Sabilulhuda, Yogyakarta: LANJUTAN “TEROR RITUAL MAITHUNA MODERN & KEKACAUAN DI RUMAH BURHAN” – Atap rumah Burhan bergetar keras hingga bisingnya terdengar seperti puluhan tangan mengetuk-ngetuk genteng sekaligus. Angin dingin tanpa arah menerobos celah rumah. Bau tanah basah dan dupa terbakar mengalir dari arah yang tak bisa dijelaskan, mendadak memenuhi ruangan seperti asap klenik yang hidup. Bayu memegang dada, napasnya terasa sesak.
“Ini… gangguan yang sama seperti di rumahku dulu…” gumamnya. Nenek Lastri yang duduk di kursi pojok tampak pucat. Tangannya gemetar memegang tasbih.
“Ini bukan gangguan biasa. Ada yang sengaja mengarahkan kekuatan buruk ini kerumah kalian… ”Tiba-tiba terdengar suara “KRAAAAK!” dari dinding bagian timur. Retakan memanjang seperti digores kuku raksasa dari balik tembok. Debu berjatuhan.
Maisaroh yang sedari tadi memeluk Arsyita langsung menjerit. Burhan berusaha berdiri dan menenangkan istri serta putrinya—yang baru akan diresmikan secara sah sebagai anak kandung mereka dalam acara kenduri malam ini. Tapi situasi berubah menjadi kacau sebelum acara dimulai.
“Semua ke tengah rumah! Jangan dekat dinding, jangan dekat pintu!” seru Burhan. Namun baru ia mengacungkan tangan, lampu rumah padam. Gelap gulita. Hanya dentuman dari atap dan suara seperti hembusan napas panjang yang melingkari mereka.
Hwooooo… hwooooo…Suara itu bukan angin. Tapi seperti mulut besar yang mengelus-ngelus ruang tamu dengan bisikan jijik. Arsyita yang dikelilingi Alisa dan Maisaroh gemetar hebat.
“Tadi… aku melihat bayangan tinggi… di pojok sana… dia mengawasi kita,” bisiknya dengan suara bergetar. Bayu maju selangkah. “Di mana?”Namun seketika Arsyita berteriak melihat ke arah Bayu.
“Kamu dan Mas Bayu dalam bahaya! Jangan ke luar rumah! Kamu harus tetap di dalam!”Alisa melongo, bingung mendengar Arsyita berteriak begitu panik.
“Kenapa? Apa yang kamu lihat, Arsyita?”Arsyita menutup wajahnya. “Mereka… mereka sedang memanggil sesuatu. Dan makhluk itu mencari kalian berdua. Kalau kalian sampai keluar…kalian yang akan jadi tumbalnya! ”Bayu tersentak.…Sementara itu – di lokasi ritual Maithuna modern Kyai Rasyid menahan Hanan dengan tangan terangkat.
baca Juga:
Wajahnya tegang. “Tunggu. Kalau kita melangkah lebih dekat lagi… maka energy yang dikumpulkan mereka memuncak dan menelan ritme alam di sekitar sini. Kita harus menghentikan dari luar lintasan, bukan menerobosnya. ”Hanan mengernyit.
“Jalan apa yang mereka gunakan? Kok kekuatannya bisa sebesar ini?” “Ini bukan lagi pancamakarapuja asli… ini versi kotor yang sudah dipelintir oleh generasi modern yang tak paham batas.”
Kyai Rasyid memejamkan mata.
“Mereka mengganti Maithuna dengan pesta syahwat. Kotor… sangat kotor. Mereka memaksa energi manusia berbaur sebagai pemantik memanggil khodam liar. ”Hanan yang sebelumnya hanya tahu garis besar ritual itu kini memahami betapa ngeri manifestasi modernnya.
“Pantas aroma gaibnya berbeda… sangat berat,” gumamnya. Di kejauhan—walau masih ratusan meter—mereka bisa melihat samar-samar cahaya merah seperti bara, mengambang di udara. Suara teriakan danerangan dari para pelaku ritual terdengar seperti gema dari perut bumi.
Para peserta Maithuna modern itu tampak tak memiliki kesadaran. Mereka menari, bercampur, menukar pasangan tanpa batas dalam satu ruangan besar yang diterangi lilin hitam. Dupa hitam menyala di tiap sudut, mengeluarkan bau menyengat.
Seorang pemimpin ritual membakar kemenyan sambil membaca mantra terpelintir dari naskah kuno yang kabarnya diwariskan oleh keturunan asli aliran tersebut. Salah satunya—Narpati sendiri—yang sejak awal memang berniat membangkitkan kembali aliran itu secara diam-diam. Narpati berdiri di tengah lingkaran, dada dicoret-coret tinta merah.
“Sebentar lagi… kekuatan itu milik kita. Kita yang bertugas menjaga warisan leluhur… kita yang akan tembus batas! ”Para pengikutnya berteriak histeris, tubuh mereka berkeringat dan tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Kyai Rasyid membuka mata.
“Kalau kita biarkan, mereka akan berhasil memberangus pelindung keluarga Bayu. Dan tujuan akhir mereka adalah mengambil alih ‘aset’ peninggalan leluhur Bayu yang masih dikuasai orang lain. Itu yang mereka incar. ”Hanan menggenggam botol air doa yang ia bawa.
“Lalu apa yang kita lakukan?” “Kita tak boleh masuk ke dalam lingkaran setan itu. Kita hancurkan penghubungnya… ”Kyai Rasyid mulai membaca doa penghenti ritual. Suaranya dalam dan berlapis. Doa itu tak hanya lantunan… tapi seperti gelombang yang bergetar di udara.
Saat doa dimulai, perang bintang pun pecah.… Perang Gaib – Luar vs Dalam Ruangan Ritual Dari dalam lokasi ritual, asap hitam berkumpul membentuk sosok menyerupai kepala raksasa dengan mulut terbuka. Mata merahnya menyala, mengamati arah Kyai Rasyid.
“Rupanya… ada yang menghalangi…” desis Narpati sambil tersenyum dingin. Para pengikutnya—yang tubuhnya tak ubah seperti boneka hidup—berteriak nyaring. Wajah mereka melengkung tak wajar, seperti sedang kerasukan bersamaan. Tangan-tangan mereka terangkat dan asap gelap merembes dari ujung jari.
Baca Juga:
Energi hitam itu dikirimkan ke arah Kyai Rasyid bagaikan tembakan panah gaib. “Tahan, Hanan!” teriak Kyai Rasyid. Hanan mengangkat botol air doa dan memercikkan air itu di udara. Selapis cahaya bening muncul, membentuk tameng. Benturan energi terjadi.
BUAAARRRR!! Tanah bergetar. Pohon-pohon di sekitar mereka melengkung ke satu arah. Daun berjatuhan bagaikan hujan malam. Kyai Rasyid menambah keras doa.
“Dengan izin-Nya… aku patahkan rantai najis kalian!” Cahaya dari tangan Kyai Rasyid memancar jauh, menghantam batas lingkaran ritual. Dupa hitam satu per satu padam. Api lilin bergetar seperti diterpa badai. Narpati memekik marah.
“Teruskan ritualnya! Jangan berhenti!” Tetapi kekuatan gaib Kyai Rasyid mulai masuk dan mengganggu sinkronisasi ritual Maithuna modern itu. Pelaku-pelakunya mulai terjerembab dan kehilangan kesadaran. Lilin-lilin padam, dan suara mantra mulai terputus-putus. Namun… sebelum ritual benar-benar runtuh, Narpati mengambil sebilah keris kecil.
Ia melukai tangannya sendiri—darah menetes ke bara dupa. “Kalau begitu… aku percepat pemanggilannya!”… Kembali ke Rumah Burhan – Teror Memuncak Retakan di dinding semakin melebar. Dari celah itu keluar angin yang menyakitkan kulit, seperti sendok es menggaruk tulang. Maisaroh memeluk Arsyita erat-erat.
“Ya Allah… tolong kami…”Nenek Lastri tiba-tiba menjerit. “Ada yang lewat di atas kita! Ada yang terbang!” Bayu menatap ke atas. Atap berguncang. Sesuatu berjalan cepat di atas genteng, seperti makhluk bertulang panjang yang merangkak. Tok! Tok! Tok! Tok! Arsyita tiba-tiba memegang kepala, merintih.
“Mereka mencari Bayu! Mas Bayu harus tetap di dalam. Kalau Mas keluar… mereka akan ambil jiwamu!” Bayu menelan ludah. “Kenapa aku?”Arsyita menatapnya dengan air mata mengalir.
“Karena… kamu salah satu kunci dari aset keluarga Bayu. Kamu… jalur yang mereka butuhkan…” Belum sempat Bayu bertanya lebih jauh, pintu depan rumah tiba-tiba terhempas terbuka. Angin hitam menerobos masuk seperti pusaran kabut.
Lampu-lampu padam total. Rumah menjadi gelap dan dingin seketika. Terdengar suara dari arah pintu—suara yang sangat dalam dan bergema. “Serahkan dia… jalannya telah dibuka…” Suara itu bukan suara manusia. Alisa spontan memegang tangan Bayu.
“Kita harus berlindung! Jangan bergerak!” Arsyita menjerit sambil memeluk kepalanya, seolah mendengar suara lain yang hanya ia yang bisa dengar.
“Mereka mau masuk! Kekuatan dari sana… sudah hampir memecah perisai rumah ini!” Maisaroh menangis keras. Burhan memeluknya.
“Kenapa… kenapa ini terjadi pada keluarga kita…” Bayu menatap kegelapan yang bergerak, merayap ke dalam ruangan seperti tinta hidup. “Arsyita… apa yang mereka mau dariku?” Arsyita memandangnya dengan wajah ngeri.
“Mereka mau… mengambilmu sebagai pemantik terakhir untuk menguasai kekuatan warisan keluarga. Dan kalau Mas keluar… Mas bisa mati sebelum fajar…” Suara di luar semakin keras.
Getaran dari tempat ritual Narpati mulai merambat sampai ke rumah Burhan, seperti dua dunia mulai bersinggungan. Dan kemudian—PRAAAAK!!
Salah satu jendela pecah bagaikan dihantam benda besar. Dari celah itu muncul lengan hitam besar, panjang dan tak berbentuk manusia. Lengan itu meraba udara… mencari sesuatu… Kemudian ujungnya berhenti tepat mengarah ke Bayu.…Bersambung…
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA





