Alisa Terbaring Lemah
Alisa terbaring lemah di ranjangnya. Tubuhnya dingin, napasnya terengah, dan pandangan matanya sesekali kosong. Di sisi ranjang, Maisaroh duduk sambil menggenggam tangan anak yang selama ini ia rawat penuh kasih. Air matanya jatuh membasahi punggung tangan Alisa.
“Nduk… kenapa harus kamu yang ngalamin ini? Kalau bisa Ibu yang sakit, bukan kamu,” bisiknya lirih.
Alisa menggeleng pelan. Bibirnya bergetar. “Bu… kenapa urusan hati harus serumit ini? Aku hanya ingin hidup normal… mencintai seseorang yang aku pilih. Tapi kenapa sampai ada arwah yang ikut campur?” Alisa bicara dengan napas terengah-engah.
Maisaroh tidak menjawab. Burhan yang sejak tadi berdiri di pintu kamar hanya menunduk, wajahnya penuh penyesalan.
Di sela-sela keheningan, suara lirih terdengar, nyaris tak kasat mata. “Jangan bersama Bayu… jangan ulangi kesalahan…”
Suara itu membuat Alisa menggigil. Ia tahu itu suara Dewi, sosok perempuan yang selalu hadir dalam mimpinya. Sosok yang selalu datang dalam mimpi mimpinya, bahkan dalam alam nyata. Kehadirannya sejak Alisa menjalin hubungan asmara dengan Bayu. Membuat Alisa merasa sangat tidak nyaman.

Kegelisahan Di Kampung Bayu
Sementara itu, di kampung kelahiran Bayu, kehebohan semakin menjadi-jadi. Sudah beberapa minggu terakhir warga sering melihat sosok perempuan berbaju putih berjalan di tepi sawah menjelang malam. Kadang ia muncul di dekat sungai dengan rambut tergerai panjang. Wajahnya pucat, mata kosong.
Beberapa orang bersumpah sosok itu adalah Dewi. Ada yang melihatnya memanggil nama seseorang, ada pula yang mendengar tangisan anak kecil bersahut-sahutan.
Di antara orang-orang itu, Hanggara adalah yang paling resah. Ia seorang pria paruh baya yang cukup disegani di kampung. Suatu malam, ketika hendak pulang dari surau, ia berpapasan langsung dengan sosok itu di jalan setapak. Tubuhnya kaku, tak bisa bergerak. Dewi menatapnya lama, lalu berbisik pelan:
“Jangan biarkan mereka bersama… bencana akan turun dan Kamu yang paling bertanggung jawab atas semua itu!”
Sejak saat itu, Hanggara tidak bisa tidur nyenyak. Teror makin sering datang—kadang di dalam mimpi, kadang nyata. Ia lalu berinisiatif mengumpulkan orang-orang yang mengalami kejadian serupa.
Di balai desa, Hanggara berdiri dengan wajah serius. “Kita nggak bisa diam. Kalau terus begini, kampung kita tidak akan tenang. Sosok Dewi sudah gentayangan, menampakkan diri ke banyak orang. Kalau tidak bersatu, kita akan selalu diteror!”
Beberapa warga mengangguk. Ada yang ketakutan, ada pula yang skeptis.
“Kalau benar itu arwah Dewi, kenapa dia ganggu kita? Apa maunya?” tanya seorang pemuda.
Hanggara menarik napas panjang. “Aku nggak tahu pasti. Tapi dia selalu menyebut nama Bayu dan Alisa. Aku rasa semua ini ada hubungannya dengan mereka!” seru Hanggara.
Ada sesuatu yang disembunyikan Hanggara. Sebuah sejarah masa lalu yang tidak ingin terbongkar. Namun, saat ini dia dalam dilema kalau tidak maka sosok Dewi akan terus menghantui.
Baca Juga:

Qorin (Cerbung Misteri Bab 22) https://sabilulhuda.org/qorin-cerbung-misteri-bab-22/
Hingga terpikir oleh Hanggara untuk meminta bantuan tenaga paranormal atau dukun yang dianggap sakti. Tujuannya adalah mengusir sosok Dewi yang dianggap bisa menghancurkan nama besarnya. Dia yang selama ini dianggap tokoh dan dihormati di kampung. Ternyata menyimpan sebuah rahasia kejahatan yang besar.
Pertemuan Bayu Dan Hanggara
Mendengar keributan itu, Bayu yang baru saja pulang menjenguk kampungnya dipanggil ke balai desa. Ia datang dengan wajah letih, masih dibayangi rasa bersalah karena hubungan terlarangnya dengan Alisa.
“Bayu,” sapa Hanggara, “kamu harus tahu. Ibumu… atau tepatnya sosok Dewi… sudah mengganggu warga di sini,” ucap Hanggara.
Bayu terdiam. Jantungnya berdegup keras. “Tapi… bukankah Bu Dewi sudah lama meninggal?”
“Justru itu!” potong Hanggara. “Dia meninggal dengan cara yang tidak wajar. Orang bilang bunuh diri, arwahnya jadi gentayangan. Sekarang arwahnya gentayangan, menuntut sesuatu. Semua orang yakin… ini ada hubungannya dengan kamu dan Alisa,” jawab Hanggara.
Bayu menghela napas, suaranya bergetar. “Dia bilang jangan dekat dengan Alisa… Dia menulisnya sendiri di naskah novelku. Aku nggak tahu lagi harus percaya apa,” Bayu berkata dalam hati.
Warga terdiam, sebagian berbisik-bisik. Mereka tahu cerita asmara Bayu dan Alisa, meski kabar itu hanya beredar diam-diam.
“Bisa jadi, keluarga Alisa adalah orang yang telah mencelakai ibu dan adikmu, Bayu. Sehingga arwah ibumu tidak mau kalian berhubungan!” seru Hanggara dengan hati-hati, tapi dia hanya ingin mengalihkan kesalahan ke orang lain.
“Tidak mungkin, aku kenal keluarga Alisa tidak tampak sedikitpun ada kejahatan di raut wajah mereka!” seru Bayu.
Suasana balai desa langsung riuh. Beberapa orang terkejut, sebagian lagi menggeleng-gelengkan kepala.
“Kalau begitu wajar arwah Dewi marah!” seru salah seorang warga. “Kita harus selamatkan kampung dari kutukan ini!” sahut warga lain.
Alisa Dan Pertanyaan Tak Terjawab
Di rumah, Alisa masih terbaring. Malam itu ia bermimpi lagi. Dalam mimpinya, ia melihat Dewi berdiri di sebuah jembatan tua di kampung. Di sampingnya ada gadis kecil, Anisa, yang menggenggam tangannya.
“Kenapa kamu larang aku sama Bayu?” tanya Alisa dalam mimpi itu.
Dewi menatapnya dengan mata sayu. “Belum saatnya Kamu tahu Alisa, tapi ikuti saja permintaanku ini!”
“Apa maksudnya? Siapa sebenarnya Bu Dewi ini?” tanya Alisa lirih.
Namun, sebelum Dewi menjawab, tubuhnya tiba-tiba ditarik ke dalam sungai. Tangisan Anisa terdengar nyaring, lalu semuanya gelap.
Alisa terbangun dengan tubuh penuh peluh. Maisaroh buru-buru memeluknya. “Nduk, kamu mimpi apa lagi?”
“Ibu…” Alisa menatapnya dengan mata merah, “Apa salah Alisa? Kenapa tidak boleh mencintai lelaki yang juga mencintai Alisa!” ucap Alisa disela isak tangisnya.
Maisaroh menunduk, air matanya jatuh deras. Burhan yang duduk di kursi pojok akhirnya bersuara. “Kamu anak baik, Alisa. ”Semoga misteri ini cepat terungkap, kemungkinan sosok Dewi hanya ingin menyampaikan pesan kepadamu saja!” seru Burhan.
Rapat Tengah Malam
Sementara itu, Hanggara mengumpulkan beberapa warga yang berani menghadapi fenomena gaib ini. Mereka berkumpul di rumahnya, menyalakan beberapa lampu minyak, dan menyiapkan sesajen sederhana—meski sebagian menolak keras karena takut dianggap musyrik.
“Kita nggak berniat menyembah. Kita cuma mau tahu apa maunya arwah Dewi,” kata Hanggara menenangkan.
Malam itu, ketika mereka mulai membaca doa, tiba-tiba angin kencang berhembus. Lampu minyak bergoyang, suara tangisan perempuan terdengar di luar rumah. Semua orang merinding.
Lalu, di dinding rumah, bayangan hitam muncul perlahan. Wujud perempuan berbaju putih, rambut tergerai, wajah pucat penuh luka. Itu Dewi.
“Kenapa kalian ganggu aku?” suaranya bergema, serak, penuh amarah. “Aku tidak ingin ketenangan, sebelum kebenaran terungkap! Jangan biarkan Bayu dan Alisa bersama… itu akan jadi awal kehancuran!” Suara sosok Dewi dengan suara berat dan parau.
Hanggara memberanikan diri bertanya. “Kalau begitu… pergilah dari kampung ini, Dewi! Jangan ganggu warga kampung ini!” kata Hanggara memberanikan diri.
Sosok itu menoleh pelan. Mulutnya terbuka, seakan hendak mengucapkan sesuatu. Namun tiba-tiba bayangan itu terhempas, seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Suara tangisnya memekakkan telinga sebelum akhirnya hilang.
Diam-diam Hanggara menyiapkan seorang dukun untuk menaklukan sosok Dewi. Semua dilakukan untuk mengubur jejak kejahatan masa lalu yang pernah dilakukan. Entah sosok Dewi itu memang Dewi atau apapun, yang jelas kehadirannya mengganggu ketenangan Hanggara.
Salah satu jalan harus menyingkirkan sosok tersebut agar tidak membongkar rahasia selama ini.
Semua orang panik. Beberapa warga jatuh pingsan. Hanggara terdiam, wajahnya pucat pasi.
“Ada yang lebih besar dari sekadar arwah gentayangan,” katanya pelan. “Ada rahasia yang belum terungkap di balik kematian Dewi.” Salah seorang warga yang dari awal tidak percaya Dewi bunuh diri angkat bicara.
“Diam … jangan ambil kesimpulan sendiri itu akan berbahaya!” bentak Hanggara.
Semua terdiam karena takut dan sungkan dengan Hanggara. Orang yang berkata itu jadi pusat perhatian warga. Meskipun banyak yang berpikiran sama, tapi tidak ada yang berani mengungkapkan.
Bayu Di Persimpangan
Bayu berjalan sendirian di pematang sawah tengah malam, memikirkan semua kejadian itu. Pikirannya kalut. Cinta yang ia rasakan pada Alisa ternyata adalah sebuah larangan yang datang dari arwah Ibunya?
Hal yang membuat Bayu heran, apa salah dirinya atau Alisa. Bahkan keluarga Alisa juga orang baik dan ramah. Tidak menunjukkan ada kejahatan di wajah-wajah mereka.
Ia berhenti di tepi sungai, menatap air yang mengalir pelan. Bayangan ibunya muncul sekilas, lalu menghilang.
“Apa yang harus aku lakukan, Bu?” gumam Bayu dengan suara bergetar.
Hening. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Namun tiba-tiba, angin bertiup kencang. Daun-daun berputar, dan dari balik pohon, suara perempuan berbisik:
“Cari kebenaran, Bayu. Jika tidak… Alisa akan binasa.”
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA
Ketegangan Memuncak
Keesokan harinya, kabar tentang pertemuan gaib di rumah Hanggara menyebar ke seluruh kampung. Beberapa warga menuduh keluarga Burhan menyimpan rahasia kelam. Ada pula yang mengusulkan agar keluarga Alisa diusir untuk menghentikan teror.
Burhan murka mendengar desas-desus itu. “Kita ini sama-sama manusia! Jangan karena arwah gentayangan, keluarga saya jadi kambing hitam!” seru Burhan.
Namun, tudingan itu terus berdatangan. Bahkan, beberapa orang yakin Burhan tahu siapa pembunuh Dewi, hanya saja menutupinya.
Di tengah kekacauan itu, Hanan kembali hadir. Ia mencoba menenangkan keadaan.
“Arwah tidak akan muncul tanpa sebab. Dia hanya menuntut kebenaran. Jadi kita harus mencari siapa yang bersalah. Bukan malah saling menyalahkan.”
Hanggara menatap Hanan lama. “Kalau begitu, kau yang harus memimpin pencarian ini. Karena kalau kita biarkan… arwah Dewi akan semakin kuat, dan teror ini bisa memakan korban.”
Malam semakin larut. Di rumah Alisa, suara ketukan terdengar di jendela. Maisaroh yang sedang berjaga langsung terlonjak. Ia membuka perlahan, tapi tidak melihat siapa-siapa.
Namun, di kaca jendela, sebuah kalimat tertulis dengan goresan seperti darah:
“Jangan biarkan mereka bersama. Jika tidak, kampung ini akan terbakar…”
Maisaroh menutup mulutnya, tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu, ini baru permulaan.
Bersambung…



