Qorin (Cerbung Misteri Bab 44): Drama Keluarga dalam Bayangan Takdir

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Sabilulhuda Yogyakarta: Drama Keluarga dalam Bayangan Takdir – Sementara Hanan dan Kyai Rasyid membahas masa lalu yang gelap itu, di sisi lain desa, suasana hening menyelimuti rumah Burhan dan Maisaroh.

Arsyita berdiri kaku di depan pintu. Jemarinya gemetar, napasnya tak menentu. Baru beberapa hari lalu ia menerima kenyataan bahwa Alisa bukan anak kandung Burhan dan Maisaroh. Ia pun bahagia ketika mendengar mereka masih menganggap Alisa sebagai anak mereka.

Namun kini…

Kini kenyataan baru menamparnya lebih keras lagi.

Ia — Arsyita — justru anak kandung yang sebenarnya.

Yang hilang.

Yang ditukar.

Dan tak pernah mereka gendong di hari-hari awal kelahiran.

Maisaroh duduk di kursi rotan, memandang Arsyita dengan mata berkaca-kaca. Burhan berdiri di sampingnya, mencoba tegar namun napasnya terdengar berat.

Arsyita mencoba bicara — namun suaranya tercekat.

“…Pak… Bu…”

Ia memegang dadanya.

“…dosa apa yang aku lakukan sampai aku harus…” suaranya pecah, “…harus terbuang dari kalian?”

Maisaroh menutup mulut dengan tangannya, menahan sesenggukan. Burhan langsung memeluknya.

“Anakku…”

Suara Burhan bergetar untuk pertama kalinya.

“Kami tidak pernah… TIDAK PERNAH… membuangmu. Kami bahkan tidak tahu apa pun…”

Air mata Arsyita mengalir.

“Lalu… kenapa aku… kenapa aku harus jauh dari kalian selama ini?”

Maisaroh mencoba menghampirinya, namun langkahnya tidak kuat — tubuhnya limbung — dan bruk!

Maisaroh jatuh pingsan.

“Bu!”

“Maisaroh!”

Burhan panik, memeluk istrinya. Sementara Arsyita berdiri terpaku, ketakutan, tak siap menghadapi luka yang bertahun-tahun tersembunyi.

Air mata jatuh di lantai.

Bukan milik satu orang, melainkan tiga jiwa yang terikat takdir pahit.

Baca Juga:

Misteri Baru dari Ajaran Lama

Kembali kepada Hanan dan Kyai Rasyid, dialog mereka semakin dalam dan mengungkapkan hal yang jauh lebih gelap dari sekadar penukaran bayi. Kyai Rasyid menceritakan secara global upacara pancamakarapuja kepada Hanan.

Elemen Pancamakara:

Māṃsa (मांस) – Daging (Memakan daging).

Makna harfiah: Memakan daging.

Makna simbolis: Seringkali ditafsirkan sebagai simbol untuk melepaskan diri dari segala kemelekatan terhadap status sosial atau martabat duniawi (memakan ‘daging’ ego dan ilusi).

Matsya (मत्स्य) – Ikan (Memakan ikan).

Madya (मद्य) – Minuman Keras/Alkohol.

Makna harfiah: Minum hingga mabuk.

Makna simbolis: Mencapai kondisi ekstase atau kesadaran yang di luar batas-batas pikiran biasa.

Mudra (मुद्रा) – Sikap/Gerakan/Biji-bijian.

Makna harfiah: Bisa berarti biji-bijian, tarian gerakan tangan/badan, atau mencapai ekstase melalui tarian.

Maithuna (मैथुन) – Persenggamaan/Hubungan Seksual.

Makna harfiah: Melakukan persetubuhan (seringkali dilakukan di tempat yang dianggap keramat atau kuburan, seperti Ksetra).

Makna simbolis: Penyatuan energi feminin dan maskulin (Shakti dan Shiva) untuk mencapai pembebasan spiritual tertinggi.

Para pengikut aliran tersebut meyakini. Seseorang yang akan melakukan “Ritual Suci” harus lebih dulu memuaskan nafsu. Dengan tujuan saat melakukan semedi atau pemujaan bisa lebih fokus tidak memikirkan hal-hal duniawi.

Bahkan, suatu saat ketika raga tak lagi butuh nafsu duniawi mereka akan melakukan upacara “Mokswa”. Yaitu menghilang bersama jasadnya bukan hanya ruh atau nyawanya. Begitulah kepercayaan mereka pengikut aliran tersebut.

Tanda akan kembali bangkitnya

“Hanan,” kata Kyai Rasyid, “Bhairawa Tantra Nusantara tak pernah benar-benar mati. Mereka bersembunyi, berkamuflase, menunggu generasi baru yang bisa diwarisi.”

“Hanya saja,” lanjutnya, “dalam wujud modern, mereka jauh lebih licik. Ritual Maithuna tidak lagi telanjang seperti dahulu, melainkan dibungkus dalam kegiatan swinger, pesta tertutup, terapi seks spiritual, konseling energi seksual… Semua itu kedok.”

“Kyai…” Hanan menelan ludah. “Apakah Surya… salah satunya?”

Kyai Rasyid menghela napas panjang.

“Surya adalah keturunan salah satu pelaku ritual lama. Ia dibesarkan dengan dua wajah — wajah orang bodoh dan penakut di depan publik… serta wajah licik, cerdas, dan bengis dalam kegelapan.”

Hanan memejamkan mata keras.

Semua potongan puzzle tiba-tiba menyatu.

Penukaran bayi.

Pembongkaran makam Anisa.

Aksi-aksi supranatural.

Kemunculan roh Anisa meminta penyelidikan.

Upacara malam Purnomo Sidi.

Tanda-tanda ajaran Tantra yang akan bangkit kembali.

Baca Juga:

Lonceng Peringatan dari Alam Ghaib

Malam itu, ketika Kyai Rasyid hendak melanjutkan penjelasannya, angin berhembus dingin. Lampu teplok bergetar, cahayanya berloncatan.

Tiba-tiba…

Sosok samar muncul di sudut ruangan.

Hanan langsung bangkit, jantungnya seakan berhenti.

“Sosok itu…” bisiknya.

“…Anisa.”

Namun, Anisa tidak datang dengan wajah sendu seperti biasanya. Kali ini dia terlihat tegas, bahkan marah.

“Waktu kalian tidak banyak…” suara Anisa bergema, bukan dari mulutnya, tapi langsung menuju pikiran Hanan dan Kyai Rasyid.

“Mereka akan mengadakan upacara… mereka akan memakai tanah makamku… dan darah keluarga Bayu akan menggenapi ritual itu…”

Hanan terkejut.

“Keluarga Bayu…? Untuk apa?”

Anisa menatapnya — sorot matanya tajam, seperti memiliki beban berat yang belum terucapkan.

“Karena aset keluarga Bayu berada dalam tangan orang yang ingin membangkitkan ajaran itu sepenuhnya,” suara Anisa bergetar. “Dan aset itu harus ‘disucikan’ melalui darah keturunan…”

Hanan membeku.

“Jika ritual itu terlaksana… bukan hanya keluarga Bayu… desa ini bisa menjadi pusat kekuatan mereka.”

Suara Anisa meredup.

“Cegah mereka… selamatkan Arsyita… dan lindungi yang masih hidup.”

Sosok itu memudar perlahan.

Misteri yang Mengguncang Iman

Kyai Rasyid berdiri.

“Hanan… bersiaplah. Kita harus menghadapi ini sebelum malam Purnomo Sidi tiba.”

Namun, Hanan masih terpaku memikirkan satu hal:

Jika Arsyita adalah anak kandung Burhan–Maisaroh…

Siapa orang tua kandung Anisa sebenarnya? dan…

Apa hubungan mereka dengan ajaran Bhairawa yang bangkit kembali?

Pertanyaan itu menghantam kepalanya.

Namun, sebelum ia sempat mengucap, suara Kyai Rasyid terdengar lagi.

“Hanan… ada hal lain yang harus kamu tahu.”

Kyai Rasyid menatapnya tajam.

“Orang yang memodifikasi ritual Bhairawa menjadi ajaran modern itu… bukan orang jauh. Dia terkait dengan keluarga yang selama ini dekat dengan kalian.”

Hanan terdiam.

Jantungnya memukul keras.

“Siapa… maksud Kyai?”

Kyai Rasyid menghela napas.

“…orang itu masih hidup, dan mungkin sedang memperhatikan kita saat ini.”

Kyai Rasyid berkata sambil gemetar. “Apa mungkin masih ada yang mampu melakukan dan mencapai puncak ilmu ”Batara Karang?” tanya Kyai Rasyid dalam hati.

Kalimat yang diucapkan Kyai Rasyid membuat jantung Hanan berdebar lebih kencang. Artinya ada sosok misterius dari kalangan dekat. Sosok misterius yang merupakan salah satu tokoh akan bangkitnya aliran lama yang pernah mengguncang peradaban.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA