
Segudang Kepintaran Kalah oleh Segenggam Kekuasaan? Ini Penjelasannya – Dalam sebuah pernyataan yang cukup menggugah perhatian publik, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Menteri Hukum dan HAM, menyampaikan kalimat yang cukup tajam:
“Segudang kepintaran itu tidak ada artinya jika di bandingkan dengan segenggam kekuasaan.”
Ungkapan ini seakan akan menjadi tamparan keras bagi kita semua, terutama para cendekiawan dan kaum intelektual. Bukan berarti kecerdasan itu tidak penting, tetapi di dalam dunia nyata, kekuasaan seringkali menjadi penentu arah dan nasib dari sebuah bangsa.
Sebanyak apapun ide dan pengetahuan yang di miliki oleh seseorang. Jika tidak berada dalam posisi strategis, maka semua itu tidak akan berdampak apa-apa terhadap kekuasaan.
Kekuasaan vs Kepintaran Siapa yang Menentukan?
Kita tentu tidak ingin meremehkan pentingnya ilmu pengetahuan. Namun di era sekarang ini faktanya, kekuasaan dapat memiliki efek langsung terhadap kehidupan masyarakat. Dengan kekuasaan, seseorang bisa membuat kebijakan, mengontrol sumber daya. Bahkan dapat menentukan apa yang benar dan salah menurut hukum.
Baca Juga:

Pejabat Goyang TikTok Di Tengah Derita Rakyat https://sabilulhuda.org/pejabat-goyang-tiktok-di-tengah-derita-rakyat/
Sebaliknya, orang yang hanya cerdas tanpa kuasa sering kali hanya bisa menjadi penonton. Gagasan-gagasan hebat bisa saja di kubur, di remehkan. Atau bahkan di salahgunakan jika tidak mendapat dukungan dari kekuasaan yang bijak.
Pelajaran Dari Sejarah Rezim Yang Anti Intelektual
Salah satu contoh tragis dari kekuasaan yang salah arah dapat kita lihat dari rezim Khmer Merah di Kamboja. Pada saat itu kamboja di bawah kepemimpinan Pol Pot ( seorang politikus dan revolusioner Kamboja).
Segala bentuk tentang ilmu pengetahuan dan kecerdasan bisa dianggap sebagai ancaman. Para guru, dokter, bahkan orang yang memakai kacamata pun juga dianggap “terlalu pintar” dan meraka semua dibunuh.
Hasilnya? Negara menjadi porak-poranda. Jutaan nyawa manusia melayang. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya peradaban di negara tersebut, justru di padamkan oleh kekuasaan yang buta.
Kekuatan Di Tangan yang Tepat
Oleh karena itu, maka memilih pemimpin bukan hanya soal popularitas, tetapi juga soal integritas dan visi suatu negara. Seorang pemimpin yang ideal adalah mereka yang tidak hanya memiliki kekuasaan, tapi juga dapat menghargai ilmu, mencintai rakyat, dan berani menegakkan keadilan.
Ketika kekuasaan dan kepintaran manjadi satu dalam diri pribadi seseorang, maka akan melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa perubahan sejati. Maka penting sekali bagi kita yang nanya sebagai rakyat biasa. Untuk sadar politik dan berpikir kritis dalam memilih, agar segenggam kekuasaan tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah.
Kita boleh cerdas, kita boleh pintar. Tapi jika kecerdasan dan kepintaran itu tidak ikut terlibat dalam menentukan arah kekuasaan, semua itu bisa menjadi sia-sia.
Mari pastikan, segenggam kekuasaan yang ada di gunakan oleh orang yang benar agar kepintaran bisa benar-benar membawa manfaat bagi bangsa.













