?”

“aku kangen sama ayah dan ibuku. Aku pengen pulang.”

“awake dewek kabeh kembar kaya ko pada, tapi dewek berusaha betah neng kene. Carane semrawung karo kanca liane. Siki ayuh melu nyong!” kata Ayu dengan logat daerahnya.

Dengan terpaksa Laila berjalan mengikuti Ayu untuk berkumpul dengan santri lainnya. Setelah sampai ke tempat yang dituju, Laila disapa oleh salah satu santri. Namun, ia masih malu dan gugup untuk berbicara dengan santri lainnya. Lama-lama ia terbiasa untuk berbicara dengan santri lainnya dan mulai melupakan masalahnya. Dan mulai detik itu, ia bisa tertawa bahagia, senang, betah untuk tetap tinggal di pondok.

Suka duka yang Laila rasakan selama tinggal di pondok adalah ia bisa hidup mandiri bersama dengan teman-teman barunya, bisa mengerti arti persahabatan lebih dalam, bisa lebih mengenal agama islam. Selain itu ia juga bisa merasakan makan bareng bersama santriwati lainnya. Ia juga menjadi lebih pandai dalam skil berumah tangga, dan banyak teman curhat.

Duka yang Laila rasakan adalah ia harus jauh dari keluarga dan teman-temannya di rumah, apa-apa harus ia lakukan sendiri, terkadang ada teman yang makan teman dan hanya memanfaatkan apa yang ia punya. Tak jarang ada juga yang meng-ghibahnya, ada meng-ghibah karena sifatnya, ada yang karena mereka iri kepada Laila.***

( Arin & Nida )