
Renungan Terhadap Ketidakadilan Sidang Tom Lembong – Ketidakadilan adalah luka yang terus menganga dalam kehidupan manusia. Ia hadir dalam berbagai rupa penindasan ekonomi, diskriminasi sosial, kesenjangan hukum, dan perilaku sewenang-wenang dari yang berkuasa kepada yang lemah.
Dunia tampaknya tidak pernah sepi dari tangisan mereka yang dipinggirkan dan jeritan mereka yang hak-haknya dirampas. Dalam kehidupan yang sarat dengan ketimpangan ini, setiap insan perlu merenung: apa sikap kita terhadap ketidakadilan yang menimpa Tom Lembong?
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa diam terhadap ketidakadilan adalah bentuk pembiaran. Ketika kita melihat seseorang ditindas seperti yang menimpa Tom Lembong, namun memilih bungkam, maka secara tidak langsung kita membiarkan ketidakadilan itu terus hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Baca Juga:

Renungan: Harta, Ulama Penyesat, Dan Jalan Allah https://sabilulhuda.org/renungan-harta-ulama-penyesat-dan-jalan-allah/
Kewajiban Melawan Ketidakadilan
Ketidakadilan adalah bentuk nyata dari kemungkaran. Maka setiap orang beriman memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk melawannya, sesuai dengan kemampuannya.
Namun, melawan ketidakadilan tidak selalu berarti harus turun ke jalan dengan teriakan dan kemarahan. Sering kali, sikap terhadap ketidakadilan bermula dari kepekaan hati. Kita tidak boleh terbiasa dengan penderitaan orang lain.
Jangan sampai hati kita menjadi tumpul terhadap kesusahan sesama. Ketika kita melihat orang miskin terpinggirkan, buruh diperas tenaganya, atau masyarakat adat dirampas hak tanahnya, dan kita hanya melihat dengan datar tanpa empati maka itu pertanda bahwa keadilan sudah mati dalam nurani kita.
Keberanian untuk Bersikap
Selanjutnya, sikap terhadap ketidakadilan menuntut keberanian untuk bersuara, bahkan ketika suara kita adalah suara satu-satunya. Dunia tidak akan berubah menjadi lebih baik jika orang-orang baik memilih diam demi kenyamanan pribadi.
Kita harus belajar dari tokoh-tokoh besar yang memperjuangkan keadilan dengan keberanian—dari Mahatma Gandhi hingga Nelson Mandela, dari Pangeran Diponegoro hingga R.A. Kartini. Mereka bukan orang yang sempurna, tetapi mereka memiliki satu keberanian: berdiri ketika orang lain membungkuk, bersuara ketika orang lain membisu.
Namun dalam bersikap terhadap ketidakadilan, penting pula untuk tidak terjebak dalam kebencian. Terkadang, dalam membela yang tertindas, kita bisa berubah menjadi penindas baru karena terlalu diliputi kemarahan.
Maka perlu ada kebijaksanaan dalam perjuangan. Kita melawan ketidakadilan dalam kasus dugaan karupsi importasi gula yang menimpa Thomas Trikasih Lembong yang dikenalTom Lembong, bukan untuk balas dendam, melainkan untuk memperbaiki tatanan yang rusak. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ…
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap diri kalian sendiri…” (QS. An-Nisa: 135)
Keadilan Harus Dimulai dari Diri Sendiri
Ayat ini mengajarkan bahwa perjuangan terhadap ketidakadilan harus dilandasi kejujuran, bahkan bila itu menyakitkan dan menyentuh kepentingan diri sendiri. Keadilan tidak berpihak pada siapa yang berkuasa, melainkan pada siapa yang benar.
Sikap terhadap ketidakadilan juga bisa diwujudkan melalui perbuatan nyata di lingkungan terdekat. Tak perlu menunggu menjadi aktivis atau pejabat untuk membela keadilan.
Dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas kecil, kita bisa mulai dengan berlaku adil: tidak menyuap, tidak memihak tanpa alasan, memberi kesempatan setara bagi semua, dan tidak memanfaatkan jabatan atau kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Inilah bentuk nyata perlawanan terhadap ketidakadilan struktural yang sering kali bermula dari kebiasaan kecil yang dibiarkan.
Terakhir, dalam menghadapi ketidakadilan, kita memerlukan keteguhan jiwa dan doa yang mendalam. Karena perjuangan ini panjang, sering menyakitkan, dan kadang membuat kita merasa sendirian. Namun yakinlah, kebenaran tidak pernah mati.
Selama masih ada satu hati yang menolak tunduk pada kezaliman, selama masih ada satu suara yang menyerukan keadilan, maka harapan akan selalu menyala.
“Keadilan itu adalah cahaya Tuhan yang menyinari hati yang bersih.”
Baca Juga: Hikmah Kehilangan Sesuatu yang Dicintai
Ajaran Jawa dalam Sastra Jendra
Dalam dunia yang tak sempurna, kita tidak selalu bisa menghentikan semua bentuk ketidakadilan. Tapi kita selalu bisa memilih: menjadi bagian dari masalah, atau menjadi bagian dari solusi.
Jangan pernah meremehkan kekuatan satu sikap jujur, satu tindakan adil, dan satu kata yang membela kebenaran. Karena dari situlah dunia yang lebih baik mulai dibangun pelan-pelan, tapi pasti. Selamat berjuang semoga Tom Lembong mendapatkan keadilan diwaktu mendatang, amin.
Oleh: Ki Pekathik













