by bambang oeban
Ia yang terlahir
bukan dari karpet merah,
tapi dari getar rel kereta api,
29 Juni 1947, Surakarta masih
membekas beraroma mesiu,
dan malam adalah ruang
tunggu antara hidup
dan kematian.
Anak sulung guru SMP bukan pejabat, bukan jenderal, cuma sepasang insan yang menggaji hidup lewat kapur tulis dan doa yang begitu panjang.
Ibunya mendekap bayi sakit,
menyusuri rel kereta api tengah
malam, tanpa helm, tanpa rompi anti peluru, tanpa status sebagai “pahlawan nasional.”
Peluru serdadu Belanda mendesing, namun kalah oleh nyali seorang ibu yang lebih takut kehilangan anak daripada kehilangan nyawa.
Rumah sakit gelap gulita, tak ada dokter, tak ada lampu, tak ada Wi-Fi, apalagi empati negara. Hanya tangis bayi dan ketabahan ibu yang berjaga sampai pagi.
Baca Juga: Alvin Bin Adam: Tersurat – Tersirat
Kurikulum Keberanian yang Tak Pernah Tercatat
Sejarah tak mencatat adegan ini, tak masuk buku paket, tak jadi soal ujian nasional. Padahal di situlah kurikulum keberanian pertama kali diajarkan. Ketika harus mengungsi ke Ambarawa, ia menangis, bukan karena lapar, bukan karena dingin, melainkan karena berpisah dari seekor anjing kampung.
Negeri ini sering salah paham:
mengira nasionalisme hanya lahir dari pidato dan seragam. Padahal cinta tanah air sering bermula dari kehilangan makhluk kecil yang setia menunggu di depan rumah.
Anjing itu hilang lama. Dan suatu hari ditemukan. Bapaknya seorang pria yang takut anjing, jijik, ngeri, gemetar, nekat menggendong anjing itu demi senyum anaknya.
Di situlah pelajaran besar tanpa seminar, tanpa modul pelatihan kepemimpinan: keberanian bukan menaklukkan musuh, melainkan menaklukkan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Rekaman itu melekat kuat di benak sang anak, lebih kuat dari pidato presiden, lebih awet dari baliho kampanye.
Baca Juga: JERIT HATI SENIMAN
Wayang, Desa, dan Seni sebagai Pengabdian
Setiap Lebaran, ia pulang ke desa Ngemplak, Delanggu. Di rumah kakeknya, wayang kulit digelar sehari semalam. Bukan sekadar tontonan, melainkan peristiwa kebudayaan.
Sawah, sungai, gunung menjadi latar alami tempat ia belajar bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan guru kesabaran. Ia duduk dekat kotak wayang, memperhatikan dalang menggerakkan tokoh-tokoh kecil, namun mengguncang jagat cerita Dalang,
bukan raja,
bukan dewa,
namun mengatur arah perang tanpa menumpahkan darah. Ia terpesona. Kakeknya suka menghibur warga desa, menanggap wayang bukan untuk pamer kekayaan, melainkan merawat kebersamaan.
Kehilangan, Ikhlas, dan Daya Bertahan
Di sanalah ia paham: seni bukan pajangan, seni adalah pengabdian. Ibunya wafat saat ia kelas dua SMA. Negeri ini sering lupa bahwa yatim bukan hanya soal usia, melainkan soal waktu yang hilang untuk bersandar.
Di usia paling membutuhkan pelukan dan nasihat, ia harus belajar satu kata yang tak diajarkan di sekolah: ikhlas. Bukan pasrah, bukan menyerah, melainkan menerima luka tanpa menjadikannya alasan untuk menyakiti orang lain.
Baca Juga: ANAKKU PIDJAR BARITO
Darah Seni dan Jalan Dialog
Pelajaran itu ia bawa hingga kini, di tengah dunia yang lebih gemar marah daripada mengerti. Bapaknya seorang pianis, penulis lagu, pemilik kelompok konser klasik kecil-kecilan, bukan karena tak laku, melainkan karena zaman lebih menyukai dentuman daripada perenungan.
Ibunya, semasa sekolah, pemain drama komedi yang disukai banyak orang. Maka jangan heran jika darah seni mengalir deras, seperti sungai ingatan yang tak pernah kering. Dari sanalah ia belajar:
humor bukan pelarian, melainkan cara paling manusiawi untuk bertahan hidup. Ia mudah terharu melihat kesengsaraan. Bukan karena lemah, melainkan karena masih punya rasa. Ia ingin bersuara, namun bukan dengan batu, bukan dengan api, bukan dengan teriak kosong.
Protes dengan kekerasan
ia jauhi, karena baginya dialog lebih panjang umur daripada dendam.
Baca Juga: MAUT DAN ETIKA SASTRA KITA
Mimpi, Dalang, dan Keseimbangan
Itulah sebabnya ia memilih teater … ruang di mana konflik disajikan tanpa korban, dan kebenaran bisa diperdebatkan tanpa saling membunuh. Setiap pagi di rumah neneknya, pertanyaan yang sama:
“Tadi malam mimpi apa?”
Ia tak tahu jawabannya.
Masih kecil.
Masih polos.
Ia tak paham bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan peta masa depan yang sering diabaikan.
Saat remaja, ia berkata pada neneknya bahwa ia suka tokoh dalang. Neneknya tersenyum:
“Itu mimpimu menjadi dalang.”
Ia tak langsung percaya.
Namun ketika SMA, ia terpilih menjadi sutradara teater, kata-kata itu berbunyi ulang dalam kesadarannya.
Di sanalah ia mengerti: hidup harus punya mimpi, dan mimpi harus dikejar dengan keyakinan, bukan dengan dengki. Dalang, bukan penguasa panggung, melainkan penjaga keseimbangan. Menggerakkan tokoh agar tak keluar jalur, mengkritik raja
tanpa kehilangan kepala, menyentil kekuasaan dengan humor dan kebijaksanaan.
Baca Juga: BAMBANG OEBAN: TANAH PUSAKA NEGERIKU YANG MULIA
Catatan untuk Sebuah Bangsa
Bukankah negeri ini terlalu lama kehilangan dalang? Yang ada hanya penonton saling melempar kursi, sementara panggung dikuasai badut yang lupa naskah.
Rangkaian syair ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan. Bahwa keberanian bisa lahir dari rel kereta api, bahwa seni bisa tumbuh dari desa, bahwa mimpi bisa ditanam oleh nenek tanpa modal proposal. Solusinya sederhana, meski tak mudah:
Rawat ingatan.
Hargai luka.
Kejar mimpi tanpa menginjak sesama. Jadilah dalang bukan provokator. Jadilah seniman bukan pemilik kebenaran. Karena bangsa ini tak kekurangan teriakan, yang kurang adalah keheningan
untuk mendengar suara kemanusiaan.
Dan ia anak sulung guru SMP itu terus berjalan, membawa rel kereta api di dadanya, wayang di ingatannya, dan mimpi di tangannya. Bukan untuk menjadi besar,
melainkan untuk
tetap manusia.
Dari Timur Bekasi
Minggu, 14 Des 2025
02.34













