Qorin (Cerbung Misteri Bab 47): Teror di Rumah Burhan Saat Kenduri

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Sabilulhuda, Yogyakarta: Teror di Rumah Burhan Saat Kenduri – Angin sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah ada sesuatu yang menekan udara di sekitar rumah keluarga Burhan. Maisaroh duduk di kursi ruang tamu, wajahnya pucat, lingkar hitam di matanya tampak jelas. Sudah beberapa hari ia sulit tidur sejak kebenaran mengenai Arsyita terungkap.

Tubuhnya mungkin masih kuat, tetapi batinnya hancur.

Alisa yang selama ini ia rawat penuh kasih, ternyata bukan darah dagingnya.

Sementara Arsyita—yang selama ini ia sayangi sebagai tamu dalam rumahnya—ternyata adalah anak kandung yang hilang.

Maisaroh menangis diam-diam hampir setiap malam.

Namun, hari ini ia memaksa kuat diri. Sebab Burhan ingin melakukan kenduri kecil, sebagai wujud syukur sekaligus pengukuhan Arsyita sebagai anak kandung secara sah. Sekaligus menunjukkan bukti ilmiah berupa hasil tes DNA agar meyakinkan.

Bukan mengganti nasab, tapi justru meluruskan Nasab yang hampir terputus atau diubah seseorang.

“Bu…”

Suara Arsyita terdengar lirih dari samping.

Maisaroh mengangkat kepala, memaksakan senyum. “Iya, Nak?”

“Aku… sebenarnya nggak apa-apa kok kalau ibu masih merasa aneh… atau butuh waktu. Aku pun masih syok… Tapi aku tetap anak Ibu. Nggak bisa merubah fakta,” kata Arsyita.

Maisaroh langsung memeluknya, hampir terisak.

“Justru karena kamu bilang begitu… Ibu makin sayang… Ibu takut kamu pergi.”

Arsyita memeluk balik meski hatinya sendiri masih berkecamuk. Dia telah merasakan apa yang dirasakan Alisa sebelumnya: tidak memiliki tempat yang benar-benar miliknya.

Kemudian, keduanya terperangkap dalam lingkaran takdir yang sama.

Ritual Modern Sekte — Maithuna Baru

Di tempat lain, jauh dari rumah Burhan, sebuah vila modern berdiri di tengah hutan pinus. Lampu-lampu redup menyala, memberi kesan hangat namun mengerikan.

Di dalamnya, sekelompok orang dengan pakaian kasual—tidak seperti sekte pada umumnya—berbaris mengelilingi meja kayu besar. Pada dinding terpajang simbol-simbol kuno Vajrayana, tapi dipadukan dengan estetika minimalis modern.

Narpati berdiri di tengah mereka.

Wajahnya tenang. Matanya tajam.

“Para pewaris ajaran lama,” ucapnya dengan nada lembut namun menusuk. “Kita melanjutkan tradisi Pancamakarapuja, tapi dengan cara yang dapat diterima zaman modern.”

Baca Juga:

Para anggota mengangguk.

Di hadapan mereka, prosesi Maithuna tidak dilakukan ala tantra klasik.

Sebaliknya, mereka menggantinya dengan ritual tukar pasangan—versi modern yang terdengar seperti pesta terlarang, namun diselimuti simbol-simbol spiritual.

Ritual itu bukan sekadar pemuasan nafsu.

Ada tujuan yang lebih gelap: mengikat energi kehidupan dan kematian, membuka jalur untuk kekuatan yang tidak tampak.

Di salah satu sudut ruangan, seorang gadis muda memejamkan mata sambil menggenggam lilin merah.

“Narpati… target kita masih keluarga Bayu?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Ya,” jawab Narpati tanpa ragu. “Aset itu harus kembali. Dan keluarga itu harus menerima konsekuensi dari apa yang mereka pegang.”

“Lalu… teror yang kau kirimkan… sudah sampai?”

Narpati tersenyum tipis.

“Sebentar lagi. Kenduri mereka dimulai—dan saat itu, pintu astral paling mudah dibuka.”

Persiapan Kenduri — Badai yang Tak Terlihat

Di rumah Burhan, para tetangga mulai berdatangan membantu. Aroma masakan tumpeng, ayam ingkung, dan kue tradisional memenuhi ruang dapur. Namun Maisaroh merasakan sesuatu mengganggunya sejak pagi.

Setiap kali ia menoleh, seperti ada bayangan yang berdiri di ujung lorong.

Namun saat ia fokus, sosok itu menghilang.

“Bu, kenapa? Nggak enak badan?” tanya salah satu tetangga.

Maisaroh memaksa tersenyum. “Nggak, cuma capek.”

Namun, Arsyita yang memperhatikan dari jauh tampak gelisah.

“Bu… kalau nggak kuat, kendurinya ditunda aja?”

“Tidak,” Maisaroh menggeleng tegas. “Justru ini harus cepat dilakukan. Ibu ingin semua jelas… dan diterima.”

Meski begitu, tangan Maisaroh bergetar saat ia memegang nampan berisi bunga-bunga.

Arsyita melihat itu, dan hatinya semakin tidak tenang.

Burhan berjalan masuk, memeriksa persiapan.

“Semua sudah siap?”

“InsyaAllah siap, Mas,” jawab Maisaroh pelan.

Burhan lalu menatap Arsyita dengan kasih sayang.

“Nanti begitu kenduri dimulai, Ibu akan mengumumkan bahwa kamu tetap anak kami, sah secara batin dan hukum Negara dan Agama.”

Arsyita mengangguk, tapi pikirannya melayang ke mimpi-mimpi buruk yang ia alami dua malam terakhir:

Sosok perempuan tua bermata hitam, menatapnya dari sudut kamar.

Bisikan… suara asing yang memanggil namanya.

Serta bayangan tangan panjang yang menggapai.

Semua terasa nyata.

Terlalu nyata.

Dan malam ini, ia merasa semuanya akan kembali.

Teror Dimulai

Menjelang magrib, ketika doa akan dimulai, lampu di ruang tengah berkelip-kelip.

“Listriknya ngedrop, ya?” kata salah satu tetangga.

Namun, sebelum ada yang menjawab—

DUAAARR!

Piring-piring di meja pecah bersamaan.

Nampan berisi bunga jatuh, seperti didorong kekuatan tak terlihat.

Tetangga-tetangga langsung mundur ketakutan.

“Ya Allah!” Maisaroh menjerit sambil memegang dadanya.

Burhan mencoba tetap tenang. “Mungkin paku gantungan lepas—”

BRAAAK!

Cermin besar di dinding retak dari tengah, membentuk pola seperti mata raksasa.

Arsyita menutup mulutnya, tubuhnya bergetar hebat.

“B-bu… Bapak… itu bukan hal biasa…”

Maisaroh menangis histeris. “Apa salah saya? Kenapa arwah Anisa marah?”

Arsyita memegang bahunya kuat-kuat. “Bu! Itu bukan Anisa!”

Arsyita merasakan…

Sesuatu.

Getaran halus, tidak seperti kehadiran Anisa (arwah baik), tapi seperti energi panas, gelap, dan memaksa masuk.

Burhan memeluk mereka berdua.

“Tutup pintu! Semua ke ruang dalam!”

Namun, sebelum mereka melangkah—

Bayangan hitam merayap di lantai, seperti asap, lalu naik ke dinding.

Tetangga-tetangga mulai berdoa keras, beberapa menjerit dan lari keluar rumah.

Maisaroh terjatuh, lemas.

“Ya Allah… apa ini…?”

Arsyita menatap ke arah bayangan yang bergerak aneh itu.

Tepat di tengah bentuk kabut gelap itu—

Terlihat sepasang mata merah menusuk.

Arsyita terdiam.

Air liurnya tercekat.

Itu bukan manusia.

Bukan pula arwah penasaran.

Itu… makhluk kiriman atau khodam.

Baca Juga:

Serangan Gaib dari Jarak Jauh

Di villa hutan pinus, Narpati duduk bersila.

Di depannya ada mangkuk besar berisi air bercampur abu dupa.

Tiba-tiba air dalam mangkuk beriak keras.

Seorang anggota sekte bertanya, “Sudah menembus?”

Narpati membuka mata perlahan.

“Sudah. Rumah mereka mulai retak. Perempuan itu—Maisaroh—akan menjadi titik lemah. Rasa was-wasnya adalah pintu masuk makhluk astral.”

“Apakah kita akan mengambil aset keluarga Bayu sekarang?”

“Belum.”

Narpati tersenyum tipis.

“Kita bikin mental mereka runtuh dulu… hingga mudah dikendalikan.”

Puncak Teror di Rumah Burhan

Di ruang tamu, doa bergema bersahutan.

Suara ustaz yang didatangkan tetangga pun terpotong-potong. Lidahnya kelu seakan harus melawan kekuatan asing yang tak kasat mata.

Maisaroh tiba-tiba menutup telinganya dan menangis keras.

“Ada yang bisikin saya…! Ada yang bilang saya pendusta…! Ibu yang menyakiti anakku sendiri…! Itu bukan suara saya! Bukan!”

Burhan mengguncang tubuhnya. “Sadar, Maisaroh! Ini gangguan gaib!”

Arsyita menangis sambil memeluk Maisaroh.

“Bu! Fokus ke suara aku! Jangan dengarkan bisikan itu!”

Semua orang panik.

Lampu mati total.

Ruangan gelap gulita.

Lalu…

Terdengar suara perempuan mengerang panjang dari atap rumah.

Bukan suara manusia.

Ustaz memimpin doa lebih keras. “La ilaha illallah…!”

Arsyita merasakan hawa dingin merayap di belakangnya.

Seseorang—atau sesuatu—seperti menghembuskan napas panjang di tengkuknya.

Ia ingin menjerit…tapi sesuatu lebih mengejutkan terjadi.

Maisaroh tiba-tiba bangkit berdiri dengan mata terpejam.

Tubuhnya kaku.

Tangannya terjulur ke depan seperti ditarik oleh kekuatan tak kasatmata.

“Bu!!”

Namun, Maisaroh bukan lagi sepenuhnya sadar.

Dengan suara lirih tapi bukan suaranya sendiri, ia berbisik:

“Kau… bukan… anakku…”

Arsyita terengah, jantungnya seolah berhenti. Namun, Arsyita sadar, itu bukan kehendak Maisaroh ibu kandungnya. ada kekuatan lain yang mengendalikan tubuh Maisaroh. Sebuah Ilmu panggiring Sukma telah dikirimkan Narpati kepada Maisaroh.

Burhan menahan Maisaroh yang mulai meronta.

Tetangga menjerit.

Ustaz berteriak. “Ini kerasukan berat! Ada yang mengirim kekuatan dari jauh!”

Arsyita menangis sambil memeluk ibunya.

“Bu!! Itu bukan Ibu yang ngomong!! Jangan tinggalkan aku!!”

Maisaroh terisak meski matanya kosong.

Seolah ada dua suara bertarung dalam tubuhnya.

Satu penuh cinta.

Satu penuh kegelapan.

“Asrsita…!”

Maisaroh berkata menyebut nama Arsyita. Namun, suaranya aneh bukan suara Maisaroh biasanya. Suara yang serak dan berat. Arsyita bingung, mau melepaskan pelukan karena takut. Atau lebih erat memeluk karena khawatir dengan nasib ibu kandungnya.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Akhir Bab – Gerbang Terbuka

Di antara kekacauan itu, angin besar menerpa rumah.

Dari jendela yang terbuka, daun-daun kering berputar masuk, membentuk pusaran kecil di tengah ruangan.

Dan dari pusaran itu…

Arsyita melihat sosok kabur berwajah pucat, tampak seperti Anisa, muncul sesaat sebelum menghilang lagi.

Tatapannya penuh kepanikan, seolah memperingatkan:

“Itu bukan aku…

Hentikan mereka…

Sebelum semua terlambat…”

Arsyita menjerit saat bayangan hitam menyerang lagi.

Rumah itu terasa seperti akan runtuh.

Sementara di kejauhan…

Narpati tersenyum puas.

Gerbang sudah terbuka.

Keluarga itu akan menjadi korban pertama kebangkitan ajaran lama dalam wajah baru.