Sinta sungguh kesal dengan harinya. Perempuan berusia 10 tahun itu, baru saja merasakan dijauhi teman-temannya. Ia sungguh tidak mengerti mengapa teman-teman menjauhi dirinya. Bahkan mereka berani mengatakan dirinya tukang nyinyir pula. Itulah yang membuat ia terus terngiang oleh perkataan temannya.
“Eh, ada si tukang nyinyir. Pergi aja yuk, ntar malah kita ketularan lho.” Kata Rina pagi tadi saat Sinta datang hendak bergabung main.
‘Hhhh… Salahku apa coba? Kenapa mereka bilang aku tukang nyinyir? Makanan apa lah nyinyir itu? Tapi kok rasanya sedih bin sebelll denger kata itu? kenapa mereka menjauh dariku?’ batin Sinta yang sedang melamunkan banyak hal di taman kecil depan rumahnya.
“Sinta….” Panggil ibu Sinta, yang dipanggil masih belum menyahut.
“Sinta….” Panggilan kedua masih belum ada respon.
“Sintania Latifah Hanum Salsabiela, sini kau. Bantu ibu, temenin adikmu main. Jangan banyak melamun terus!” Omel ibu merasa putrinya yang sedari tadi dipanggil tak ada sahutan.
“Iya bu… Buk, nyinyir tu apa artinya buk?” Tanya Sinta penasaran
“Nyiyir itu yang buat sisiran rambut!” Jawab ibu Sinta, asal menjawab.
“Lhoo bukannya itu sisir bu?”
“Ah sama aja!!! mau sisir, nyinyir sama-sama ada huruf r nya. Sudahlah ibu minta tolong temenin adikmu main dikamar. Ibu mau beli sayuran dulu di pasar.” Jawab ibu terburu-buru.
“Hmmmhhh baiklah bu” jawab Sinta, pasrah.
Di kamar, Sinta mengambil posisi berbaring di kasur sambil memperhatikan adiknya bermain. Sesekali terlihat raut wajah sebel adiknya yang masih balita itu, mencoba membuka tutup toples mainan. Sinta pun dibuat gemas dengan tingkah adiknya dan menghampiri adiknya untuk membukakan toples tersebut. Setelah membukakan toples pada adiknya ia pun kembali berbaring. Ia bosan menunggu ibunya datang. Sinta pun kembali beranjak dan mencoba mencari sesuatu yang menarik untuk dimainkan atau dilakukan di kamar ibu sembari mengawasi adiknya.
Setelah mencari-cari, akhirnya ia mendapat sebuah buku novel. Ia pun memutuskan untuk membaca novel tersebut setelah memastikan adiknya masih aman bermain sendiri. Tak berapa lama kemudian dalam novel tersebut, ia mendapati sebuah hadist yang sangat bagus artinya. Hadist tersebut berbunyi: من كان يؤمن با الله و اليوم الأخير فليقل خيرا او ليصمت. Artinya: barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Sinta pun teringat bahwa selama ini, ia sudah banyak bicara omong kosong. Mungkin itulah mengapa teman-teman menjauhi dirinya. Sebab, setiap hari ia bercerita pada temannya akan banyak hal. Menggunjing orang, mengomentari penampilan orang bahkan berkata-kata sok bijak padahal ia belum bersikap bijak. Kini ia sadar akan apa kesalahannya. Ia pun berencana akan meminta maaf pada teman-temannya dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Namun, ada satu hal lagi yang luput dari kesadarannya.
Di ambang pintu, sosok ibu tengah berdiri menggendong anak kecil yang mukanya cemong oleh cairan berwarna coklat. Mereka tak lain adalah ibu dan adik Sinta.
“Sinta…” Panggil sang ibu.
‘Eh kok kayak suara ibu? Bukannya ibu lagi ke pasar ya? Ah paling cuma perasaan ku aja’ batin sinta menghentikan kegiatannya.
“Sintania Latifah Hanum Salsabiela..” panggil ibu dengan suara berat dan keras.
‘Hahhh, iya itu suara ibu’ Sinta pun bergegas bangun dan memandang pintu. Disana ada ibu yang sedang berdiri sambil menggendong adiknya yang cemong oleh cairan berwarna coklat.
“Ibu kok udah pulang, udah sampai pasar ya buk. Lho belanjaan ibuk mana? Oh apa sudah ditaruh di dapur ya buk?” Oceh Sinta mencoba menetralkan suasana.
“Ya… Apa aja yang kamu lakukan, sampai-sampai melalaikan tugas jaga adikmu. Baru ditinggal sebentar saja sudah seperti ini. Untung ibu balik lagi kalau tidak sudah pasti adikmu ini bakal tambah parah tampilannya!!!” Omel ibu panjang lebar melihat Sinta yang tidak mengawasi adiknya dengan benar.
“Maaf buk, Sinta lengah. Sinta malah baca buku bu. Maafkan Sinta ya buk.” Sesal sinta
“Baiklah karena kamu tak bisa menjaga adikmu dengan benar, maka sekarang pergilah ke pasar. Belikan semua belanjaan ibu. Tak ada tapi-tapian. Harus lengkap belikan semuanya!!!” Perintah ibu.
“Ba..baik bu.” Jawab Sinta dan segera mengambil tas serta daftar belanjaan. Kemudian ia bergegas berangkat menuju pasar.
Di persimpangan jalan, Sinta melihat teman-temannya sedang bermain asik. Ia pun menghampiri mereka. Kemudian ia meminta maaf atas kesalahannya. Teman-teman Sinta pun bersedia untuk memaafkannya dan mereka akhirnya bermain bersama lagi. Dan lagi-lagi, Sinta kembali melupakan tugasnya. Entah apa yang akan terjadi. Sinta baru ingat setelah hari mulai petang dan melihat tas belanjaan tergeletek di bawah pohon yang ia tinggalkan selama ia bermain bersama teman-temannya.
Sinta pun memutuskan untuk segera pulang dan akan menerima konsekuensi atas kelakuannya. Dan benarlah, sampai di rumah Sinta dihukum tidak boleh main selama tiga hari. Sungguh malang nasib Sinta.***
( Isnawati )











