Setelah engkau tiada

Akhir-akhir ini terasa hampa bagi Nanda untuk menjalani hari-harinya. Tidak ada lagi saudara yang menghiburnya ketika ia susah. Saudara Nanda meninggal seminggu yang lalu. Walaupun hanya sepupu, namun Nanda sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Setiap harinya Nanda selalu bermain bersama sepupunya itu. Oh iya, sepupu Nanda bernama Lala.

Selisih usia mereka terbilang cukup jauh, Nanda yang berusia lima belas tahun dan Lala yang berusia delapan tahun. Dengan meninggalnya Lala, Nanda sangat merasa kehilangan sesosok anak yang biasa menghiburnya. Walaupun tamu di rumah tantenya sudah jarang, namun Nanda tetap enggan meninggalkan rumah tantenya. Ia merasa jika Lala masih di rumahnya.

Sudah beberapa kali ibu Nanda membujuk agar dia kembali di rumahnya, namun Nanda masih keras kepala untuk tetap tinggal dirumah tantenya. Ia ingin kembali ke rumahnya setelah sebulan meninggalnya Lala, ia ingin menemani tantenya yang kehilangan anak semata wayangnya.

Nanda mengingat peristiwa lucu saat brsama Lala. Salah satunya adalah ketika mereka belajar bermain sepeda. Ketita itu, Lala sempat terjungkal karena Lala melewati jalan berpasir. Namun, Lala tidak menangis tetapi malah tertawa terbahak-bahak. Tidak dirasakan oleh Lala walaupun lututnya ada yang luka. Momen seperti itu yang membuat Nanda merindu pada Lala. ***

( NISA )