Reza! Anak Berbakat Dan Mandiri

Reza! Anak Berbakat Dan Mandiri
Reza! Anak Berbakat Dan Mandiri
Reza! Anak Berbakat Dan Mandiri
Reza! Anak Berbakat Dan Mandiri

Reza! Anak Berbakat  dan Mandiri – Namanya Reza… umurnya 9 th kelas 4 Sd. Malam itu habis maghrib seorang ayah dan 4 anaknya di terima di pondok Sabililhuda. Sisulung Bernama Reza. Kebingungan masih menyelimuti wajahnya.

Kedatangan dan kebingungan

Saat itu dia masih duduk termenung di dekat tangga tempat dia turun dari mobil. Ayah dan 3 adiknya sudah masuk ke tempat tersebut.

Tak lama achmad datang,” ayo ke pondok saja,” . 

“Ha? Pondok?” Kagetlah dia. Kata ayahnya hanya pergi. Ternyata mereka ke pondok. Sebuah nama yang membuatnya trauma. Dia takut di tinggal di situ, tanpa ayahnya. Kepergian mamanya sudah sangat membuatnya trauma.

Dalam kebingungannya Reza mengikuti masuk ke pondok. Hatinya sebenarnya panik. Kalau di tinggal ayah, bagaimana?  Tapi di tenangkannya hatinya. Tak seburuk itu, pikirnya.

Masih tersimpan di hati dan memorinya hari-hari sebelum sampai pondok. Bagaimana dia bergelut dengan keadaan yang memaksa dia dan adek-adeknya kuat. Tak pernah mengeluh, menerima apa adanya, bisa mengerti kondisi,  begitu kata ayahnya.

Baca Juga:

Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya

Episode 1: Perjuangan Pras Demi Empat Putranya https://sabilulhuda.org/episode-1-perjuangan-pras-demi-empat-putranya/

Bahkan karena omongan anak sekecil reza ayahnya sadar dari keterpurukannya, dari putus asanya hingga dia bertekat bangkit, di tambah melihat wajah 3 anaknya yang lain, menambah tekad Pras untuk bangkit, dan menjalani kehidupannya lagi.

Perkenalan yang mengubah segalanya

“Ayo kita sholat isya,” kata anak-anak. Namaku Wildan, namaku adam, aku azam, aku ilham, aku  fajar, aku  achmad, aku El, Aku Alan, aku Nopal…

“Aku Reza, ini sakha adikku:. Akhirnya mereka berkenalan dengan sebagian anak-anak.

“Za,  besok kita main di kebon ya..,” ajak anak-anak.

“Mas Reza,mas saka  nanti tidur di sini ya,” kata opang dan el

Senang sekali hati Reza. Ternyata anak-anak di sini baik-baik. Akhirnya Reza dan ketiga adeknya berkenalan dengan beberapa penghuni pondok.

Mempunyai teman sebaya adalah awal yang menyenangkan buat Reza. Selama ini dia tak ada teman lain selain adek-adeknya. Ternyata di sini temannya banyak.

Reza badannya kecil, tapi di dalam hatinya ada kepanikan yang besar. Panik yang di balut dalam ketenangan. Takut kalau di tinggal ayahnya seperti kisah temannya yang di tinggal di panti sama orangtuanya. Dia sering menengok ayahnya, hanya memastikan kalau ayahnya tidak meninggalkan mereka.

Hari-hari di pondok ternyata semakin lama semakin menyenangkan. Semakin dia mengenal semakin tenang hatinya. Ternyata anak-anak di sini tidak ada orang tuanya. Mereka di titipkan di sini.

Reza dan 3 adeknya mulai menjalani kehidupannya di pondok tersebut. Dia mulai mengenal dan mempunyai teman sebaya. Secercah harapan muncul di hatinya, Ketika dia akan bersekolah lagi. Senyum mengembang di wajahnya. Menjalani hari-harinya dengan bahagia dan semangat.

Hati Reza bahagia saat hari pertama sekolah lagi. Tapi kepanikan juga muncul lagi di hatinya. Trauma pembulian yang dia dapatkan di sekolah waktu di Bekasi muncul lagi. Reza melawan rasa takutnya. Dan berharap sekolah di sini lebih ramah anak.

Dan bahagia itu menjelma saat teman-teman di sekolah menyambutnya dengan baik. Perlahan bayangan traumatis itu memudar.

Bakat Besar Yang tersalurkan

Walaupun badan Reza kecil, dia adalah seorang anak dengan bakat  besar. Dia mandiri, percaya diri. Dia suka main bola. Sejak di Bekasi reza sudah ikut SSB . Sekarang Reza masuk ke Pakem Scocer School. Jiwa atlit itu turun dari ayanhya yang seorang pelatih SSB. Maka di bawah bimbingan ayahnya Reza kecil sudah banyak ikut kompetisi.

Begitu pula saat ini, Reza juga masuk SSB dengan posisi sebagai sayap kanan di pertandingan sepak bola. Ada beberapa piala yang sudah dia dapatkan. Di dalam pertandingan Reza selalu bersungguh-sungguh bermain.

Reza berusaha bermain sebaik mungkin, supaya timnya mendapat kemenangan.  Walaupun kadang masih emosional tapi reza selalu berusaha menahan diri untuk  profesional.

Reza juga mempunyai hati dan jiwa yang besar. Perjalanan hidupnya bersama ayahnya Pras sudah menempanya. Tertutupi oleh senyum malu-malunya, dia menyimpan sesuatu yang besar di hatinya. Tak ada yang tahu. Mungkin hanya pak Kyai yang bisa membaca apa yang tersimpan di hatinya.

 Rasa Tenang dan nyaman itu ada

Reza mengikuti kegiatan di pondok dengan senang hati. Sekarang  Bagi Reza pondok ini  adalah tempat yang nyaman, di mana dia bisa membangun mimpinya . Semua kegiatan pondok dia ikuti.  Sholat, mengaji, gotong royong di lakukannya dengan senang hati . Pondok ini adalah rumahnya sekarang.

Disini dia merasa mendapat tempat bercerita.

‘Reza, kalau ada apa-apa, bisa cerita ke ibu, atau bunda atau yang lain. Nggak usah takut atau sungkan. Anggap saja kami ini ibumu,’ kata bu Nyai

Iya bu,” kata Reza malu-malu . Matanya berbinar-binar menandakan kalau hatinya senang. Ada yang memperhatikan adalah hal yang di inginkan oleh setiap anak. Itu membuat dia berarti.

Baca Juga: Pengabdian Anwar dan Kasidah Terakhir Bersama Abdul Kadir Jailani