Qorin (Cerbung Misteri Bab 26)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Fitnah Keji dan Bayangan Hapsari

Malam itu kampung mulai gaduh oleh kabar yang menyebar begitu cepat. Fitnah yang dilontarkan Hanggara seperti api kecil yang dilempar ke ladang kering: langsung membesar, menyambar ke mana-mana. Orang-orang berbisik di pos ronda, di warung kopi, di jalan setapak menuju sawah, bahkan di serambi masjid selepas isya.

“Katanya… Dewi dulu bukan perempuan baik-baik,” bisik seorang lelaki paruh baya, wajahnya setengah tak percaya tapi tak kuasa menahan lidah.
“Iya, aku juga dengar. Konon Anisa itu bukan anak Arya. Bayu saja yang benar-benar darah daging Arya,” timpal yang lain.

Desas-desus itu semakin menjadi-jadi, membuat keluarga Bayu—terutama Nenek Lastri—nyaris tak kuat menahan perih. Bayu sendiri merasa dadanya diremas setiap kali mendengar nama ibunya disebut dengan nada hina.

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Ia tahu, ibunya Dewi adalah perempuan mulia, setia, tak pernah berkhianat. Namun lidah orang-orang yang termakan fitnah Hanggara jauh lebih tajam daripada pedang.

Maisaroh, ibu angkat Alisa, sampai menangis mendengar berita itu.

“Ya Allah… bagaimana bisa mereka berkata keji begitu? Meski aku tidak kenal langsung, tapi aku yakin Bu Dewi adalah wanita baik. Tidak mungkin fitnah itu benar,” ujarnya lirih kepada Burhan.
Burhan hanya menghela napas panjang.

“Hanggara… orang itu makin gila. Dia menyimpan rahasia besar dan kini berusaha menutupinya dengan menodai nama orang-orang yang sudah tiada!” seru Burhan.

Ziarah ke Pusara

Bayu akhirnya mengambil keputusan. Bersama Alisa, Burhan, Maisaroh, Arsyita, dan Hanan, ia pergi berziarah ke pusara keluarganya. Malam itu bulan sabit redup, angin dingin menerpa dedaunan, dan suasana makam di tepi kampung terasa begitu mencekam.

Di depan nisan sederhana bertuliskan nama Dewi, Bayu bersimpuh. Suaranya bergetar, matanya memerah.
“Ibu… mereka menuduhmu macam-macam. Mereka menginjak kehormatanmu. Aku tak akan diam. Aku bersumpah akan membongkar semua kejahatan Hanggara!” seru Bayu.

Alisa menggenggam bahu Bayu, air matanya ikut menetes. “Aku percaya pada ibumu, Mas Bayu. Aku percaya pada kebenaran. Kita akan hadapi ini bersama,” hibur Alisa.

Nenek Lastri yang ikut berziarah menunduk dalam, tangannya gemetar memegang bunga tabur. Dalam hatinya ia merutuk keras fitnah Hanggara. Namun rasa lelah karena usia membuatnya sempat terlelap sejenak di dekat pusara.

Diantara pusara suami dan anak cucunya itu Lastri sempat terlelap singkat hingga masuk ke alam mimpi.

Pesan Ramlan

Dalam mimpinya, Nenek Lastri melihat sosok suaminya, Ramlan, berdiri tegak mengenakan pakaian jawa kesukaannya. Wajahnya teduh namun serius.

“Lastri…” suaranya bergema lirih. “Kau dan cucumu sedang dizalimi. Pergilah temui Rasyid, anak dari guru ngaji kita dulu. Ia menyimpan kunci masa lalu. Dari sana kau akan tahu siapa musuh sebenarnya dan siapa sebenarnya Anisa!”

Lastri terbangun dengan peluh dingin, matanya terbelalak. Ia menoleh ke Bayu dan berbisik,

“Nak, besok kita harus menemui Rasyid. Jangan tunda lagi. Semua ini ada hubungannya dengan dia.”

Anisa nama cucunya yang telah tiada disebut Ramlan almarhum suaminya. Lastri jadi tergagap dan bangun dari mimpi sekejap nya.

Bayu menatap heran, tapi juga yakin. “Baik, Nek. Kita akan ke sana.”

Baca Juga:

Kampung yang Kian Horor

Sementara itu, akibat fitnah Hanggara, warga kampung mulai menjauhi keluarga Bayu. Bahkan ada yang terang-terangan mengusir mereka.

“Pergi saja kalian! Jangan tinggal di sini! Kalian bawa sial!” teriak seorang lelaki muda saat keluarga Bayu pulang dari makam.
Maisaroh memeluk Alisa, mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri berguncang.

Kampung itu semakin hari terasa horor. Sosok Dewi dan Anisa makin sering menampakkan diri. Bukan hanya di mimpi, tetapi juga nyata di beberapa tempat. Ada yang melihat sosok perempuan berambut panjang dengan wajah pucat duduk di bale-bale bambu.

Ada pula yang mendengar tangisan anak perempuan di dekat sumur tua. Semua menunjuk pada sosok Dewi dan Anisa.

Hanggara dan anak buahnya adalah yang paling sering diteror. Hampir setiap malam, salah seorang dari mereka berteriak histeris karena didatangi arwah Anisa yang menangis di ujung ranjang. Ada pula yang mengaku melihat Dewi berdiri di pojok ruangan sambil menatap tajam.

Namun Hanggara tak mau kalah. Ia membalikkan keadaan.

“Itu semua ulah Hanan dan Arsyita!” tuduhnya lantang kepada warga.

“Mereka yang membawa-bawa roh gentayangan untuk menakut-nakuti kita. Mereka mau memfitnah komunitasku!” kilah Hanggara manusia licik dan serakah. Dia yang mengincar aset Arya sampai tega berbuat kejam kepada keluarga Arya ayah Bayu.

Sebagian warga percaya, sebagian lain mulai ragu. Namun, karena tak ada bukti semua masih abu-abu. Warga yang cerdas memilih diam tak berkomentar. Salah komentar bisa ikut menyebarkan fitnah. Mending menunggu kabar pastinya baru menarik kesimpulan.

“Tidak boleh bersikap tegas pada sesuatu yang tidak jelas. Kita belum tahu mana yang benar mana yang salah,” kata seorang warga yang cukup bijak di kampung itu.

Sosok Baru: Hapsari

Suatu malam, saat Hanggara tengah duduk gelisah di rumahnya, tiba-tiba lampu minyak bergoyang hebat. Angin dingin menerpa, dan dari kegelapan muncul sosok perempuan muda dengan gaun berlumuran darah. Wajahnya cantik tapi pucat, lehernya seperti tergores pisau.

“Hanggara…” suara itu serak, menusuk telinga.
Hanggara gemetar, mengenali sosok itu. “Ha… Hapsari?! Kau… kau tidak mungkin… kau sudah mati!”
Sosok itu mendekat, darah menetes dari ujung jarinya. “Jangan ganggu keluarga Arya… Jangan kotori nama Dewi… Jika kau teruskan, kau akan binasa…”

Hanggara berteriak, namun suaranya tertahan. Ia jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi. Anak buahnya yang mendengar jeritan itu segera masuk, tapi sosok Hapsari sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah bau amis darah yang menusuk hidung.

Misteri Hapsari

Esoknya, gosip baru menyebar. Ada yang bilang, arwah Hapsari, mantan karyawan setia Arya, kini ikut menampakkan diri. Kematian Hapsari dulu memang misterius—ditemukan tewas bersimbah darah di kantor Arya, tanpa pelaku yang jelas.

Warga yang dulu percaya pada fitnah Hanggara mulai goyah.

“Kalau benar Hapsari wanita simpanan Arya, kenapa arwahnya membela keluarga Arya?” tanya seorang ibu-ibu di pasar.

Yang lain menjawab lirih, “Mungkin memang Hapsari bukan seperti yang dikatakan Hanggara. Mungkin dia justru korban.”

Fitnah Hanggara perlahan-lahan mulai retak, meski ia terus berusaha menguatkan pengaruhnya.

Tekad Bayu

Bayu semakin bulat tekadnya. “Aku tak bisa hanya menunggu. Aku harus bongkar semua kejahatan Hanggara, satu per satu. Aku akan cari bukti, aku akan cari saksi. Jika perlu, aku korbankan diriku, asal nama ibu, ayah, dan Anisa bersih!”

Hanan menepuk bahunya. “Kita bersama-sama, Bayu. Aku dan Arsyita akan mendukungmu. Fitnah tak akan bertahan lama jika kebenaran mulai terkuak.”

Alisa, meski masih sering diganggu mimpi buruk, menatap Bayu dengan penuh keberanian. “Aku akan ikut berjuang. Kita tidak boleh kalah oleh kebusukan hati Hanggara.”

Di antara semilir angin makam yang masih membekas dalam ingatan mereka, seolah terdengar suara lirih Dewi dan Anisa yang berbisik dari alam lain:
“Teruskan… jangan takut… kebenaran akan menang.”

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Bayu dan Alisa terdiam, meski dia penasaran dengan sosok Dewi dan Anisa. Kenapa melarang hubungan mereka tapi disatu sisi meminta mereka meneruskan langkah. Seakan Dewi ingin Bayu dan Alisa menemukan suatu rahasia besar dalam hidup dan kehidupannya.