Sabilulhuda, Yogyakarta: Teror yang Datang dari Jarak TakTerduga – Malam itu Desa Kalisurya seperti terbungkus kain kabut yang tebal. Udara begitu lembap seolah sedang menahan napas. Di rumah Burhan, Maisaroh duduk memeluk lutut di kamar, wajahnya pucat seperti kain kafan yang belum disentuh.
Sudah beberapa hari ia seperti itu, sejak kenyataan tentang Arsyita terkuak dan membuat seluruh fondasi rumah tangganya bergetar.Arsyita mengetuk pintu pelan.
“Ibu… boleh Sita masuk?”Tidak ada jawaban, tapi pintu tidak dikunci. Arsyita melangkah masuk. Maisaroh menunduk, bahunya sedikit bergetar, bukan menangis—lebih seperti orang yang kehilangan arah hidup.”Bu… jangan pikir Ibu kehilangan anak, “Arsyita berusaha tersenyum, meski bibirnya kering.
“Aku tetap anak Ibu. Kandung atau tidak, aku tetap Arsyita yang Ibu besarkan. “Maisaroh mendongak pelan. Mata merah itu menyapu wajah Arsyita.
“Kamu tidak mengerti, Nak… Aku merasa gagal sebagai ibu. Aku membohongimu tanpa sengaja… dan sekarang kamu harus menanggung akibatnya.””Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, Bu. Benar-benar tidak.
“Suasana itu begitu rapuh, sampai-sampai ketika angin malam merayap masuk lewat celah jendela, suara gesekan tirai terdengar seperti bisikan halus perempuan asing. Maisaroh merapatkan selendangnya. Sejak beberapa hari, rumah itu sering diganggu:
bayangan seperti perempuan berambut sangat panjang berdiri di sudut rumah, suara langkah kaki padahal tak ada siapa pun, dan kadang terdengar gumaman dari atap rumah, gumaman yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Arsyita mencoba menguatkan diri.
Ia mendekat, duduk disamping ibunya dan menggenggam tangannya.…Rencana Kenduri Pengukuhan Arsyita Burhan muncul di ambang pintu, wajah lelah tapi tegas.
“Sudahlah, Mai…. Kita sudah diskusikan. Kita adakan kenduri kecil saja. Kita umumkan di depan keluarga bahwa Sita tetap jadi anak kita. Tidak ada yang berubah.”Maisaroh mengangguk, meski ketakutannya belum hilang. Kenduri itu harusnya gampang: kumpul keluarga, doa bersama, makan tumpeng.
Tapi sejak Anisa meninggalkan pesan terakhir tentang kelompok yang ingin melakukan kejahatan berbalut mistis, semuanya terasa tidak wajar lagi. Bahkan udara di rumah seperti menolak rencana kenduri ini. “Bu… Ayah… ini semua pasti ada hubungannya dengan pesan Almarhumah Anisa, ” ucap Arsyita lirih.
Baca Juga:
“Dia bilang ada orang jahat yang menggunakan hal-hal mistis untuk mengganggu keluarga Hanan… dan keluarga kita terseret. “Burhan terdiam.
Ia tidak ingin percaya dunia mistis bisa masuk sedalam itu. Tapi apa yang dirasakannya beberapa hari ini membuat kepercayaannya goyah.…Di Tempat Lain — Ritual Maithuna “Baru” yang Mengerikan. Sementara keluarga Burhan diliputi kegundahan, puluhan kilometer dari sana—di sebuah villa mewah di dataran tinggi—sebuah ritual sedang dipersiapkan oleh kelompok rahasia pimpinan Narpati.
Malam itu mereka akan melaksanakan salah satu dari unsur Pancamakarapuja versi modern: Maithuna, yang dulunya adalah ajaran sakral, namun kini telah direkonstruksi dengan cara yang sangat menyimpang dan dinodai oleh kepentingan kekuasaan serta harta.
Mereka menyebutnya “Maithuna Modern”, namun sesungguhnya itu hanyalah ritual swinger yang diselimuti mantra-mantra kuno. Lampu temaram lilin hitam menyala, membentuk lingkaran. Ditengahnya, Narpati berdiri dengan jubah merah darah, rambut dikuncir tinggi seperti dukun tua, padahal wajahnya masih muda.
Di sekelilingnya, empat pasangan berdiri dengan topeng kayu. Tidak ada kegairahan. Yang ada hanyalah ketakutan terselubung. Narpati mengangkat mangkuk berisi cairan pekat berwarna merah gelap.
“Malam ini kita buka kembali gerbang lama. Kita ulang ajaran nenek moyang kita dengan tubuh-tubuh baru. Maithuna bukan untuk kenikmatan, tapi untuk menukar energi, mengambil kekuasaan, dan merebut hak kita yang dirampas keluarga Bayu. “Ia meneteskan cairan itu pada lidah sebuah topeng kayu berbentuk wajah perempuan menangis. Lilin bergetar.
Angin berputar seperti pusaran kecil. Energi itu—gelap, purba, menekan—bergerak ke luar villa. Narpati memejamkan mata dan mengarahkan telapak tangannya ke utara. “Cari mereka… pecah persatuan keluarga itu.
Guncangkan jiwa Maisaroh. Biarkan kenduri besok menjadi awal kehancuran mereka. Aset keluarga Bayu harus kembali kepada kami. Itu takdir darah.”Angin menerjang lilin.
Beberapa padam.
Salah satu pasangan terjatuh dengan tubuh kejang-kejang. Dari jauh di Desa Kalisurya… teror itu mulai bergerak.…Malam Menjelang Kenduri — Teror Dimulai Maisaroh yang sudah sedikit tenang akhirnya memutuskan tidur.
Arsyita menemani dan duduk di kursi samping tempat tidur, membaca doa pelan. Malam sangat sunyi, hanya suara jangkrik yang berulang seperti siulan panjang. Tiba-tiba…“KREK… KREK…”Suara seperti kuku menggaruk dinding terdengar dari sisiluar kamar. Maisaroh memeluk selimut.
“Sita… itu apa?”Arsyita bangkit pelan.
“Mungkin kucing, Bu…”Namun ketika ia mendekat, suara itu berubah. Bukan lagi suara garukan.
Melainkan suara ketukan tiga kali.
Pelan, tapi ritmenya jelas.
Seperti seseorang mengetuk peti mati dari dalam.TOK… TOK… TOK…Arsyita mundur selangkah.
Maisaroh menutup telinga. Ketukan berhenti, diganti suara bisikan perempuan.
Sangat dekat.
Seolah berada tepat di balik dinding tipis itu. “Maisaaaroh…”Maisaroh menjerit, memeluk Arsyita.
Arsyita menatap dinding itu tanpa berkedip, mencoba menahan guncangan batinnya. Suara itu kemudian tertawa, suara kecil tapi menusuk, seperti seseorang yang merayakan keberhasilan kecilnya. Lampu kamar meredup.
Bayangan panjang muncul dari bawah tempat tidur, seperti tangan yang memanjang tak wajar. Arsyita menarik Maisaroh ke sudut ruang.
Baca Juga:
“Bu! Jangan lihat apa pun! Jangan dengarkan! “Bayangan itu merayap naik ke tembok, membentuk siluet tubuh perempuan kurus dengan leher panjang dan rambut menggantung. Mata Arsyita membesar. Itu bukan Anisa.
Roh itu bukan roh keluarga.
Ini sesuatu yang dikirim… jauh dari tempat lain.…Puncak Teror: Pesan dari Anisa Saat ketegangan mencapai puncak, tiba-tiba suhu ruangan berubah drastis menjadi hangat—bukan panas—melainkan hangat yang menenangkan, seperti dipeluk seseorang.
Bayangan hitam itu terhenti, lalu hancur seperti debu yang ditiup angin. Aroma melati memenuhi kamar. Dan dari sisi tempat tidur, suara lembut muncul.
Suara yang sudah sangat dikenal Arsyita dan Maisaroh.“Jangan takut… Aku masih di sini. ”Wujud samar Anisa muncul. Bukan seperti hantu menakutkan. Melainkan cahaya yang menyerupai tubuh perempuan dengan wajah damai, seperti foto dirinya saat hidup. Maisaroh langsung tersungkur menangis.
“Anisa… maafkan Ibu… maafkan semuanya…”Anisa mendekat, wajahnya penuh kasih. “Sudah, Bu… Aku tidak sakit. Aku sudah sabar menerima semuanya. Takdir tidak bisa diubah, tapi kita bisa mencegah sesuatu yang lebih buruk.
”Ia menatap Arsyita. “Sita… lindungi Ibumu. Jangan biarkan Narpati dan kelompok itu merusak keluarga Burhan. Mereka mengejar aset keluarga Bayu… dan mereka tidak akan berhenti. Ritual mereka sudah dimulai. ”Arsyita menelan ludah.
“Apa yang harus kami lakukan? Mereka mengganggu dari jauh…”Anisa tersenyum kecil, walau matanya menyiratkan kecemasan. “Nanti saat kenduri, kalian akan dibawa ke titik paling rentan. Tapi ingat, jangan bubarkan kenduri itu.
Justru itu yang memperkuat keluarga kita… dan melemahkan mereka. ”Suara ketukan terdengar lagi. Namun kali ini, bukan dari dinding. Melainkan dari luar rumah—seperti banyak langkah berkumpul. Anisa menatap ke arah pintu kamar.
“Mereka sudah datang… Aku harus pergi. Kalian kuatkan diri. ”Wujudnya menghilang perlahan.…Awal Ketegangan di Pagi Hari Burhan masuk kamar dengan napas terengah.
“Kalian dengar langkah-langkah itu? Di luar rumah seperti ada orang kumpul! Tapi tidak terlihat siapa-siapa! “Arsyita memegang tangannya.
“Ayah… Kenduri harus tetap jalan. Apa pun yang terjadi. “Dari luar rumah, terdengar suara perempuan menyanyi pelan.
Lagu kuno yang tidak pernah diajarkan siapa pun. Maisaroh gemetar.
Burhan menutup pintu kuat-kuat. Dari kejauhan, di tempat Narpati berada, lilin merahnya padam sendiri. Ia membuka mata.
Tersenyum tipis. “Teror baru saja dimulai.”
Rumah Burhan dan Maisaroh dikelilingi makhluk tak kasat mata. keberadaan Burhan dan Kyai Rasyid belum diketahui. keduanya masih mencari lokasi dimana ritual “Maithuna Modern Versi Narpati diadakan. sedangkan rumah Burhan dan Maisaroh dalam ancaman besar. …
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA





