Qorin (Cerbung Misteri Bab 27)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Jejak Kebenaran dari Pesantren Ar-Rasyid

Perjalanan menuju pesantren kecil milik Rasyid terasa berat bagi Bayu dan Nenek Lastri. Jalanan desa yang berliku, ditambah tatapan sinis dari beberapa warga yang mereka temui, membuat hati mereka makin perih. Fitnah Hanggara telah menancap begitu dalam di telinga masyarakat.

Sementara itu, keluarga Burhan juga tidak tinggal diam. Mereka juga mencari pertolongan ke seorang kyai lain. Kyai yang juga punya hubungan kerabat dengan Kyai Rasyid selain hubungan sanad ilmu yang sama.

Namun, perjalanan Bayu dan nenek Lastri sangat menarik untuk diikuti. Karena ada sebuah petunjuk yang akan membuka mata Bayu dan Nenek Lastri.

“Bayu, jangan goyah. Ingat pesan kakekmu dalam mimpi itu,” bisik Nenek Lastri sambil menggenggam tangan cucunya.

Bayu hanya mengangguk. Matanya merah menahan amarah. Ia tahu betul bahwa keluarganya telah difitnah secara keji. Namun, ia juga sadar, tanpa bukti, semua hanya akan jadi omongan kosong. Itulah sebabnya mereka harus menemui Kyai Rasyid.

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Pesantren kecil itu berada di pinggiran desa sebelah, dikelilingi sawah luas dan beberapa pepohonan rindang. Bangunannya sederhana, berdinding kayu dengan atap genteng yang mulai berlumut. Namun, suasananya menenangkan. Dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci yang dibaca santri-santri kecil.

Saat mereka tiba, Rasyid yang mengenakan gamis putih dan sorban sederhana menyambut dengan senyum hangat. Wajahnya teduh, tatapannya penuh wibawa, persis seperti cerita Nenek Lastri tentang ayahnya dulu.

“Assalamualaikum, Nyi Lastri, Bayu… sudah lama sekali. Aku sempat mendengar desas-desus tentang kalian, tapi aku tahu semua itu tak benar,” ucap Rasyid sambil menyalami mereka erat.

Nenek Lastri hampir menitikkan air mata. “Kang Rasyid, kami datang bukan untuk mengeluh, tapi mencari kebenaran. Ramlan… suamiku, muncul dalam mimpiku. Ia memintaku mencarimu. Katanya, kau menyimpan sesuatu yang bisa membuka rahasia besar ini,” ucap Nenek Lastri dengan linanagan air mata.

Rasyid menarik napas panjang, lalu mengajak mereka masuk ke ruang tamu pesantren.

Kesetiaan Arya dan Dewi

Di dalam, Rasyid mengambil sebuah kotak kayu kecil dari lemari tua. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan beberapa surat, foto, dan catatan tangan.

“Ini… adalah peninggalan Arya. Beberapa kali ia datang ke pesantren, curhat tentang tekanan yang ia alami dari orang-orang yang iri. Ia menitipkan ini padaku, berjaga-jaga kalau sesuatu menimpa keluarganya!” sru Rasyid.

Bayu mendekat, matanya berkaca-kaca saat melihat foto lama ayah dan ibunya tersenyum mesra di depan rumah. Ada juga surat cinta sederhana yang ditulis Arya untuk Dewi.

Arya merasa dirinya terancam, tapi tidak mau membebani keluarganya. Dia tidak ingin membuat keluarganya cemas. Hanya kepada Rasyid dia menceritakan beban yang dialami. Termasuk fitnah keji yang menuduhnya membangun hubungan dengan Hapsari karyawan setianya.

Bahkan, saat Hapsari ditemukan tewas, Arya sempat dicurigai karena ada kedekatan khusus. Meskipun itu hanya kedekatan hubungan kerja saja.

“Lihatlah, Bayu. Ayah dan ibumu saling mencintai dengan tulus. Tak ada ruang bagi orang ketiga. Semua fitnah yang beredar hanyalah karangan busuk orang yang iri,” jelas Rasyid tegas.

Nenek Lastri mengusap dadanya, rasa sesak yang selama ini menumpuk sedikit terangkat.

“Tapi mengapa ada yang tega menyebar fitnah sekeji itu? Bahkan menyebut Anisa bukan anak kandung Arya?” tanya Bayu dengan suara bergetar.

“Itu semua karena iri hati. Arya sukses dalam usaha, Dewi cantik dan setia. Ada banyak yang tergoda, tapi tak pernah berhasil memisahkan mereka. Justru karena itu, ada yang menaruh dendam,” jawab Rasyid, matanya tajam, seolah mengingat sesuatu.

Bayu mengepalkan tangan. “Hanggara…”

Rasyid tak langsung mengangguk, tapi raut wajahnya cukup jelas memberi isyarat bahwa dugaan Bayu benar.

Harta yang Disembunyikan

Dari percakapan itu, Rasyid juga mengungkap bahwa Arya pernah menitipkan sebagian asetnya secara diam-diam.

“Dia tahu ada orang-orang yang ingin merampas hartanya. Maka sebagian aset dipindahkan atas nama orang kepercayaannya. Sayangnya, sebelum sempat menjelaskan secara detail, Arya keburu meninggal,” kata Rasyid.

Bayu tertegun. “Jadi, kemungkinan besar… aset yang tersisa bisa jadi kunci membuka siapa dalang di balik semua ini?”

Rasyid mengangguk. “Benar. Tapi kita harus hati-hati. Siapapun yang mengincar harta itu tidak akan tinggal diam.”

Baca Juga:

Kengerian Mistis

Setelah pembicaraan panjang, Bayu dan Lastri menceritakan segala kejadian mistis yang menghantui mereka: sosok Dewi, Anisa, dan kini juga Hapsari. Rasyid mendengarkan dengan seksama, wajahnya semakin serius.

“Mungkin… justru itu petunjuk dari Allah. Mereka tidak datang untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberi jalan agar kebenaran terbuka,” ujar Rasyid.

Hari itu juga, Rasyid memutuskan ikut pulang bersama mereka ke rumah Bayu. Namun, begitu tiba di kampung, sambutan warga jauh dari ramah. Banyak yang berbisik-bisik, ada yang menutup pintu rapat-rapat, bahkan beberapa pemuda berteriak:

“Pergi kalian! Jangan bawa bala ke kampung ini!”

Bayu nyaris terpancing emosi, tapi Rasyid menahan lengannya. Dengan suara lantang dan berwibawa, ia berkata:

“Kalian semua kenal ayahku, Kyai Ma’ruf. Beliau guru kalian juga. Apakah kalian lupa? Beliau mengajarkan agar jangan menuduh tanpa bukti. Aku bersaksi, fitnah tentang keluarga Arya itu bohong dan aku siap mempertanggungjawabkan di hadapan Allah!” seru Rasyid.

Warga terdiam. Nama Kyai Ma’ruf terlalu besar untuk mereka bantah. Meski masih ada keraguan, tak seorang pun berani melawan ucapan Rasyid.

Perang Supranatural

Kabar tentang kedatangan Rasyid ke rumah Bayu cepat sampai ke telinga Hanggara. Ia langsung gusar. “Kurang ajar! Kalau Rasyid ikut campur, semua rahasiaku bisa terbongkar!”

Tanpa pikir panjang, Hanggara kembali menghubungi dukun yang ia sewa.

“Malam ini, aku tak mau hanya teror kecil. Kirim semua yang kau punya! Jangan biarkan mereka tenang walau sedetik!”

Malam itu, rumah Bayu benar-benar jadi medan perang gaib. Angin berhembus kencang meski cuaca sedang cerah. Bau busuk bangkai menyebar entah dari mana. Bayangan hitam berwujud makhluk menyeramkan beterbangan di halaman, menempel di dinding, bahkan mencoba masuk lewat jendela.

Nenek Lastri gemetar, namun ia segera mengambil air wudhu dan duduk bersila membaca doa-doa Jawa yang diajarkan leluhurnya. Suaranya lirih namun mantap, seolah jadi tameng yang melindungi keluarganya.

Rasyid berdiri di tengah ruang tamu, tangannya terangkat, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara menggema. Seakan setiap lafaz ayat itu menjadi cahaya yang membakar makhluk-makhluk hitam yang berusaha menyerang.

Bayu sendiri ikut berjaga, meski tak punya kemampuan supranatural. Ia menggenggam sebilah keris warisan ayahnya yang selama ini tersimpan. Entah bagaimana, keris itu memancarkan aura panas setiap kali bayangan hitam mendekat.

Hingga menjelang subuh, teror tak berhenti. Namun keluarga Bayu selamat. Justru sebaliknya, beberapa anak buah Hanggara yang ikut ritual dengan sang dukun berteriak histeris, tubuh mereka kejang-kejang, seolah sebagian serangan balik mengenai mereka sendiri.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Ketakutan Hanggara

Di tempat lain, Hanggara duduk di ruangannya dengan wajah pucat pasi. Peluh membasahi dahinya.

“Apa-apaan ini? Kenapa serangan balik bisa menimpa orang-orangku?” geramnya.

Dukun tua yang ia sewa pun terlihat ketakutan. “Ada kekuatan besar melindungi mereka. Doa seorang alim tak bisa dianggap remeh. Apalagi kalau ada restu dari arwah-arwah yang memang ingin menyingkap kebenaran.”

Hanggara semakin resah. Malam itu ia tak bisa tidur. Bayangan wajah Dewi, Anisa, bahkan kini Hapsari muncul bergantian menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Untuk pertama kalinya, Hanggara merasa… waktunya kian sempit.