
Renungan: Harta, Ulama Penyesat, dan Jalan Allah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
Dalam dunia yang penuh godaan ini, harta dan jabatan sering menjadi fitnah yang menjerumuskan manusia dari jalan kebenaran. Allah ﷻ telah memperingatkan kita dalam firman-Nya:
﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴾
— Surat At-Taubah ayat 34
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak di antara orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani memakan harta manusia dengan cara yang batil dan menghalangi manusia dari jalan Allah.
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.”
Ulamā’ dan Pemuka Agama yang Menyesatkan
Rasulullah ﷺ memperingatkan kita bukan hanya tentang Dajjal, tetapi juga tentang bahaya besar yang sering luput dari pengawasan: para pemuka agama yang menyesatkan. Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, disebutkan:
عن أبي ذرٍّ قالَ: كنتُ أمشي معَ رسولِ اللَّهِ ﷺ، فقالَ: غيرُ الدَّجَّالِ أخوَفُ علَى أمَّتي منَ الدَّجَّالِ. قالَها ثلاثًا، فقلتُ: يا رسولَ اللَّهِ، ما غيرُ الدَّجَّالِ أخوَفُ على أمَّتِكَ منهُ؟ قالَ: أئمَّةً مضلِّينَ
— (HR. Abu Dawud)
Artinya:
“Dari Abu Dzar, ia berkata: Aku berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: ‘Sungguh yang paling aku takuti atas umatku selain Dajjal adalah…’ — beliau mengucapkannya tiga kali. Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapa yang lebih engkau takutkan dari Dajjal?’ Beliau bersabda: ‘Para imam (pemuka agama) yang menyesatkan’.”
Baca Juga:

Hikmah Di Balik Kehilangan https://sabilulhuda.org/hikmah-di-balik-kehilangan/
Harta adalah amanah. Ilmu adalah cahaya. Tetapi ketika keduanya diperdagangkan demi kepentingan pribadi, rusaklah dunia dan gelaplah hati. Ayat dan hadits tadi adalah peringatan keras: bahwa bukan hanya orang kafir yang bisa menyesatkan, tapi juga orang-orang yang mengenakan jubah agama, namun hatinya membatu oleh cinta dunia.
Para rahib dan ulama yang seharusnya membimbing umat, justru memakan harta umat dengan cara yang batil. Mereka menolak menginfakkan ilmunya demi jalan Allah. Mereka jadikan mimbar sebagai tempat tawar-menawar, menjual ayat demi keuntungan.
Apakah kita merasa aman dari ancaman ini?
Agama yang Dijadikan Komoditas
Di zaman ini, mudah kita temui para tokoh agama yang memanfaatkan ketokohannya untuk menggiring opini demi kekuasaan, harta, dan popularitas. Mereka menebar fatwa sesuai selera penguasa. Mereka membungkam kebenaran dengan dalih “hikmah”, padahal itu adalah ketakutan untuk kehilangan dunia.
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِى ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۚ وَإِيَّـٰىَ فَٱتَّقُونِ
“Dan janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah. Hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa.”
— (QS. Al-Baqarah: 41)
Wahai orang-orang yang beriman…
Ketahuilah, bahwa harta yang tidak dizakatkan, ilmu yang tidak diajarkan, dan jabatan yang tidak dimanfaatkan untuk menegakkan keadilan — semua itu kelak akan menjadi beban yang membakar jiwa di akhirat.
Berhati-hatilah terhadap harta yang batil. Jangan tertipu oleh gelar, pakaian, dan retorika. Ukurlah kebenaran dengan Al-Qur’an dan sunnah, bukan dengan popularitas. Kembalilah kepada ilmu yang benar, dan jauhilah tokoh-tokoh yang mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.
Ilmu dan harta, bila tidak dibimbing oleh iman dan takwa, akan menjadi jalan menuju kehancuran. Sebaliknya, harta yang diinfakkan di jalan Allah dan ilmu yang disampaikan dengan ikhlas — akan menjadi cahaya di dunia dan akhirat.
Marilah kita memohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk golongan yang menumpuk harta dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, atau menyimpan ilmu dan tidak mengamalkannya, atau mengikuti pemuka yang menyesatkan.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak didengar.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Ya Allah, jadikan kami termasuk golongan yang mendengarkan nasihat, lalu mengikuti yang terbaik darinya.”
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ السُّمْعَةِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Ya Allah, bersihkan hati kami dari riya’, amal kami dari pamrih, lisan kami dari dusta, dan pandangan kami dari khianat. Sungguh Engkau Maha Mengetahui segala khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.”
اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ فِتْنَةِ الْمَالِ وَالْجَاهِ وَالدِّينِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا حُبَّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ
“Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah harta, jabatan, dan agama. Jangan jadikan dalam hati kami cinta dunia dan benci kematian.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَخَاتِمَةً حَسَنَةً
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, amal yang diterima, hati yang bersih, dan akhir hidup yang baik.”
وَصَلَّى اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn..
Baca Juga: Hikmah Kehilangan Sesuatu yang Dicintai
Oleh: Ki Pekathik













