Qorin (Cerbung Misteri Bab 28)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Perang Supranatural dan Fakta yang Tersingkap

Malam itu, udara di kampung Bayu semakin mencekam. Langit hitam pekat, bulan tampak tertutup awan tebal, dan suara lolongan anjing bersahut-sahutan dari kejauhan.

Warga yang sebelumnya sering bergunjing tentang fitnah Hanggara terhadap keluarga Bayu, kini memilih mengunci pintu rumah rapat-rapat. Mereka tahu, ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi.

Alisa ikut tinggal bersama Maisaroh ibunya. Sementara Burhan masih berada di sebuah pesantren menemui seorang kyai. Burhan juga mendapat informasi tambahan yang mengejutkan dari keluarga Bayu. Bahkan berat untuk bisa menerima kenyataan tersebut.

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

“Untung Alisa dan Maisaroh tidak ikut menginap disini. Rupanya ini maksud Kyai…” kata Burhan dalam hati.

Di rumah peninggalan Arya, suasana penuh doa. Rasyid duduk bersila di ruang tengah, di hadapannya kitab kuning dan segelas air putih yang sudah didoakan. Bayu, Nenek Lastri, Alisa, serta Hanan dan Arsyita duduk mengelilinginya. Wajah mereka tampak tegang, tapi juga penuh harap.

“Ini malam penentuan,” ucap Rasyid pelan.

“Malam penentuan apa, Kyai?” tanya Bayu.

Rasyid menatapnya dalam. “Malam ketika kita akan melihat siapa sebenarnya dalang dari semua teror ini. Percayalah, kebenaran tidak bisa terus disembunyikan.”

Belum sempat ia melanjutkan, angin kencang berhembus menembus celah-celah jendela. Lampu rumah meredup, lalu padam seketika. Aroma bunga kamboja menyeruak. Suara tangisan perempuan samar-samar terdengar, semakin lama semakin jelas.

“Dewi…” bisik Nenek Lastri sambil menggenggam erat tasbihnya.

1. Awal Perang Gaib

Tiba-tiba, pintu rumah bergetar keras seperti dihantam angin puting beliung. Dari luar, terdengar suara-suara aneh: raungan panjang, lolongan, dan jeritan. Bayu sigap berdiri, namun Rasyid menahannya.

“Jangan keluar! Malam ini kita dilawan dengan kekuatan jin dan khodam hitam. Tetap dalam lingkar doa!”

Tak lama kemudian, wujud-wujud mengerikan bermunculan di dalam rumah: sosok tinggi besar dengan mata merah menyala, tubuh penuh bulu seperti kera; lalu makhluk berwujud perempuan dengan rambut panjang menutupi wajahnya, tertawa cekikikan dengan suara melengking.

Alisa menjerit dan memeluk Nenek Lastri. Namun Rasyid tetap tenang. Ia membaca ayat-ayat suci, suaranya tegas dan berwibawa. Seiring lantunan doa itu, cahaya putih muncul dari arah kitab di hadapannya, menyebar seperti lingkaran pelindung.

Makhluk-makhluk itu meraung kesakitan, sebagian terbakar oleh cahaya, sebagian menghilang dalam asap hitam. Namun, serangan tidak berhenti. Dari atap rumah terdengar suara langkah kaki berlari, diikuti suara tawa yang mirip suara Hanggara.

Bayu mengepalkan tangan. “Dia! Ini pasti kerjaan Hanggara!”

Rasyid mengangguk. “Ya, tapi biarkan dulu. Malam ini kita akan buat mereka membuka mulutnya sendiri,” kata Rasyid.

Baca Juga:

2. Sosok Dewi dan Anisa Menampakkan Diri

Ketika suasana semakin mencekam, tiba-tiba hawa ruangan berubah. Aroma melati memenuhi udara, menggantikan bau busuk sebelumnya. Dari sudut ruangan, muncul sosok perempuan anggun bergaun putih—Dewi. Wajahnya pucat, tapi senyum lembutnya membuat semua merasa tenang. Di sampingnya, muncul sosok anak perempuan—Anisa.

“Ibu…” Bayu hampir meneteskan air mata melihatnya.

Nenek Lastri menangis tersedu. “Dewi… Anisa…”

Sosok Dewi menatap Rasyid. “Kebenaran itu akan muncul, Kyai Rasyid. Jangan biarkan Hanggara terus menipu orang-orang. Kami tidak butuh balas dendam, yang kami butuh hanya keadilan.”

Lalu Anisa menunjuk ke arah pintu. “Dia harus membayar atas semua ini. Hanggara… dia yang merenggut nyawa kami.”

Semua terdiam. Sosok Dewi dan Anisa tidak lama kemudian memudar, namun kehadirannya meninggalkan energi yang begitu kuat.

3. Tertangkapnya Khodam Hitam

Rasyid melanjutkan doa. Saat itu, salah satu makhluk astral kiriman dukun Hanggara tiba-tiba terjerat cahaya putih yang dikeluarkan Rasyid. Makhluk itu berwujud raksasa hitam, mengerang kesakitan.

“Siapa yang mengutusmu?” tanya Rasyid lantang.

Makhluk itu berusaha melawan, namun cahaya semakin menekan tubuhnya. Akhirnya, ia menjerit, “Aku diutus… oleh dukun Hanggara! Semua ini atas perintahnya! Dia yang merusak mobil Arya, membuat rem blong hingga masuk jurang! Dia yang menginginkan Dewi menjadi miliknya, tapi ditolak! Dia yang memperkosanya, lalu membunuh bersama anak buahnya! Semua atas perintah Hanggara!”

Ruangan hening. Bayu terkejut mendengar pengakuan itu, wajahnya merah padam menahan amarah. Nenek Lastri menutup wajahnya sambil menangis.

“Jadi… benar semua prasangka kita,” bisik Alisa.

Makhluk itu terus menjerit hingga akhirnya terbakar cahaya dan lenyap. Namun, pengakuannya telah tertinggal jelas di telinga semua orang.

4. Fitnah Terkuak

Keesokan harinya, kabar pengakuan makhluk itu menyebar. Banyak warga yang awalnya percaya fitnah Hanggara mulai goyah. Mereka mulai berbisik-bisik, membandingkan cerita lama tentang kematian Arya, Dewi, dan Anisa.

“Kalau memang Dewi gantung diri, kenapa lidahnya tidak menjulur?” tanya seorang warga.

“Ya, aku lihat sendiri jasadnya waktu itu. Aneh memang, tapi kita dilarang banyak bicara,” sahut yang lain.

Semakin banyak keraguan muncul. Apalagi beberapa orang ingat, malam sebelum Dewi ditemukan tewas, ada yang melihat anak buah Hanggara berada di sekitar rumah Arya.

orang-orang mulai berani buka mulut, setelah sekian lama merasa terbungkam karena takut bicara fakta. Hanggara dikenal tangan besi dan berdarah dingin. meski penampilannya halus dan berlagak seperti seorang tokoh masyarakat dan menjadi panutan.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA