
Sahabat Nabi Yang Buruk Rupa Tetapi Menjadi Rebutan Bidadari – Dahulu kala ada sahabat Nabi yang lahir ke dunia tidak mengetahui siapa orang tuanya dan nasabnya. Ia adalah Julaibib RA yang bisa dikatakan memiliki tampilan buruk rupa.
Menjadikannya suatu aib sehingga tidak ada orang yang mau mendekatinya. Tampilannya yang lusuh, pendek dan bungkuk dan miskin, membuat masyarakat tak ada yang mau mendekat. Dibalik penampilannya yang jelek, beliau adalah seorang yang rendah hati, sederhana.
Serta memiliki hati yang besar untuk berjuang di jalan Allah. Bahkan ia dijadikan salah satu prajurit perangnya Nabi Muhammad SAW ketika banyak orang yang mengucilkannya.
Pernikahan Julaibib RA
Julaibib yang tinggal di selasar Masjid Nabawi ditegur oleh Nabi Muhammad SAW, “Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Tanya Nabi Muhammad dengan lembut
“Siapakah orangnya, ya Nabi, yang mau menikahkan anaknya dengan diriku ini?” Jawab Julaibib dengan senyuman. Rasulullah juga ikut tersenyum, dan kembali menanyakan pertanyaan yang sama hingga tiga hari berturut-turut kepada Julaibib.
Pada hari ketiga itu, Rasulullah SAW mengundang Julaibib ke rumah seorang pemimpin Anshar. Sang tuan rumah sangat senang karena mendapat penghormatan dari Nabi Allah SWT.
“Aku ingin menikahkan putri kalian,” kata Rasulullah SAW kepada pemilik rumah.
“Alhamdulillah, betapa berkahnya. Duhai, kehadiranmu akan menjadi cahaya yang mengusir kegelapan di rumah kami,” pikir si wali bahwa Rasulullah akan meminang gadisnya.
“Tidak untukku, aku menikahi putrimu untuk Julaibib” kata Rasulullah SAW.
Ayah sang gadis sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan istrinya berteriak sambil menjelekkan Julaibib, “Dengan Julaibib? Bagaimana mungkin?
Baca Juga:

Pelayan Rasulullah Yang Istimewa https://sabilulhuda.org/pelayan-rasulullah-yang-istimewa/
Julaibib itu wajahnya jelek, berkulit hitam, keturunan yang jelek, tidak berpakaian rapi, dan tidak kaya. Demi Allah, tidak! Anak kita tidak akan menikah dengan orang yang seperti itu!”
Sementara itu, ada putri mereka yang mendengarkan percakapan mereka di balik tirai. Dia keluar dan berkata, “Siapa yang meminta?” lalu ayah dan ibunya menjelaskan.
Keteguhan Iman Seorang Wanita
Wanita itu memang dikenal sangat bertakwa dan paham tentang agama.
Ia berkata, “Apakah kalian ingin menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, aku akan pergi kepadanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tidak akan menimbulkan kerugian atau kehancuran bagiku.”
Kemudian wanita yang sholehah itu membaca ayat (Q.S. Al-Ahzab:36)
“Dan tidaklah patut bagi lelaku beriman dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
Jawaban itu terdengar oleh Rasulullah, hingga ia tertunduk dan berdoa, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka dalam limpahan penuh berkah. Janganlah engkau jadikan hidupnya payah dan bermasalah”
Dengan menunjukkan rasa cinta dan taat kepada Allah, ia menerima ajakan Rasulullah SAW dan setuju untuk menikah dengan Julaibib.
Syahid Di Medan Perang
Suatu hari, ketika seruan jihad datang, Rasulullah meminta kaum muslimin untuk berperang di jalan Allah SAW. Seketika Julaibib merasa bingung. Disitu Allah SWT sedang menguji Julaibib dengan cara yang berat. Ia harus memilih istrinya yang baru saja ia nikahi dengan rasa kebahagiaan atau mati syahid.
Ini merupakan sebuah ujian yang tidak mudah bagi seorang muslim, terlebih bagi Julaibib yang sudah melewati banyak ujian sebelumnya. Namun, dengan tekad untuk mempertahankan agama nya ia memutuskan untuk pergi ke medan perang dan menjalankan perintah Allah SWT.
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)
Julaibib pergi ke medan perang. Ia meninggalkan istrinya yang cantik dan taat yang baru saja menikahinya, hanya untuk menjalani perang di jalan Tuhan-Nya. Setelah pertempuran selesai, suasana di medan perang masih terasa menegangkan. Dengan Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
Semua sahabat menjawab bersama, “Tidak, Ya Rasulullah”.
Rasulullah bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Dengan raut wajah yang sedih
Beberapa sahabat menjawab, “Tidak, Ya Rasulullah”
Lalu Rasulullah berkata, “Aku kehilangan Julaibib, carilah Julaibib!”
Maka Julaibib yang terhormat ditemukan. Ia telah gugur dengan luka-luka di seluruh tubuh dan wajahnya. Di sekitar mayatnya terdapat tujuh mayat musuh yang telah ia bunuh. Rasulullah sendiri yang mengkafani Julaibib. Beliau melakukan salat dan berdoa, “Ya Allah, dia bagian dari diriku dan aku bagian dari dirinya.”
Rasulullah menangis, air matanya jatuh sambil melihat ke langit dan tersenyum. Lalu beliau memalingkan wajahnya ke samping dan menutup mata dengan tangan. Para sahabat yang melihat kejadian itu merasa kaget, lalu bertanya kepada Rasulullah, “Mengapa engkau menangis di atas makam Julaibib?” tanya salah satu sahabat.
“Aku menangis karena mengingat Julaibib. Hari ini dia memintaku memberinya restu untuk menikah. Seharusnya dia sekarang sedang bahagia bersama istrinya dan menantikan malam pertama, malam yang dinantikan oleh pasangan pengantin. Namun, hari ini dia sudah tiada,” jawab Rasulullah.
“Lantas mengapa kau menengadah dan tersenyum?” tanya salah seorang sahabat
“Aku menengadah karena melihat para bidadari turun dari langit untuk menjemput Julaibib,” jawab Rasulullah.
“Tapi mengapa kau memandang ke samping?”
“Bidadari yang menjemput Julaibib jumlahnya banyak. Mereka saling berebut, ada yang meraih tangannya dan ada yang meraih kakinya. Sehingga salah satu dari bidadari itu kakinya terbuka dan terlihat betisnya,” jawab Rasulullah.
Julaibib yang dulunya dipandang rendah di dunia, kini tengah disambut dengan penuh kerinduan oleh para bidadari surga. Ia lebih dicintai oleh penduduk langit daripada oleh manusia bumi.
Poin Penting Dari Kisah Julaibib:
Keutamaan Hati
Julaibib menunjukkan bahwa keutamaan seorang hamba terletak pada hati yang bertakwa dan mencintai Allah, bukan pada penampilan fisik atau harta benda
Pentingnya Mencari Ilmu
Julaibib selalu bersama Nabi, menimba ilmu dan akhlak dari beliau yang menunjukkan betapa pentingnya mencari ilmu agama.
Keberanian dan pengorbanan:
Julaibib tidak pernah ragu untuk berjihad dan mengorbankan dirinya demi Islam, bahkan ketika ia merasa minder dengan penampilannya.
Cinta Nabi:
Nabi Muhammad SAW sangat mencintai Julaibib, bahkan mencarikan jodoh untuknya. Hal ini menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada semua umatnya.
Ganjaran di akhirat:
Julaibib, meskipun di dunia kurang dihargai, mendapatkan ganjaran luar biasa di akhirat, yaitu menjadi rebutan bidadari surga karena ketakwaannya dan kesyahidannya.
Baca Juga: Jabal Uhud Saksi Bisu Perang Uhud













