Budaya  

Rahasia Hidup Tenang dari Petuah Jawa “Anglaras Ilining Banyu”

Ilustrasi siluet tokoh Jawa dengan aliran air sebagai simbol filosofi “Anglaras Ilining Banyu, Angeli Ananging Ora Keli” tentang hidup selaras tanpa hanyut.
Filosofi Jawa “Anglaras Ilining Banyu” mengajarkan hidup mengalir mengikuti keadaan, namun tetap teguh pada prinsip dan jati diri.

Sabilulhuda, Yogyakarta: Rahasia Hidup Tenang dari Petuah Jawa “Anglaras Ilining Banyu” – Di tengah arus kehidupan yang semakin cepat sekarang ini, masyarakat Jawa ternyata masih menyimpan banyak sekali ajaran filosofi yang sangat relevan zaman sekarang ini. Salah satunya adalah ungkapan luhur “Anglaras Ilining Banyu, Angeli Ananging Ora Keli.”

Sebuah pitutur adiluhung yang mengandung sarat makna, diajarkan oleh para wali dan para sesepuh. Terutama dikaitkan dengan Filosofi Sunan Kalijaga yang banyak menggunakan simbol alam untuk menyampaikan hikmah kehidupan.

Artikel ini saya tulis karena beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bercerita mengenai pitutur Sunan Kalijaga dan menyebut kalimat ini: “Anglaras Ilining Banyu, Angeli Ananging Ora Keli.”

Karena merasa penasaran, saya mencoba mencari naskah, buku, dan berbagai penjelasan terkait makna falsafah tersebut. Setelah membaca, menelusuri, dan memahami dari berbagai sumber, akhirnya tulisan ini bisa tersusun.

Saya berharap makna yang tersampaikan dapat menjadi pencerahan bagi siapa pun yang sedang menata hidup agar tetap selaras dengan nilai-nilai dari kebaikan.

Apa Arti “Anglaras Ilining Banyu, Angeli Ananging Ora Keli”?

Secara sederhana, ungkapan ini terdiri dari tiga bagian penting:

  • Anglaras Ilining Banyu artinya Menyelaraskan diri dengan aliran air
  • Angeli artinya Mengikuti, mengalami, atau berada di dalam arus itu
  • Ora Keli artinya Namun tidak hanyut, tidak terbawa arus

Jika kita terjemahkan menjadi kalimat yang utuh:

“Ikutilah arus kehidupan, selaraskan diri dengan keadaan, tetapi jangan sampai hanyut dan kehilangan jati diri.”

Inilah inti dari filosofi Jawa yang penuh dengan keseimbangan. Bahwa hidup itu harus mengikuti perkembangan zaman, beradaptasi, fleksibel, namun tetap teguh pada prinsip yang benar.

Dalam konteks spiritual Jawa dan ajaran dari Sunan Kalijaga, air adalah simbol dari kehidupan, simbol perubahan, sekaligus sebagai simbol perjalanan batin manusia itu sendiri. Air tidak pernah melawan, tetapi selalu menemukan jalannya.

Meskipun begitu, manusia tetap tidak boleh menjadi seperti sampah yang terbawa dengan begitu saja. Di sinilah letak kebijaksanaannya.

Baca Juga:

Latar Budaya Jawa, Bahwa Hidup Itu Mengalir, Tapi Tetap Membumi

Orang Jawa sejak dulu memahami kehidupan itu sebagai sesuatu yang terus bergerak. Mereka menyebutnya:

  • Urip iku mung mampir ngombe (Hidup hanya singgah, sebuah perjalanan)
  • Sak madya wae (Hidup selaras, tidak berlebihan)
  • Tata, titi, titi titi, lan titi pranata (Mengatur diri agar selaras dengan tatanan)

Maka falsafah dari ungkapan Anglaras Ilining Banyu ini sangat cocok untuk menggambarkan karakter budaya Jawa yang lemah lembut, penuh dengan pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa. Hidup itu juga harus fleksibel seperti air, tetapi tetap punya arah seperti sungai yang mengalir menuju muaranya.

Mengikuti Zaman tanpa Kehilangan Nilai

Saat membaca penjelasan dari para ahli budaya Jawa, kemudian saya menemukan satu benang merah:

Orang Jawa itu percaya bahwa modernitas boleh kita ikuti, tetapi keluhuran harus tetap kita jaga.

Di sinilah makna yang sebenarnya dari Angeli Ananging Ora Keli. Kita boleh bekerja dengan mengikuti sistem, mengikuti perkembangan teknologi, mengikuti arus tren dan modernisasi. Tetapi jangan sampai nilai-nilai moral, etika, dan prinsip luhur tersebut hilang dengan begitu saja.

Contoh yang paling relevan di zaman sekarang:

  • Menggunakan teknologi untuk kebaikan, bukan untuk merusak.
  • Bersosial media tanpa larut dalam kebencian dan perpecahan.
  • Mengembangkan usaha tanpa menipu atau merugikan orang lain.
  • Bergaul luas tanpa meninggalkan sopan santun.

Maka dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu mampu untuk mengikutinya, tetapi kita juga tetap berdiri dengan teguh.

Filosofi Sunan Kalijaga, Luwes Tanpa Kehilangan Ruh

Banyak orang yang mengaitkan ungkapan ini dengan Filosofi dari Sunan Kalijaga, karena gaya dakwahnya beliau yang memang sangat fleksibel. Penuh dengan simbol-simbol alam, dan beliau juga mampu berbaur dengan masyarakat dari semua lapisan. Sunan Kalijaga juga dikenal dengan metode dakwah yang ngeli (mengikuti), tetapi ora keli (tidak hanyut).

Beliau sendiri untuk mendekati masyarakatnya itu melalui budaya seperti:

  • Wayang kulit
  • Pakaian dan seni
  • Tembang dan suluk
  • Tradisi lokal

Namun meski tampak mengikuti budaya Jawa kuno, tetapi beliau tidak kehilangan nilai-nilai Islam yang dibawanya. Inilah hafalan yang ingin beliau tanamkan:

Ikuti adat selama tidak melanggar prinsip kebenaran.

Pendekatan inilah yang membuat ajaran beliau mudah diterima dengan damai, tanpa benturan, tanpa memaksa. Hingga kini, cara berpikir ini masih relevan dalam kehidupan modern seperti sekarang ini.

Baca Juga:

Makna bagi Kehidupan Modern

1. Adaptif dan Luwes

Mengalir seperti air berarti bersedia berubah, belajar hal hal yang baru, dan memperbaiki diri. Hal ini sangat penting terutama dalam sebuah pekerjaan, bisnis, atau hubungan sosial.

2. Perlu pondasi yang Kuat

“Tidak hanyut” berarti punya batasan, punya prinsip. Tanpa itu, kita akan kehilangan arah yang benar.

3. Tenang dalam Menghadapi Masalah

Air mengalir tanpa tergesa gesa. Sehingga prinsip ini mengajarkan kepada kita agar kita tidak mudah panik, tidak reaktif, tetapi tetap bergerak mencari solusinya.

4. Seimbang Antara Dunia dan Batin

Budaya Jawa menekankan keseimbangan, yaitu antara kenyamanan batin dan kewajiban sosial. Mengalir tetapi tidak terombang-ambing.

Contoh Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Di lingkungan kerja:

  • Belajar sistem yang baru, cara kerja baru, teknologi baru, tetapi tetap jujur dan profesional.

Dalam pergaulan:

  • Kita mampu memahami perbedaan, tetapi tetap sopan meskipun berbeda pandangan.

Dalam keluarga:

  • Fleksibel dalam menghadapi perubahan zaman, namun tidak meninggalkan nilai keluarga.

Usaha atau bisnis:

  • Mengikuti tren digital, tetapi harga tetap jujur dan pelayanan tetap dengan tulus.

Tetap Mengalir, Tetap Teguh

Setelah memahami makna dari ungkapan “Anglaras Ilining Banyu Angeli Ananging Ora Keli”, kita bisa melihat betapa mendalamnya makna filosofi Jawa ini. Ungkapan ini juga mengajarkan kepada kita bagaimana dalam menghadapi kehidupan yang sering terjadi perubahan tetapi tanpa kehilangan arah.

Mengikuti perkembangan zaman tanpa tercerabut dari akar nilai. Mengalir seperti air, namun tetap kokoh seperti batu. Semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Terimakasih!

Baca Juga: Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti