Qorin (Cerbung Misteri Bab 45): Jejak Bhairawa yang Hidup Kembali

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Sabilulhuda, Yogyakarta: Jejak Bhairawa yang Hidup Kembali – Suara malam merambat pelan di pendopo kecil itu. Angin membawa aroma kayu basah dan bunga kenanga yang Kyai Rasyid taburkan sebelum memulai penjelasan panjang tentang sesuatu yang bahkan Hanan sendiri tak pernah duga.

Di hadapan Kyai Rasyid, Hanan duduk bersila. Tangannya meremas celananya sendiri, berusaha menahan rasa tidak enak yang sejak tadi menusuk-nusuk dadanya.

Kyai Rasyid menghela napas panjang.

“Hanan… apa yang sedang kita hadapi bukan sekadar aliran sesat biasa. Ini adalah kelanjutan dari ajaran lama yang pernah mengguncang peradaban Jawa ratusan tahun lalu… Bhairawa Tantra Nusantara.”

Hanan menelan ludah. Kata itu terasa seperti guratan dingin di tengkuknya.

“Pancamakarapuja…?” bisiknya pelan.

Kyai Rasyid mengangguk pelan. “Ya. Lima unsur paling gelap dari tantrisme aliran kiri. Daging. Ikan. Alkohol. Ekstase gerakan. Dan… hubungan di luar batas moral.”

Hanan sudah tahu sedikit, namun tak menyangka akan sejauh ini.

Tapi Kyai Rasyid belum selesai.

“Yang kita hadapi kini bukan Bhairawa lama… tetapi reinkarnasinya. Kebangkitan versi baru yang disesuaikan dengan zaman. Lebih terselubung. Lebih berbahaya.”

Kyai Rasyid memejamkan mata, mengumpulkan ingatan yang ingin ia utarakan.

Ajaran Lama yang Hidup Lagi… Dalam Wujud Baru

“Dulu, Pancamakarapuja dilakukan di Ksetra—kuburan. Dengan sesaji yang semuanya bersifat melanggar tabu. Tapi orang modern… mereka tak lagi mau kotor. Tak mau terlihat primitif. Padahal niatnya tetap sama: membangkitkan kuasa gelap.”

Kyai Rasyid menatap Hanan dalam.

“Hanan, generasi baru Bhairawa tidak memakai istilah Maithuna… mereka menyebutnya komunitas kesehatan batin, atau ‘ritual penyelarasan energi’. Mereka menyebutnya swinger.”

Hanan tersentak.

“Ya, pertukaran pasangan suami istri. Dibalut dengan istilah terapi. Atau sekadar eksperimen kejiwaan. Padahal hakikatnya sama: memanggil energi tanpa batas melalui pelanggaran moral.”

Baca Juga:

Hanan bergidik. Dadanya sesak, mengingat nama Surya…

“Termasuk mereka yang mencari… bayi-bayi dengan weton tertentu,” lanjut Kyai Rasyid. “Para keturunan Bhairawa percaya jika bayi tertentu, lahir pada hitungan langka, dapat menjadi wadah untuk kekuatan mereka.”

Hanan menunduk. “Kyai… pertukaran bayi itu… berarti—”

“Ya, Hanan. Itu bukan sekadar kejahatan medis. Itu ritual.”

Wajah Hanan memucat.

“Dan Surya adalah salah satu dari mereka,” tambah Kyai Rasyid.

ADEGAN DRAMA – ARSYITA DAN ORANG TUA KANDUNGNYA

Sementara itu, jauh dari pendopo Kyai Rasyid, rumah Burhan dan Maisaroh diliputi suasana yang tak pernah mereka bayangkan sepanjang hidup.

Arsyita masuk pelan, wajahnya sembab.

Burhan dan Maisaroh berdiri. Mereka ingin bicara, ingin menenangkan hati Arsyita… tetapi kata-kata itu tak muncul.

Air mata menetes di pipi Arsyita.

“Bu… Pak…” suaranya bergetar, “saya… saya ini dosa apa sampai harus terbuang…? Sampai harus hidup jauh dari orang tua kandung saya…?”

Maisaroh langsung menutup mulutnya, tangannya bergetar hebat. Burhan memegangi dinding agar tidak jatuh.

Mereka ingin menjawab.

Namun mereka juga tidak tahu.

Mereka tidak tahu apa kesalahan mereka.

Mereka tidak tahu kenapa bayi mereka yang asli diambil… diganti… ditukar.

Tubuh Maisaroh melemas… dan ia pingsan seketika.

Burhan panik, memeluk istrinya, sementara Arsyita berlutut, menangis semakin keras.

Dan adegan itu terhenti di tengah kabut kebingungan…

KEMBALI KE KYAI RASYID — SEJARAH YANG DITUTUPI

“Beberapa abad lalu,” lanjut Kyai Rasyid, “ajaran Bhairawa menyebar diam-diam melalui para bangsawan yang haus kekuasaan. Mereka percaya pada keabadian duniawi yang dijanjikan oleh aliran itu.”

Hanan mendengarkan sepenuhnya.

“Tapi ketika kerajaan runtuh, ajaran itu ikut tenggelam. Atau… kita pikir begitu.”

Kyai Rasyid menggeleng pelan.

“Keturunan mereka masih ada. Mereka mewarisi naskah, mantra, dan ritual yang tidak pernah padam. Mereka tidak lagi memakai nama Bhairawa. Tapi inti ajaran… tetap sama.”

“Dan salah satu ritual intinya adalah menggunakan jasad gadis muda. Tulang. Rambut. Atau abu jenazah…”

Hanan tersentak keras.

“Maka jasad Anisa yang digali itu… bukan untuk ilmu biasa, Hanan.”

“Lalu untuk apa, Kyai?” suara Hanan gemetar.

“Untuk menghidupkan kembali inti Bhairawa. Untuk memperkuat dhyana gelap. Dan membuka jalur pengorbanan berikutnya.”

“Pengorbanan… berikutnya?”

Kyai Rasyid memandang Hanan dengan mata teduh, namun sorotnya membawa firasat buruk.

“Keluarga Bayu masih memegang aset yang dulunya milik salah satu keturunan Bhairawa. Mereka ingin merebutnya kembali. Dan ritual itu… adalah awal.”

Hanan menutup wajahnya. Kepala terasa berat.

“Dan yang paling mencemaskan,” lanjut Kyai Rasyid, “mereka sudah punya calon korban berikutnya.”

Hanan menegakkan tubuh.

“Siapa, Kyai?”

Perlahan Kyai Rasyid menghela napas panjang… sangat panjang…

“Seseorang yang lahir dalam hitungan langka…

seseorang yang tanpa disadari sudah dipantau sejak kecil…

seorang yang memiliki ikatan langsung dengan Burhan dan Maisaroh…

seseorang yang merupakan wadah paling sempurna…”

Hanan menegang.

“Arsyita.”

Baca Juga:

Adegan Mistis – Malam itu… Energi Tak Kasat Mata Bergerak

Saat Kyai Rasyid dan Hanan terdiam, angin dingin tiba-tiba berembus dari belakang rumah.

Lampu minyak bergetar.

Sehelai daun jatuh tanpa arah.

Dan dari kejauhan… terdengar suara lirih memanggil…

“Han…an…”

Suara yang dulu pernah ia dengar di antara dua alam.

Suara Anisa.

Hanan memegang dadanya. “Dia… memanggil lagi, Kyai…”

Kyai Rasyid memejamkan mata, membaca wirid pelan.

“Roh Anisa gelisah,” ujar Kyai Rasyid. “Dia belum tenang. Karena rantai kejahatan yang menjerat hidup dan matinya masih berputar.”

Hanan menelan ludah.

“Rantai itu… siapa yang memegangnya?”

Kyai Rasyid membuka mata. Sorotnya tajam.

“Hanan… orang yang memegang rantai itu bukan hanya Surya. Tapi seseorang di atasnya.

Seseorang yang ingin membangkitkan kembali Bhairawa Nusantara melalui cara modern.

Seseorang yang sudah ada di sekitar kita tanpa kita sadari.”

Hanan merinding.

“Kyai… siapa?”

Kyai Rasyid berdiri perlahan.

Kemudian ia menatap ke arah jendela gelap di mana angin berdesir dan bayangan bergerak.

Dan dengan suara sangat pelan… namun menghentak dada…

“Pemimpinnya… adalah seseorang yang selama ini kau percaya.”

CLIFFHANGER

Hanan tercengang, tubuhnya kaku. Segala peristiwa selama beberapa minggu terakhir terputar cepat dalam pikirannya… satu per satu potongan mulai masuk akal, tapi sekaligus membuatnya ngeri.

“Kyai… apakah Anda yakin… orang itu…?”

Kyai Rasyid mengangguk.

Namun, sebelum nama itu keluar, suara angin berubah menjadi pekikan—keras—memecah keheningan.

Pintu gubuk tertutup menghentak.

Cahaya lampu padam.

Dan di tengah kegelapan…

Suara tawa parau terdengar, bergema…

“Ha… ha… ha… kalian baru menyadari sekarang?

Bhairawa telah bangkit…

dan kalian berdua tidak bisa menghentikannya…”

Hanan mencabut napas cepat, tubuh gemetar.

“Kyai… siapa itu!?”

 Kyai Rasyid menjawab dengan suara pelan namun tegas…

“Itu… pemimpin mereka.”

Tubuh Hanan bergetar, berbagai perasaan dirasakan Hanan. Tentang bayangan kejinya aliran tersebut sampai ingat dengan Alisa. Gadis malang yang diam diam dicintainya.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA