by bambang oeban
Kami berdiri di antara dua zaman—satu di tahun seribu sembilan ratus dua puluh delapan, ketika api nasionalisme menyalakan dada-dada muda yang berani menantang penjajahan, yang menyatukan bahasa, tanah air, dan bangsa dalam tiga ikrar sakral yang mengguncang dunia.
Zaman itu—pemuda-pemuda berpeluh, bukan berpose, berdebat di ruang sempit, bukan di layar ponsel, berjuang dengan pena, bukan dengan meme, berkorban demi persatuan, bukan popularitas. Mereka bersumpah tanpa panggung megah, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan, tanpa sponsor, tanpa selebritas. Mereka hanya punya tekad dan cinta, cinta pada Indonesia yang belum merdeka.
Dan kini, hampir seabad berlalu, kami menyaksikan generasi yang katanya penerus, berpesta di hari yang sama—namun ruhnya entah ke mana.
Sumpah Pemuda 2025 bergaung di gedung ber-AC, dengan baliho dan lampu warna-warni, sementara di luar sana, petani masih menunduk di lumpur, nelayan masih menatap laut yang dicuri kapal asing, dan guru honorer masih menghitung receh di dompetnya.
Pemuda Digital dan Nasionalisme yang Terlupa
Pemuda hari ini, sering kali bersumpah di media sosial, mengetikkan kata “NKRI harga mati” dari kafe ber-WiFi cepat, sambil menertawakan yang miskin, sambil mencibir yang kalah, sambil membanggakan diri sebagai “nasionalis digital”.
Oh, betapa jauh jarak makna antara dua sumpah itu. Yang dulu lahir dari penderitaan, yang kini tumbuh di atas kemewahan semu. Yang dulu berakar dari derita rakyat, yang kini berputar di sirkuit popularitas. Yang dulu diucapkan dengan darah dan air mata, yang kini ditulis dengan filter dan caption puitis.
Baca Juga:

DARI RAKYAT UNTUK WAKIL RAKYAT INDONESIA https://sabilulhuda.org/dari-rakyat-untuk-wakil-rakyat-indonesia/
Apakah ini kemajuan, atau kemunduran dengan pakaian modernitas? Kami rindu pada pemuda yang mencangkul sawah bersama rakyat, bukan hanya mengunggah potret peduli dari layar kaca. Kami rindu pada pemuda yang menulis manifesto di bawah peluru, bukan manifesto politik di bawah bayang-bayang partai.
Kami rindu pada api—bukan lampu panggung. Kami rindu pada jiwa—bukan slogan. Kami rindu pada keberanian yang diam, bukan keberisikan yang kosong.
Dari Api ke Lampu Panggung
Sumpah Pemuda 1928—adalah janji untuk bersatu,menegakkan satu bahasa, satu tanah air, satu bangsa. Tapi lihatlah kini, bahasa kita retak oleh kebencian, tanah air kita dijual oleh kepentingan, bangsa kita terbelah oleh politik kebodohan.
Di jalanan, orang berteriak demi kebenaran yang mereka yakini, tapi menutup telinga untuk kebenaran orang lain. Di layar kaca, para pemimpin muda berdebat tentang siapa paling cinta bangsa, tapi melupakan siapa yang paling membutuhkan bangsa ini: rakyat kecil, yang lapar bukan karena malas, tapi karena sistemnya bengkok.
Bangkitlah dari Ilusi Modernitas!
Oh, Sumpah Pemuda 2025, kau telah kehilangan makna perjuanganmu. Kau dijadikan tema lomba pidato, tema iklan, tema upacara. Tapi bukan lagi napas kehidupan. Anak muda berteriak:
“Kami cinta Indonesia!” namun tak malu buang sampah ke sungai, korupsi waktu kerja, mencontek demi nilai, berkata bohong demi konten. Apakah ini bentuk baru nasionalisme? Apakah cinta tanah air berarti hanya mengibarkan bendera tanpa pernah menegakkan kejujuran? Apakah semangat pemuda hanya sebatas lagu dan sorakan, tanpa tindakan dan pengorbanan?
Lihatlah mereka yang menyebut diri pejuang medsos, berperang dengan jari, bukan dengan nurani. Berteriak soal keadilan, tapi menindas di kolom komentar. Berbicara tentang keberagaman, tapi menolak perbedaan di depan mata. Sumpah Pemuda dulu menyatukan, Sumpah Pemuda kini sering memisahkan. Yang dulu menghapus suku dan agama, yang kini mempertebal sekat dan kebencian.

FILM GETIR IRENG TERBIT PASKA NEGERI TERSULUT RUSUH MEMBARA https://sabilulhuda.org/film-getir-ireng-terbit-paska-negeri-tersulut-rusuh-membara/
Menemukan Kembali Makna Sumpah Pemuda
Wahai anak muda negeri ini, apakah kau sadar bahwa perjuangan belum selesai? Bahwa kemerdekaan bukan berarti kebebasan berbuat sesuka hati? Bahwa nasionalisme bukan hanya soal bendera dan lagu, tapi juga soal kejujuran, kerja keras, dan cinta tanpa pamrih?
Bangkitlah dari ilusi digitalmu!Bangunlah kembali semangat Soegondo, Yamin, dan Wahidin Sudirohusodo! Bangunlah kembali keberanian yang lahir dari rasa malu— malu menjadi bangsa yang korup, malu menjadi pemuda yang apatis, malu menjadi rakyat yang hanya mengeluh tapi tak berbuat.
Lihatlah wajah petani tua di desa—itulah wajah Indonesia sesungguhnya. Lihatlah nelayan yang masih berdoa di tengah badai—itulah iman bangsa ini. Lihatlah ibu guru di pedalaman—itulah pahlawan yang tak berseragam. Dan tanyakan pada diri sendiri: apakah engkau masih pantas disebut pewaris Sumpah Pemuda?
Sumpah Baru Pemuda Indonesia 2025
1928 mengajarkan: bahwa persatuan bukan hadiah, tapi perjuangan. bahwa kebangsaan bukan warisan, tapi tanggung jawab. bahwa bahasa Indonesia bukan alat bicara, tapi alat menyatukan jiwa.
2025 seharusnya menjadi kelanjutan semangat itu, bukan kuburan nilai-nilai luhur. Tapi apa yang kita lihat? Pemuda yang mudah menyerah, yang terjebak pada gaya hidup konsumtif, yang lebih bangga menjadi viral daripada berbakti. Padahal darah para pendahulu belum kering di tanah ini, padahal perjuangan belum usai— karena penjajahan belum hilang, hanya berganti wajah: penjajahan ekonomi, penjajahan pikiran, penjajahan moral, penjajahan oleh keserakahan sendiri.
Wahai pemuda!
Bangkitlah sebelum terlambat Kembalikan makna Sumpah Pemuda ke dalam nadi kehidupanmu! Jadilah pembela keadilan, bukan penyebar kebencian. Jadilah pencipta karya, bukan peniru kemunafikan. Jadilah pemimpin hati, bukan budak popularitas. Jangan biarkan bangsa ini kehilangan arah, karena pemudanya kehilangan cita-cita. Jangan biarkan merah putih tinggal di bendera, tapi padam di dada. Karena bila semangat itu mati, Indonesia akan tinggal nama. Dan Sumpah Pemuda akan jadi cerita, bukan lagi cahaya.
Maka hari ini, di tahun dua ribu dua puluh lima, kami menulis sumpah baru: Kami bersumpah, bukan hanya mencintai Indonesia, tapi memperbaikinya. Bukan hanya berbicara tentang persatuan, tapi menjaganya dari kebencian. Bukan hanya mengenang para pahlawan, tapi melanjutkan perjuangannya. Kami bersumpah, tidak akan menjadi generasi yang malas berpikir, tidak akan tunduk pada kenyamanan, tidak akan diam pada ketidakadilan.
Kami bersumpah, bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan, tapi panggilan nurani—untuk kembali menjadi manusia Indonesia yang jujur, berani, dan berjiwa merdeka.
Wahai para pemuda bangsa, jadikan 1928 bukan nostalgia, tapi nyala yang terus membakar masa depan. Sebab bangsa besar bukan diukur dari jumlah penduduknya, tetapi dari semangat pemudanya. Dan bila engkau bertanya, apa bedanya Sumpah Pemuda 1928 dan 2025? Maka jawabannya ada pada dirimu sendiri: apakah engkau hanya penonton sejarah, atau penulis babak baru Indonesia?
Baca Juga: Kemhan Gelar Upacara Peringati Hari Sumpah Pemuda ke – 96
Bangunlah, pemuda Indonesia!Bangkitkan kembali sumpahmu! Sumpah yang bukan sekadar kata, tapi perbuatan nyata. Karena negeri ini menunggu—bukan sekadar mereka yang pandai berbicara, tapi mereka yang berani berbuat.
Dari Timur Bekasi,
Selasa, 21 Oktober 2025
06.57













