SEPULUH RAKYAT BERGAJI MATI DI TANGAN RAKYAT, KATANYA!

Karikatur satir pemakaman sepuluh polisi dengan peti mati berjajar, keluarga menangis, rakyat memikul beban pajak, sementara para pejabat berpesta uang di meja rapat.
Ilustrasi kritis yang menggambarkan ironi sosial-politik: polisi gugur dimakamkan dengan upacara, keluarga menangis, rakyat terbebani pajak dan penderitaan, sedangkan para pejabat bersenang-senang dengan uang rakyat.

By Bambang Oeban

SEPULUH RAKYAT BERGAJI MATI DI TANGAN RAKYAT, KATANYA! – Bunga-bunga bertaburan di pemakaman, sepuluh polisi gugur di jalan negara, bukan karena cinta, bukan pula karena doa rakyat jelata, tetapi karena seragam dan tanda pangkat yang dibayar lunas oleh kas negara.

Mereka bukan pahlawan tanpa tanda jasa, mereka hanyalah abdi tugas—yang digaji, dipelihara, untuk menjaga hukum yang sering dipermainkan kepentingan kuasa.

Oh, betapa sedih negeri ini, ketika darah tumpah jadi angka statistik, jenazah dibungkus bendera, sementara rakyat bertanya:

Karikatur satir pemakaman sepuluh polisi dengan peti mati berjajar, keluarga menangis, rakyat memikul beban pajak, sementara para pejabat berpesta uang di meja rapat.
Ilustrasi kritis yang menggambarkan ironi sosial-politik: polisi gugur dimakamkan dengan upacara, keluarga menangis, rakyat terbebani pajak dan penderitaan, sedangkan para pejabat bersenang-senang dengan uang rakyat.

“Apakah mereka mati demi kami, atau demi perintah yang tak bisa ditolak lagi?” Sepuluh polisi, sepuluh nyawa, sepuluh cerita keluarga yang hancur tanpa sisa.

Namun negeri tetap melaju, dengan pesta politik, dengan pesta janji, dan rakyat kecil masih harus membayar setiap tetes keringat, setiap detak pajak, yang bahkan menanggung upacara kematian mereka.

Mereka saudara kita, iya—tapi saudara yang berbeda takdir:

menjalankan tugas karena digaji negara, sementara kita rakyat, tetap berjuang karena digaji derita.

Sepuluh polisi mati di jalan, dikafani protokol, ditaburi upacara. Negara berduka—atau pura-pura? Karena esok lusa, kursi kuasa tetap berisi tawa. Mereka bilang: “Mati syahid dalam tugas negara.”

Baca Juga:

Tapi siapa negara itu?

Negara bukan ibu pertiwi, negara adalah meja rapat penuh amplop basi. Sepuluh polisi hanyalah bidak, ditumbalkan untuk menutup retak, sementara tuan-tuan besar tetap asyik menghisap anggur kekuasaan, dan rakyat hanya bisa menonton drama kematian yang diulang tahun ke tahun.

Sepuluh polisi gugur di antara para demonstran, sepuluh istri menangis di ambang pintu, sepuluh anak kehilangan pelukan, sepuluh orang tua tak lagi menunggu kepulangan.

Mereka bukan malaikat, mereka juga bukan setan, hanya manusia berseragam, menjalankan tugas yang terkadang absurd, karena garis komando lebih keras daripada nurani.

Mereka mati, bukan hanya karena gaji negara, tetapi karena takdir yang menyalip langkah, dan karena negeri ini terlalu sering memelihara kematian sebagai berita biasa.

Sepuluh polisi gugur di jalan, bukan sekadar angka, bukan sekadar seragam, tetapi tanda tanya besar untuk negeri: apakah kita rela terus menukar nyawa dengan kebijakan yang tak pernah bijak? Kematian mereka seharusnya menjadi cermin, bahwa kekuasaan tanpa nurani hanyalah mesin, dan tugas tanpa hati hanyalah beban.

Wahai bangsa, jangan biarkan darah jadi tontonan, jangan biarkan air mata jadi upacara seremonial semata. Belajarlah dari duka ini: hormati hidup sebelum menghormati kematian, jadikan tugas bukan sekadar gaji, jadikan pengabdian bukan sekadar formalitas, dan jadikan negeri ini tempat di mana rakyat dan aparat tidak lagi saling menagih, tetapi saling menjaga kehidupan.

Bukan Manusia Yang Membuat Kerusuhan, Cacat, Luka dan Kematian, Kecuali Mereka Para Penguasa Berjiwa Syetan

Desa Singasari

Senin, 08 Sept 2025

00.36