Qorin (Cerbung Misteri Bab 46): JEJAK BAYANGAN SINGASARI

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Disclaimer:

Sabilulhuda, Yogyakarta: JEJAK BAYANGAN SINGASARI – Cerita ini fiktif belaka. Terinspirasi dari sejarah lama zaman Walisongo. Nama “Bhairawa Tantra Nusantara dan Pancamakarapuja” dimaksud adalah yang ada di zaman itu. Bukan yang ada di luar negeri atau yang ada sekarang. Semoga bisa dimengerti, karena ada berbagai versi juga ada nama aliran yang sama. Namun, prosesi upacara yang berbeda.

Angin malam meremas dedaunan di halaman rumah panggung sederhana milik Kyai Rasyid. Hanan, yang duduk bersila di hadapan sang Kyai, masih memikirkan pertemuan terakhir mereka dengan makhluk berwujud ular bertanduk itu. Nafasnya belum benar-benar stabil, seakan masih menyisakan jejak panas dari serangan api yang sempat menghajar tubuhnya.

Namun kini, suasananya berbeda. Lebih dingin. Lebih sunyi.

Tanpa angin, tanpa suara jangkrik, tanpa getaran tanah. Ada hening yang tidak wajar menyelimuti rumah itu.

Kyai Rasyid merapatkan sorban putihnya dan menutup kitab kuning yang sedari tadi dibacanya.

“Hanan… bersiaplah. Malam ini, ada tamu yang akan datang. Tamu yang bukan dari dunia kita.”

Hanan menegakkan punggung.

“Dukun itu lagi, Kyai?”

“Bukan.”

Kyai Rasyid menarik napas panjang.

“Yang akan datang jauh lebih tua… dan lebih mengetahui rahasia masa lalu daripada manusia mana pun.”

Kedatangan Sosok Jin Tua

Lampu gantung di langit-langit tiba-tiba berayun kecil—padahal tidak ada angin. Lalu, dari sudut ruangan yang gelap, muncul suara gesekan halus, seperti pasir digerakkan oleh sesuatu yang tak kasatmata.

Kemudian terdengar suara laki-laki tua—serak, namun penuh wibawa:

“Assalamu’alaikum… wahai ahli ilmu.”

Suara itu begitu nyata, tetapi tidak ada sosok terlihat. Hanan langsung menegang. Bulunya meremang. Tapi Kyai Rasyid menjawab salam itu dengan tenang:

“Wa’alaikumussalam… wahai makhluk gaib. Perlihatkan maksudmu.”

Baca Juga:

Seketika ruangan dipenuhi aroma kayu gaharu dan asap tipis. Perlahan, Hanan melihat bayangan kabur, seperti siluet bergoyang di antara cahaya lampu. Ia tampak tinggi, sangat kurus, dan berselimut jubah sobek-sobek.

Namun wajahnya tidak terlihat jelas.

Yang bisa Hanan lihat hanyalah dua bola mata yang menyala redup seperti bara tua.

Sosok jin itu tertawa kecil. Tua, penuh getar, seolah suara yang berasal dari masa lampau.

“Sudah lama… sangat lama… manusia tidak memanggilku. Tapi para pengikut itu—para pecinta kegelapan—mulai menyembahku kembali.”

Hanan merinding hebat.

“Kyai… siapa dia? Kenapa perasaanku tidak enak sekali…”

Kyai Rasyid menatap ke arah kosong tempat jin itu berdiri.

“Dia… bukan sembarang jin. Dia adalah penjaga lama… sesembahan kuno para penganut Bhairawa Tantra Nusantara.”

Hanan membeku.

Jin itu mendengus bangga.

“Benar. Akulah perantara mereka… dari zaman ketika tanah ini dipenuhi asap dupa dan darah. Ketika malam bulan purnama bukan untuk syukur, tapi untuk hasrat… untuk kekuatan… dan untuk membangkitkan keturunan raja lama yang mereka yakini akan bangkit kembali.”

Asal-usul Bhairawa Tantra Nusantara

Jin tersebut berjalan—atau tampak melayang—mendekati Kyai Rasyid.

“Kau pasti sudah tahu, ahli ilmu,” katanya.

“Segala puncak kebesaran aliran Bhairawa Tantra Nusantara terjadi sebelum masa Kertanegara, raja Singasari yang mengangkat ajaran Tantra tingkat tinggi.”

Suara jin itu bergetar seperti menembus masa lalu.

“Pada masa itu… ritual Pancamakarapuja dilakukan di altar-altar rahasia. Mereka memanggilku. Mereka menabur darah manusia. Mereka meminum madya hingga mabuk tak sadar. Mereka menari telanjang di Ksetra—kuburan suci. Dan mereka… melakukan Maithuna untuk membuka portal antara dunia manusia dan dimensi kami.”

Tawa kecilnya terdengar jahat.

“Namun ketika Kertanegara dibunuh Jayakatwang… para pemuja utamanya terbantai. Ajaran itu jatuh. Hilang. Tapi… keturunan mereka tetap ada.”

“Yang dilakukan Raja Kertanegara salah, meski maksudnya baik. Menyatukan dua agama tidak mencampuradukkan ajaran. Cukup dengan saling menghormati saja!” seru Kyai Rasyid.

Dijelaskan pula jika dalam Islam ada ayat, “lakum dinukum waliyadin”. Untukmu agamamu dan untukku agamaku sebagai landasan toleransi. Bukan menyatukan ibadah dua atau lebih agama yang ada.

“Persetan dengan itu, yang jelas mereka justru jadi pengikutku, sampai keturunan mereka!” seru sosok tersebut.

Hanan menelan ludah.

“Keturunannya? Maksudmu… manusia modern masih mengikuti ajaran itu?”

“Ya,” jawab jin itu. “Mereka mengembangkan versi baru… Reinkarnasi ajaran lama dengan wajah modern. Ritual Maithuna mereka ganti menjadi tukar pasangan—swinger. Daging dan darah diganti simbol-simbol, tetapi… inti ajaran tetap sama: memuja nafsu untuk memanggilku.”

Hanan terhenyak. Tubuhnya gemetar.

“Dan merekalah… yang menukar bayi-bayi itu.”

Senyum jin itu tampak samar.

Kaitan dengan Kasus Penukaran Bayi

Hanan tidak mampu menahan diri.

“Apa… hubunganmu dengan kasus pertukaran bayi itu? Dengan Alisa… Anisa… dan Arsyita?”

Jin itu mendekat. Bau apek dan tanah basah memenuhi ruangan, membuat Hanan nyaris muntah.

“Aku tidak menukar mereka.”

Suara jin itu rendah namun sangat jelas.

“Tapi kelompok penyembahku itu yang melakukannya. Mereka mencari satu hal… seorang bayi perempuan lahir pada Selasa Kliwon sebelum Ashar, bertepatan dengan malam bulan purnama.”

Baca Juga:

Hanan tertegun.

“Kok… sepertinya mereka sangat spesifik?”

“Itu adalah perhitungan kuno,” jawab Kyai Rasyid.

“Hari dalam hitungan Jawa tidak berganti pukul dua belas malam, Hanan. Tetapi setelah matahari tergelincir. Dan penganut ajaran itu percaya bayi yang lahir sebelum Ashar pada Selasa Kliwon, di bulan purnama… memiliki aura mistis. Mereka percaya bayi itu bisa menjadi ‘titisan energi’ untuk kebangkitan aliran.”

“Dan bayi itu adalah…”

Hanan merasa jantungnya berhenti.

Jin itu menjawab dengan senyum samar:

“Entah Arsyita… atau Alisa.”

Hanan melotot.

“Kenapa dua-duanya!?”

Kyai Rasyid mengangguk.

“Karena keduanya lahir sangat dekat. Hanya berbeda beberapa jam. Namun… perhitungan masehi menempatkan mereka berbeda hari, sedangkan perhitungan Jawa menempatkan keduanya dalam satu garis waktu kelahiran istimewa.”

Tiba-tiba jin itu mencondongkan kepalanya ke arah Hanan.

“Dan itulah sebabnya bayi-bayi itu ditukar.”

Suaranya rendah, mendesis.

“Untuk membingungkan semua orang. Untuk menyembunyikan siapa calon ‘perempuan suci’ yang akan dijadikan media kebangkitan.”

Jin Tua Menghilang

Setelah mengucapkan kalimat itu, siluet tubuh jin itu perlahan memudar. Asapnya hilang, digerakkan angin yang tiba-tiba datang dari arah jendela.

Namun sebelum benar-benar lenyap, ia berkata:

“Lindungi mereka kalau kalian bisa… atau kalian semua akan menyaksikan kebangkitan keduaku…”

Suara itu hilang. Hanan duduk membeku. Wajahnya pucat.

“Kyai… apakah itu berarti Alisa… masih dalam bahaya!?”

Nada suaranya meninggi tanpa ia sadari.

Kyai Rasyid memejamkan mata.

“Benar dan juga Arsyita. Keduanya adalah kemungkinan target. Kita harus beri perlindungan ketat.”

Hanan mengepalkan tangan.

“Kalau begitu… aku akan menjaga Alisa. Apapun resikonya!”

Ada perubahan dalam nada suaranya.

Terdengar lebih berani… sekaligus lebih personal.

Kyai Rasyid melirik Hanan dengan senyum samar.

“Kamu tidak hanya ingin menjaga… tapi juga karena kamu mencintainya.”

Hanan tertunduk, wajahnya memanas.

“Tidak apa, Hanan,” lanjut Kyai Rasyid.

“Cinta yang tulus bisa menjadi perlindungan. Tapi jangan biarkan hatimu mendahului akal sehat. Bahaya besar sedang mengintai.”

Hanan mengangguk pelan.

Namun dalam hatinya, pikiran lain berbisik:

“Jika Arsyita akan menikah dengan Bayu… maka hanya aku yang bisa menjaga Alisa…”

“Dan mungkin… ini saatnya aku mengungkapkan perasaanku.”

Di luar rumah, angin malam menggerakkan daun jati. Bulan hampir menuju purnama.

Dari kejauhan, seperti ada suara gong kecil ditabuh pelan—mungkin hanya bayangan atau ilusi  Hanan. Atau mungkin… pertanda ritual kuno itu mulai hidup kembali.

Bersambung…

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA