Salahkah Aku Bermimpi

Disebuah keluarga yang kurang mampu, Dila selalu berusaha menyabarkan diri atas semua mimpi yang terpendam sejak ia kecil. Hingga kini, mimpi itu masih melekat kuat dalam benaknya. Ia ingin bisa sekolah setinggi mungkin untuk meraih mimpi tersebut. Namun, apa daya jika uang menjadi segala-galanya. Ia pun hanya bisa meratapi nasibnya.

Saat ini, Dila telah menyelesaikan sekolah dasarnya. Bahkan bisa di bilang sudah hampir satu tahun yang lalu ia lulus SD. Ya, Dila tidak bisa meneruskan sekolahnya lantaran biaya pendidikan yang semakin melangit. Padahal Dila sendiri adalah anak yang rajin, pandai dan ulet dalam memahami maupun mempraktikkan pelajaran. Mau bagaimana lagi, ia masih memiliki dua adik yang baru masuk sekolah. Ia tak tega jika melihat kedua adiknya itu tidak bersekolah lantaran keegoisannya. Maka Dila hanya bisa pasrah dan menerima apa yang sudah seharusnya ia lakukan.

Hari-hari Dila, banyak digunakan untuk membantu pekerjaan kedua orang tuanya. Pagi, membantu ibunya mempersiapkan masakan dan membantu adik-adiknya bersiap ke sekolah. Siangnya, Dila pergi ke warung yang tak jauh dari rumahnya untuk melayani pembeli. Sorenya, Dila ke ladang membantu bapak menyiram tanaman. Sedangkan malam hari selepas menyelesaikan tugas rumah, Dila gunakan untuk membantu adoknya belajar. Kadang, ia pun menyempatkan diri untuk membaca buku-buku bekas milik temannya yang sudah tidak dibutuhkan.

Malam itu, Dila tengah melamunkan diri di halaman depan rumahnya sembari menatap bulan yang bersinar indah. ‘andai aku bisa melanjutkan sekolah setinggi mungkin…. Jadi seorang sarjana, menjadi seorang guru, membahagiakan bapak ibu….’ hingga tak sadar, Dila telah meneteskan air mata. Disamping Dila sudah ada ibunya yang menatap penuh heran.

“Dil…Dila…” Panggil ibu Dila dengan tepukan halus di pundaknya.

“Eh… Ibu” Dila terkejut dan langsung menghapus air matanya.

“Ada apa nak, kok ngelamun sampai nangis gitu?” Tanya ibu Dila

“Nggak papa kok bu, ini tadi tu kelilipan debu jadi pedih terus ngeluarin air mata” Jawab Dila dengan senyum.

“Hayo jangan boong…. oh iya Alhamdulillah tadi ibu dapat kabar dari pakdhe kalau ada pondok yang mau membiayai sekolah gratis sampai SMA. Gimana kamu tertarik mau nerusin lagi nggak? Kalau iya, nanti ibu siapin semua berkas-berkas sama pakaian kamu” Kata ibu

Mendengar perkataan ibunya, Dila langsung berbinar senang dan langsung menyetujuinya. Akan tetapi, Dila juga merasa takut jika harus jauh dari kedua orang tuanya. Dalam benaknya, banyak keraguan yang ia pertimbangkan. Hingga ibu Dila, kembali menguatkan putrinya untuk memantapkan apa yang akan menjadi keputusannya. Dila pun setuju dan berjanji pada ibu akan bersungguh-sungguh dalam belajar di pondok ataupun di sekolah. Kini, saatnya Dila merajut mimpinya untuk menjadi kenyataan.***

(Ismawati)