SIRAH TABI’IN : SALAMAH BIN DINAR DAN KHALIFAH SULAIMAN BIN ABDUL MALIK

Rabu, 29 Juni 2011 02:55 Taufiq Nurhayadi E-mail Cetak PDF

Pada Tahun 97 H, Khalifah Muslimin Sulaiman bin Abdul Malik (khalifah sebelum Umar bin Abdul Aziz, beliau kemudian berwasiat untuk mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, bukan anak-anaknya) menempuh perjalanan ke negeri-negeri yang disucikan, memenuhi panggilan bapak para nabi, Nabi Ibrahim AS. Iring-iringan bergerak cepat dari Damaskus, ibukota kekhalifahan Muawiyah, menuju Madinah Al – Munawarah.
*****
Usai melayani orang-orang yang menyambutnya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada orang-orang dekatnya, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang membersihkan karatnya”
Mereka menjawab, “Benar wahai Amirul Mukminin”
Kemudian Khalifah bertanya “Tidak adakah di Madinah ini seseorang yang bisa menasihati kita. Seseorang yang pernah berjumpa dengan para Sahabat Rasulullah?”
“Ada wahai Amirul Mukminin, di sini ada Abu Hazim Al-A’raj” jawab pembantunya “ Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendikia dan imam di Kota Madinah. Beliau termasuk salah satu tabi’in yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat senior”
Khalifah berkata “Kalau begitu tolong panggilkan dia”

*****
Singkat kata Abu Hazim datang menghadap Sang Khalifah.
Berikut ini petikan dialog Sang Khalifah dengan sang ‘Ulama.

Khalifah : “Dalam benakku ada beberapa masalah penting yang ingin aku utarakan kepadamu wahai Abu Hazim”
Abu Hazim : “Katakanlah wahai Amirul Mukminin, Allah tempat memohon pertolongan”
*****
Khalifah : “Mengapa kita membenci kematian?”
Abu Hazim : ”Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya kita tidak suka untuk melepaskan kemakmuran menuju kehancuran”
*****
Khalifah : “Engkau benar wahai Abu Hazim. Lalu apa bagian kita di sisi Allah kelak?”
Abu Hazim : “Bandingkan amalan anda dengan Kitabullah, niscaya anda akan mengetahuinya.
Khalifah : “Di ayat mana aku dapat menemukannya?”
Abu Hazim : “Di Surah Al Infithar 82 : 13 – 14
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan (13)
Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka (14)
*****
Khalifah : “ Kalau begitu di manakah rahmat Allah?”
Abu Hazim : “Al A’raaf 7 : 56
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (56)
*****
Khalifah : “Lalu bagaimana kelak kita akan menghadap Allah?”
Abu Hazim : “Orang yang baik akan kembali seperti perantau yang kembali kepada keluarganya. Sedangkan orang jahat akan datang seperti budak yang lari dari majikannya lalu diseret kepada majikannya dengan kejam”
Sampai di sini khalifah terdengar menangis dengan pilu.
*****
Khalifah : “Kemudian bagaimana cara memperbaiki diri?”
Abu Hazim : “Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru’ah (menjaga kehormatan)”
*****
Khalifah : “Bagaimana berlaku dengan harta ini?”
Abu Hazim : “Dengan mengambil dengan cara yang benar, meletakkan di tempat yang benar, dan membagi merata dan berlaku adil terhadap umat”
*****
Khalifah : “Sampaikanlah hajatmu kepadaku wahai Abu Hazim”
Abu Hazim : “Hajatku adalah selamat dari api neraka dan masuk surga”
Khalifah : “Itu bukan kekuasaan Kami”
Abu Hazim : “Aku tidak punya keperluan selain dari itu Wahai Amirul Muminin”

(Dari Kitab Shuwar Min Hayati At Tabi’in)

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 29 Juni 2011 03:15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *