Sejarah Berdirinya NU Dan Hubungannya dengan Muhammadiyah

Sejarah Berdirinya NU Dan Hubungannya dengan Muhammadiyah
Sejarah Berdirinya NU Dan Hubungannya dengan Muhammadiyah
Sejarah Berdirinya NU Dan Hubungannya dengan Muhammadiyah
Sejarah Berdirinya NU Dan Hubungannya dengan Muhammadiyah

Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama dan Hubungannya dengan Muhammadiyah – Tanggal 31 Januari 1926 menjadi momen penting dalam sejarah umat Islam di Indonesia. Pada hari itulah, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan organisasi Islam yang dikenal dengan nama Nahdlatul Ulama (NU).

Kehadiran NU tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan panjang para ulama Nusantara serta dinamika dakwah Islam di tanah air. Termasuk juga keberadaan Muhammadiyah yang lebih dahulu lahir pada tahun 1912 melalui KH. Ahmad Dahlan.

Di dalam artikel  ini kami akan mengulas latar belakang berdirinya NU. Kemudian hubungan historis antara KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Serta garis keturunan kedua tokoh tersebut yang ternyata bersatu di sosok yang bernama Maulana Ishaq.

Muhammadiyah Lebih Dahulu Berdiri

Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912, empat belas tahun sebelum NU lahir. Organisasi ini di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan (nama kecilnya Muhammad Darwis), seorang ulama yang dikenal suka menerapkan ajaran Islam secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

KH. Ahmad Dahlan terinspirasi dari pemahamannya terhadap surat Al-Ma’un. Ia tidak hanya menafsirkan ayat tersebut, tetapi langsung mempraktikkannya dalam bentuk nyata.

Mulai dari membantu fakir miskin, mendirikan rumah sakit, pesantren, sekolah, hingga berbagai lembaga sosial yang manfaatnya terasa hingga kini.

Baca Juga:

KH. Hasyim Asy’ari! Pendiri Nahdlatul Ulama Dan Benteng Islam Nusantara

KH. Hasyim Asy’ari! Pendiri Nahdlatul Ulama Dan Benteng Islam Nusantara https://sabilulhuda.org/kh-hasyim-asyari-pendiri-nahdlatul-ulama-dan-benteng-islam-nusantara/

KH. Hasyim Asy’ari Sebagai Pelopor Gagasan Lahirnya NU

Di sisi lain, KH. Hasyim Asy’ari lebih dikenal sebagai sosok ulama yang tekun menulis dan menyusun pemikiran keislaman dalam bentuk kitab. Sepanjang hidupnya, beliau menulis tidak kurang dari 19 kitab.

Ketika KH. Ahmad Dahlan wafat pada tahun 1924. KH. Hasyim Asy’ari merasa dunia Islam di Nusantara membutuhkan wadah besar yang menghimpun para ulama tradisional untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Hal ini semakin penting mengingat perubahan sosial yang terjadi kala itu cukup cepat, dengan seiring masuknya pemikiran-pemikiran modern.

Dua tahun setelah wafatnya KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 di Surabaya. NU menjadi wadah perjuangan ulama sekaligus benteng tradisi keislaman yang berakar kuat di masyarakat.

Berguru Pada Ulama Yang Sama

Menariknya, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan sebenarnya memiliki latar belakang pendidikan yang saling berkaitan. Keduanya pernah belajar pada guru yang sama di Semarang, yaitu Kyai Soleh Darat.

Selain itu, keduanya juga menimba ilmu di Mekkah kepada seorang ulama besar bernama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (sering juga disebut Ahmad Khatib Sambasi).

Meskipun sama-sama belajar di tempat dan guru yang serupa, keduanya memiliki karakter dan gaya dakwah yang berbeda.

KH. Ahmad Dahlan lebih menekankan pada praktik nyata dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari memilih memperkuat pondasi ilmu melalui tulisan dan kajian kitab. Perbedaan inilah yang membuat keduanya memberi warna tersendiri dalam perkembangan Islam di Indonesia.

Satu Garis Keturunan Di Maulana Ishaq

Tak banyak yang tahu bahwa KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari sebenarnya memiliki garis keturunan yang sama. yaitu melalui sosok Maulana Ishaq, seorang wali besar keturunan dari Ahmad Jumadil Kubro.

Nasab KH. Hasyim Asy’ari: Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim (Pangeran Benawa atau Sultan Hadiwijaya/Joko Tingkir) bin Abdullah bin Abdul Fattah bin Abdurrahman, yang nasabnya bersambung ke Sunan Giri dan Maulana Ishaq.

Nasab KH. Ahmad Dahlan: Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman bin Murtado bin Temanggung Jurang yang juga bersambung ke Maulana Ishaq.

Dengan demikian, kedua tokoh besar ini ternyata masih satu jalur keturunan. Bedanya, Maulana Ishaq memiliki dua garis keturunan: satu berkembang di Nusantara, satu lagi di Mesir. Dari jalur Nusantara inilah lahir KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Baca Juga:

KH. Ahmad Dahlan! Pelopor Pencerahan Islam Dan Pendiri Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan! Pelopor Pencerahan Islam Dan Pendiri Muhammadiyah https://sabilulhuda.org/kh-ahmad-dahlan-pelopor-pencerahan-islam-dan-pendiri-muhammadiyah/

Dua Tokoh Tetapi Satu Tujuan

Walau berbeda metode, baik KH. Ahmad Dahlan maupun KH. Hasyim Asy’ari memiliki tujuan yang sama. Yaitu membangkitkan umat Islam agar semakin kuat dalam iman, ilmu, dan amal. Muhammadiyah menekankan pada modernisasi dan amal nyata. Sedangkan NU menjaga tradisi Islam yang telah berakar di masyarakat sambil memperkuat jaringan ulama.

Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan Islam di Indonesia. Hingga kini, Muhammadiyah dan NU tetap menjadi dua ormas Islam terbesar yang berperan penting dalam menjaga persatuan bangsa dan menebar manfaat bagi umat.

Berdirinya NU pada 31 Januari 1926 oleh KH. Hasyim Asy’ari tidak bisa dilepaskan dari peran dan inspirasi KH. Ahmad Dahlan yang lebih dahulu mendirikan Muhammadiyah. Keduanya sama-sama cucu keturunan Maulana Ishaq dan pernah berguru pada ulama yang sama.

Bedanya, KH. Ahmad Dahlan dikenal dengan amal nyata yang langsung dirasakan masyarakat. Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari memperkuat dakwah melalui kitab dan jaringan ulama.

Hingga kini, warisan keduanya tetap hidup, menjadi pondasi kokoh bagi umat Islam di Indonesia.

Baca Juga: Kementerian Agama dan Bung Hatta (Jejak Sejarah Tokoh Bangsa)