Kondisi di rumah Burhan belum sepenuhnya terkendali. Namun,Kyai Rasyid dan Hanan merasakan adanya sebuah energi negatif yang sangat kuat. “Hanan…sebaiknya kita hentikan langsung dari sumbernya saja! ”seru Kyai Rasyid. “Maksudnya kita kembali kesana, Kyai?” tanya Hanan. “Tidak ada jalan lain, disini biar mereka bertahan. Kita serang sumbernya langsung,” jawab Kyai Rasyid.
Mereka berdua pun kembali ke lokasi upacara Maithuna modern. Meskipun Hanan tidak tega meninggalkan Alisa. Namun, dia lebih percaya ucapan Kyai Rasyid. Jika untuk menghentikan teror harus datangi sumbernya. …Alisa terpaku mendengar Arsyita berteriak. Tatapan mata Arsyita seperti melihat sesuatu tepat di belakang Alisa, seolah ada sosok lainyang berdiri mengintai.
Alisa spontan menoleh—namun yang dilihatnya hanya dinding rumah Burhan yang retak menggantung, debu halus berjatuhan seperti pasir dari langit-langit. “Arsyita… maksudmu apa? Apa yang kamu lihat?” Alisa berusaha mendekat. Namun, Arsyita mundur dua langkah, memegang kepalanya seperti menahan tekanan hebat. “Jangan keluar rumah! Mas Bayu dan kamu… ada tanda ditubuh kalian… tanda itu terlihat! Mereka sudah menemukannya!” teriak Arsyita gemetar.
Bayu yang mendengar dari ruang tengah langsung menghampiri. “Arsyita, tanda apa? Siapa yang menemukan?” tanya Bayu. Namun, Arsyita tidak menjawab. Matanya berubah sayu, setengah kosong, seakan melihat dua dimensi sekaligus: dunia nyata dan dunia gaib yang sedang bertabrakan.…Sementara itu di lokasi ritual…Kyai Rasyid merasakan tekanan gaib meningkat berkali-kali lipat.
Dari kejauhan terdengar suara gemuruh halus, bukan suara badai, tapi seperti ratusan bisikan menyatu menjadi dengungan mengerikan. Di balik pepohonan, cahaya kemerahan muncul—bukan api, melainkan kilatan energi ritual. “Hanan… ini lebih berat dari dugaan kita.” Suara Kyai Rasyidterdengar serak. Hanan menelan ludah.
Baca Juga:
“Apa kita harus menunggu? Atau menyerang sekarang?” “Tidak! Mereka masih melakukan prosesi Maithuna… energi mereka sedang kuat-kuatnya. Kalau kita menerobos saat puncak ritual, kita akan disambar hantaman balik. Kita perlu memotong suplai energi mereka dari jauh.” Hanan mengangguk.
Ia duduk bersila mengikuti perintah. Kyai Rasyid mulai melantunkan doa panjang, dengan doa-doa khusus yang jarang digunakan kecuali dalam keadaan genting. Beberapa detik kemudian, suara teriakan perempuan dan laki-laki bercampur dari arah lokasi ritual. Bukan teriakan kesakitan,melainkan teriakan ekstase, tak terkendali—puncak pesta energi. Ritual Maithuna modern yang dilakukan secara swinger itu mencapai titik paling berbahaya.
“Bismillah…” gumam Kyai Rasyid. “Jika terlambat beberapa menit saja, yang mereka panggil bisa sepenuhnya turun dan menguasai tubuh mereka.” Ia mempercepat bacaan doa, mencoba memutus jalur energi yang menghubungkan ratusan tubuh peserta ritual dengan pemanggilan astral Narpati.…
Kembali ke rumah Burhan…Dentuman keras terjadi dari luar. Semua yang ada di rumahsontak menjerit. Dinding yang sebelumnya hanya retak kini bergeser beberapa sentimeter, menimbulkan suara kraakkk yang merambat ke seluruh ruangan. Lampu gantung bergoyang liar, seperti akan tercabut dari tempatnya.
Nenek Lastri memeluk Maisaroh yang masih setengah linglung dan seperti tidak bisa berhenti menangis sejak menerima kabar tentang Arsyi tabukan anak kandungnya. Trauma dan ketakutan bercampur jadi satu. “Ya Allah… apa ini?” Nenek Lastri merapatkan tubuh Maisaroh, seakan bisa melindunginya dari kekuatan tak terlihat yang mengguncang rumah.
Bayu berusaha menahan pintu depan yang terus bergerak seperti ada yang mendorong dari luar. Pintu itu bukan hanya bergetar—melainkan seperti dihantam dari sisi lain oleh makhluk tak terlihat. “Mas! Mundur!” teriak Alisa. Namun, Bayu tetap menahan pintu. “Kalau ini jebol, semua bisa masuk! Apa pun itu, tidak boleh masuk!”
Tiba-tiba, suara tertawa lirih tapi panjang terdengar dari seluruh arah ruangan. “Hahahahaha… manusia-manusia tolol… kalian pikir bisa mengubah garis takdir?” Suara itu bergema, kadang terasa dari langit-langit, kadang dari lantai, kadang seolah berbisik di telinga Bayu langsung. Suara yang berputar putar tak jelas sumbernya. Membuat semua semakin ketakutan dan panik.
Semua orang panik. Bahkan Arsyita yang sebelumnya keras menangis, kini menutup telinga, berjongkok, dan menggeleng-geleng. “Itu suara Narpati… dia datang dari jauh… mengirimkan gangguannya…” bisik Arsyita ketakutan. Alisa segera memeluknya.
“Syita! Katakan ke kita apa yang kamu lihat! Apa ‘tanda’yang kamu maksud tadi?!” Arsyita membuka mata perlahan… dan air matanya mengalir deras.“Tanda itu… tanda warisannya… tanda yang dulu ditinggalkan di tubuh keturunan keluarga Mas Bayu… tanda yang mereka incar untuk memperkuat ritual mereka.
Aku bisa melihatnya dari kalian berdua… Mas Bayu dan kamu.” Bayu mengernyit. “Tanda? Aku tidak pernah punya tanda aneh apa pun.” Arsyita menatap dada Bayu. “Di sisi kiri… dekat jantung… ada cahaya merah samar. Kamu tidak bisa melihatnya, tapi makhluk astral bisa. Tanda itu seperti obor yang menarik mereka.”
Bayu terdiam. Sementara itu, teror semakin dahsyat. Piring di dapur melayang sendiri lalu pecah. Tirai jendela melambai meski tidak ada angin. Bahkan meja makan bergetar hebat sampai hampir terjungkal. Alisa memegang tangan Bayu erat-erat. “Mas, mereka bisa masuk kalau Kyai Rasyid gagal menghentikanmereka.”
Belum sempat Bayu menjawab, sebuah bayangan hitam jatuh dari langit-langit, menghantam lantai tepat di depan mereka, berwujud asap pekat yang kemudian membentuk sosok seperti manusia berkepala hewan. Arsyita menjerit histeris. Makhluk itu berbisik: “Tanda itu… akan kembali pada pemiliknya… darah lama memanggil… dan kalian akan menyerahkannya kepada kami.”
Baca Juga:
…Di sisi lain – pertempuran gaib Kyai Rasyid dimulai Kyai Rasyid merasakan sesuatu. “Hanan! Mereka mulai mengirimkan manifestasi astral ke rumah Burhan! Kita harus memutus ritualnya sekarang!” Hanan menatap ke arah cahaya merah yang semakin terang. “Tapi Kyai… kita masih jauh. Apa cukup?” “Tidak ada pilihan.” Kyai Rasyid menancapkan telapak tangan ke tanah dengan keras, membaca doa pemutus energi yang paling sulit.
Sebuah pusaran angin kecil terbentuk di sekitar mereka, berputar melawan arah energi dari lokasi ritual. Di lokasi ritual, sebagian peserta swinger tiba-tiba berteriak dan roboh, seperti ada yang membakar tubuh mereka dari dalam. Narpati membuka mata, kesal. “Si tua itu lagi…” gumamnya.
Ia mengangkat kedua tangan dan memfokuskan energi untuk melawan serangan gaib Kyai Rasyid. Benturan dua kekuatan terjadi. DUARRR!!!! Cahaya keemasan dan merah bertabrakan di udara, menciptakan gelombang kejut gaib yang mengguncang pepohonan.…Rumah Burhan semakin kacau Makhluk astral yang jatuh dari langit-langit itu kini melayang mendekati Arsyita.
Alisa mencoba menghadang, tapi tubuhnya seperti ditembus angin dingin. “Kamu tidak bisa menghalangi…” suara makhluk itu menggeram. “Arsyita telah melihat garis takdirnya. Dan tanda itu… akan kembali.” Arsyita terisak.“Tidak! Aku bukan pembawa tanda itu! Bukan aku!” Makhluk itu menatap Bayu dan Alisa kini.
“Tanda itu ada pada kalian berdua… keturunan keluarga Bayu…pewaris energi leluhur kuno… yang dibutuhkan untuk membuka gerbang baru ajaran kami.” Bayu maju selangkah. “Aku tidak peduli ajaran kalian. Pergi dari rumah ini!” Makhluk itu tertawa.
“Jika Maithuna mereka berhasil, rumah ini akan jadi altar pertama… keluarga ini tumbal pertama.” Tiba-tiba seluruh ruangan gelap total. Angin berputar didalam rumah. Suara teriakan, bisikan, tangisan bayi, semuanya bercampur tak jelas. Arsyita tiba-tiba kejang. “SYITAAA!!” teriak Alisa. Bayu memeluk keduanya. Suara Kyai Rasyid dari kejauhan menggema tipis, entah dari dunia nyata atau dunia gaib:
“Bertahanlah! Kami hampir memutuskan ritual mereka!” Energi gelap di rumah Burhan bergetar, seolah terganggu oleh sesuatu. Makhluk astral itu memekik marah. “Tidak! Belum waktunya! Kalian tidak boleh—” Lalu…DUAARRR!! Sesuatu seperti ledakan gaib terjadi di luar.
Cahaya putih menerobos masuk melalui retakan dinding. Makhluk astral itu tercerai berai menjadi asap hitam dan hilang. Piring jatuh. Lampu berhenti bergetar. Tirai kembali diam. Rumah tiba-tiba sunyi. Semua orang terengah, basah oleh keringat dingin. Bayu memeriksa Arsyita—masih hidup, tapi pingsan. Alisa memeluknya dan menangis lega.
Dari kejauhan terdengar suara Kyai Rasyid, kali ini lebih jelas: “Ritual mereka berhasil digagalkan… untuk sementara.” Bayu menatap dinding yang retak-retak. “Untuk sementara?” Kyai Rasyid mendekati mereka, wajahnya pucat. “Ya… Narpati dan kelompoknya akan mencoba lagi dan kali ini,mereka tahu pasti dimana ‘tanda leluhur’ berada.”
Ia menatap Bayu dan Alisa bergantian, lalu berkata: “Kalian berdua… adalah kunci.” Bayu ternganga, ucapan Kyai Rasyid sama seperti ucapan makhluk astral sebelumnya. Sebuah “Tanda” yang membuat mereka menjadi incaran Narpati. Sebuah tanda yang hanya bisa dilihat oleh pengikut setia Bhairawatantra……
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA





