Alisa bengong tak mengerti maksud ucapan Arsyita.
Tubuh remaja itu gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar seperti menahan ketakutan yang datang bertubi-tubi. “A-apa maksudmu, Syit?” Alisa mendekat perlahan. Tiba-tiba suara gemuruh mengguncang ruangan. Seperti ada sesuatu yang menyentak pondasi rumah Burhan dari bawah tanah.
Nenek Lastri menjerit dan berpegangan pada tiang karena hampir jatuh. “Lantai rumah bergerak!” teriak Bayu. Dan benar saja—ubin-ubin di tengah ruang tamu terangkat satu per satu, retak memanjang seperti akar pepohonan menjalar ke segala arah.
Dari sela retakan itu keluar hawa dingin yang menusuk seperti kabut kematian. Arsyita memeluk kepalanya, menjerit,
“Mereka mau memutus ikatan kalian dengan keluarga ini! Mas Bayu, Mbak Alisa…keluar berarti kalian tak punya perlindungan!” “Apa maksudmu perlindungan?” tanya Bayu keras, namun wajahnya tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Arsyita menatap Alisa dengan mata sembab tapi tajam.
“Mereka menyerang dari jauh… dari ritual itu. Aku merasakannya. Kita sedang dijadikan tumbal tak langsung. Kalau kalian keluar rumah sekarang—energi kalian akan ‘ditarik’ langsung oleh Narpati! ”Bayu membeku.
Alisa memeluk Arsyita, mencoba menenangkan, tapi dirinya sendiri ketakutan. Di luar rumah, angin berputar seperti pusaran setan.Pepohonan menunduk seolah menyoroti rumah Burhan sebagai target utama. Atap rumah kembali berderak keras, bahkan kini tampak seperti ingin tercabut.…
Sementara itu — di lokasi ritual Maithuna modern Ruang besar yang digunakan Narpati dan pengikutnya dipenuhi asap dupa hitam pekat.
Puluhan lelaki dan wanita, sebagian pasangan suami istri, sebagian lagi tak jelas hubungan apa, melakukan praktik Maithuna modern—sebuah pesta penyaluran energi melalui hubungan fisik yang disamarkan sebagai “bukakesadaran spiritual”. Tidak ada batasan, tidak ada rasa malu.
Tubuh-tubuh bergerak seperti wayang yang dikendalikan dari balik layar.
Tawa, erangan, desahan, bercampur dengan mantra. “Energi mereka sudah terhubung,” gumam seorang tokoh ritual berkerudung hitam sambil menata belasan lilin merah. “Saat Kundalini mereka naik… kita mulai menarik roh-roh penjaga mereka.”Narpati duduk di singgasana kecil di tengah ruangan, memejamkan mata.
Di hadapannya seorang wanita yang sedang trance memanjangkan lidahnya seperti terhipnotis. “Teruskan,” bisiknya pelan tapi penuh kuasa. “Arahkan energi puncak mereka kepada keluarga Burhan. Terutama dua anak itu.
Baca Juga:
”Ratusan meter dari sana, Kyai Rasyid merasakan tekanan itu menusuk dadanya. “Kita terlambat beberapa menit saja, Hanan… mereka sudah mulai memanggil khodam jalang. ”Kyai Rasyid meletakkan kedua telapak tangannya di tanah.
Hanan mengawasi dengan napas tersengal. “Ya Allah… panas sekali energi ini.” “Panas tapi gelap, ” jawab Kyai Rasyid. “Ini energi Maithunahitam. Mereka memakai hubungan tubuh untuk memancing kekuatan astral.
Sekarang dengarkan aku, jangan mendekat lagi. ”Hanan mengangguk, meski wajahnya menegang. Kyai Rasyid menutup mata lalu melantunkan doa yang suaranya langsung bergetar ketika keluar dari mulutnya.
Doa itu terdengar seperti menderu, mengiris udara. Tiba-tiba, langit di atas mereka menjentikkan cahaya—seperti dua kekuatan tak kasat mata saling bertabrakan. Perang bintang pun meletus. Awan berputar tak wajar, cahaya dan bayangan saling menyambar.
Energi hitam memanjang seperti ekor komet dari arah lokasi ritual.
Energi putih muncul memanjang dari arah Kyai Rasyid. Benturan terjadi tanpa suara.
Namun tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.…Kembali ke rumah Burhan — Teror memuncak“ ASTAGHFIRULLAH!” teriak Burhan dari dapur ketika piring-piring berjatuhan sendiri. Maisaroh tersungkur sambil menangis tanpa suara. “Apa salahku, Ya Allah! Apa salahku sampai harus dihantam begini?!”
Suaranya pecah, tubuhnya menggigil.Dari pintu kamar terdengar suara seperti kuku panjangmenggaruk kayu.
Bayu dan Alisa spontan menoleh. Cekrek… cekrekkk…Cekrekkkkkk…“Apa itu?” bisik Alisa. “Jangan mendekat,” kata Arsyita gemetar. Bayu mengambil kayu pengadang jendela untuk berjaga. “Apapun itu, kita tidak boleh berpisah.
”Tiba-tiba lampu padam. Gelap total. Sejenak, hanya terdengar suara napas panik. Lalu…DARRR!Seluruh jendela meledak bersamaan seperti ditembakkan peluru tak kasat mata. Angin hitam masuk berputar, dinginnya menusuk seperti ribuan jarum.
Alisa menjerit dan memeluk Arsyita. Dari tengah pusaran itu, sosok samar berwarna hitam tampak memanjang seperti bayangan orang yang dipaksa merayap di dinding.
Bayu melihatnya jelas—sosok itu seperti ‘ditarik’ dari arah jauh, seolah energi yang muncul adalah pancaran ritual. Bayangan itu merayap pelan…
…menuju Alisa. Arsyita menahan tangan Alisa. “Mereka mau kamu… mereka mau Mas Bayu… kalian dianggap penghalang pengambil alihan harta keluarga ini! ”Bayu berteriak, “SIAPA YANG MENGIRIM INI?! ”Namun, jawabannya muncul sendiri ketika suara mendesis muncul dari tengah pusaran: “Nar… pa… ti…” Suara itu bukan manusia. Bukan makhluk biasa.
Seolah berasal dari udara itu sendiri. Maisaroh jatuh pingsan. Burhan menggendong istrinya sambil mundur, wajahnya tak lagi bisa menyembunyikan panik—seorang ketua RT sekalipun kalah oleh teror seperti ini. Bayu memberanikan diri melangkah maju.
“Kalau kalian mau, ambil aku! Jangan sentuh mereka!” Bayangan itu berhenti.
Baca Juga:
Kemudian berubah bentuk—kepalanya memanjang, tubuhnya melebar, lalu mengeluarkan suara tawa cekikikan yang mengerikan.“Bukan… kamu…” Bayu terdiam.
Siapa target sebenarnya? Bayangan itu membuka ‘mulutnya’ yang lebar seperti sobekan kain hitam……dan menunjuk ke Arsyita. “Dia… ikatannya harus… diputus…” Arsyita mundur sambil gemetar tak terkendali.
“Kenapa aku?! Aku nggak punya apa-apa!” Alisa memeluknya.
“Kamu keluargaku. Kamu adikku. Mereka nggak boleh—” Tiba-tiba Bayu melihat sesuatu. Dari punggung Arsyita muncul cahaya tipis, seperti benang putih yang berdenyut.
Bayu sadar—itu ikatan emosional yang baru saja diakui Burhan dan Maisaroh.
Ikatan yang hendak dikukuhkan lewat kenduri. Narpati ingin menghancurkan itu sebelum sah secara adat.…Lokasi Ritual — Kyai Rasyid mulai kalah Kyai Rasyid tersentak ketika angin kencang menerjangnya dari samping.
Doanya terpatah sebentar. Hanan hampir terjatuh.
“Kyai! Kenapa?!” “Mereka menemukan celah!”
Kyai Rasyid mengeluarkan tasbih, menggenggamnya erat.
“Energi keluarga itu sedang lemah. Teror mereka masuk karena ikatan Arsyita belum diteguhkan!” “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Kyai Rasyid membuka mata.
“Kita harus memaksa menghentikan ritual itu hari ini. Atau keluarga itu…terutama Arsyita… akan menjadi korban tumbal pertama.” …Kembali ke rumah Burhan Pusaran angin tiba-tiba menyempit menjadi satu titik gelap di depan Arsyita.
Bayangan itu bergerak cepat, menembus udara seperti hendak melompat menelan Arsyita. “SYITAAA!” teriak Alisa dan Bayu bersamaan. Namun ketika makhluk itu hampir menyentuhnya… DUM! Suara keras bergemuruh dari luar rumah, seperti ada sesuatu yang dihantam dari langit.
Cahaya putih menyambar seluruh ruangan—bukan dari lampu, tapi dari arah luar, seperti petir memecah kegelapan. Bayangan itu menjerit panjang sebelum pecah menjadi debu hitam. Pusaran angin berhenti.
Retakan dinding berhenti merambat.
Atap rumah yang terangkat perlahan turun kembali. Bayu, Alisa, Nenek Lastri, Burhan, dan Maisaroh (yang mulaisadar) menatap pintu depan. Seseorang berdiri di sana. Hanan. Nafasnya terengah, wajahnya penuh tanah dan keringat, namun matanya tajam penuh tekad.
Ia menatap Arsyita.“Syita… kamu harus ikut kami sekarang. Ritual itu belum berhenti. Mereka belum menyerah. ”Di belakang Hanan, Kyai Rasyid berjalan pelan namun tegas. Beliau menatap semua penghuni rumah. “Ini belum berakhir, kita harus lebih waspada,” katanya pelan namun sangat jelas.
“Ritual mereka belum selesai dan serangan berikutnya… akan lebih besar dari ini. ”Semua tercengang, kehadiran Hanan yang tiba-tiba. Perkataan Hanan yang membuat semakin merinding. tidak tahu harus berkata dan berbuat apalagi….
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA



