Sri Sultan HB X Turun Tangan Redam Demo Ricuh Di Polda DIY – Aksi demonstrasi yang sempat memanas di depan Markas Polda DIY akhirnya berhasil diredam setelah Sri Sultan Hamengkubuwono X turun langsung menenangkan massa.
Keberadaan Sultan di tengah kerumunan membuat situasi yang awalnya ricuh berangsur tenang hingga massa bisa membubarkan diri dengan tertib.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan HB X menyampaikan imbauan agar para demonstran tetap menjaga ketertiban dan menghargai hak masyarakat lain.

Ia menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan sebaiknya dilakukan melalui jalur dialog, bukan dengan cara-cara yang bisa memicu bentrokan.
“Harapan saya, mari kita bangun dialog yang berkelanjutan. Kalau ada persoalan, duduk bersama dengan pemerintah pusat maupun daerah. Jangan sampai menggunakan kekerasan,” ujar Sultan di hadapan massa.
Kesepakatan Dengan Polisi, Warga Yang Diamankan Dibebaskan
Sultan juga menyinggung soal adanya beberapa warga yang sempat diamankan polisi. Ia memastikan sudah ada kesepakatan dengan pihak kepolisian agar mereka yang di tahan segera dibebaskan kembali. Hal ini menjadi salah satu poin penting untuk meredakan ketegangan di lapangan.
Tak hanya itu, Sri Sultan HB X juga mengingatkan bahwa aksi yang terlalu larut hingga dini hari hanya akan menambah kelelahan. Ia meminta para demonstran untuk kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat. “Sudah pagi, mari kita pulang, orang tua dan keluarga sudah menunggu di rumah,” tuturnya.
Terkait kerusakan fasilitas umum yang terjadi, Sultan menegaskan perlunya identifikasi lebih lanjut. Ia menyebut bahwa perbaikan bisa di lakukan jika data dan penyebab kerusakan benar-benar jelas.
Baca Juga: Aksi Massa Kian Memanas, Demonstran Berhasil Duduki Polda Metro Jaya dan Pagar Gedung DPR RI
“Kalau dari kepolisian mungkin mudah, tapi kalau dari warga kita harus tanya dulu. Tidak mudah mengidentifikasi tanpa keterangan yang jelas,” ujarnya.
Kehadiran Sultan di lokasi demo menjadi kunci meredam suasana panas. Massa yang semula terus meneriakkan yel-yel akhirnya memilih untuk duduk, mendengarkan arahan, lalu perlahan membubarkan diri.
Tepuk tangan pun terdengar beberapa kali sebagai tanda apresiasi terhadap upaya Sultan yang menenangkan keadaan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendekatan humanis dan dialog terbuka tetap menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik. Dengan turun langsung ke lapangan, Sri Sultan HB X berhasil menjadi penengah antara masyarakat dan aparat, sehingga situasi bisa di kendalikan tanpa kekerasan.













