Qorin (Cerbung Misteri Bab 15)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri Bab 15)

Pertemuan Kembali Yang Sarat Makna

Burhan dan istrinya pun memahami, mereka juga baru tahu jika Nenek Lastri dan suaminya dulu adalah murid dari kakeknya Hanan. Bahkan, Hanan kecil juga sering ke rumah Lastri di saat Dewi anaknya masih hidup. Bayu juga merupakan teman kecil Hanan, meskipun Bayu kecil selalu mengalah jika Hanan menginginkan sesuatu.

Hubungan yang unik dan penuh misteri, pertemuan Kembali antara Hanan dan Bayu juga Nenek Lastri Bagai reuni dua anak kecil dengan neneknya. Membicarakan kenakalan waktu kecil, tanpa ada unsur dendam.

“Nenek Lastri seperti mendapat cucu yang lama tidak berjumpa,” kata Burhan.

“Ini anugerah dari yang Maha Kuasa, kehadiran Hanan membuatku Kembali semangat,” kata nenek Lastri.

Kenangan Tembang Jawa

“O iya nek, Hanan ingat dulu Nenek sering melantunkan tembang jawa. Hanan lupa judulnya, tapi suka sekali mendengarkan Nenek membawakan tembang itu,” kata Hanan.

“Tembang yang mana? Sudah lama nenek tidak rengeng rengeng,” jawab Nenek Lastri. Menyebut bersenandung dengan istilah rengeng-rengeng dalam Bahasa Jawa.

“Ah, itu lo Nek tembang yang isinya menggambarkan perjuangan melawan setan!” seru Hanan.

“Perjuangan melawan setan? Nenek gak ngerti maksudnya,” jawab Nenek Lastri.

“Aduh, pokoknya dulu kalau nenek sedang sedih selalu melantunkan tembang itu,” kata Hanan.

“Mungkin yang dimaksud Hanan tembang rumekso ingsun itu, Nek,” sahut Bayu.

“Nah iya, syairnya begitu, apa Nenek masih ingat?” tanya Hanan.

“Oh, itu tembang sekaligus wejangan hidup. Bopo Munatsir Kakekmu yang mengajari Nenek waktu itu,” kata Nenek Lastri.

Kemudian Nenek Lastri pun melantunkan tembang yang dimaksud. Tembang jawa yang berjudul Kidung Wahyu Kolosebo. Hanan mendengarkan dengan serius, seakan Kembali ke masa kecilnya bersama Bayu.

Baca Juga:

Nenek Lastri melantunkan tembang hingga selesai. Syairnya cukup panjang dan banyak istilah dari Bahasa jawa kawi yang kurang dimengerti oleh generasi muda. Bahkan Bayu dan Hanan pun merasa asing dengan beberapa kata yang ada di dalam tembang tersebut.

Akan tetapi, Hanan bisa memahami isinya secara garis besar. Hanya saja kurang mengerti dengan arti kata per katanya. Kemudian Hanan meminta Nenek Lastri untuk menjelaskan bagian bagian yang tidak dipahami Hanan.

Makna Doa Dalam Kidung

“Isi syair itu sangat bagus Nek, meski Hanan tidak hafal arti kata perkatanya. Namun, itu seperti sebuah doa meminta pertolongan kepada Allah Swt,” kata Hanan.

“Memang dulu, Nenek sering melantunkan tembang itu untuk memohon pertolongan kepada gusti Allah. Sayangnya malah dituduh memuja setan atau mengundang setan,” kata Nenek Lastri.

Hanan mendengarkan keluhan Nenek Lastri, dia memahami apa yang dirasakan Nenek Lastri. Bagi orang tertentu terutama generasi muda pasti tidak memahami isi tembang tersebut adalah sebuah doa. Meskipun dalam Bahasa jawa dan ada kata-kata yang bisa dianggap menyimpang.

Seperti kata Sang Hyang wenang, tapi yang dimaksud sebenarnya adalah yang maha berwenang, atau berkehendak (menentukan takdir). Hanan masih ingat kata-kata Kakeknya yang pernah menjabarkan kata perkata dari tembang tersebut.

Sayangnya Hanan tidak ingat secara utuh, karena waktu itu menganggap itu tidak ada gunanya. Sekarang Hanan baru merasakan manfaat dari wejangan kakeknya dulu.

“Nenek hafal doa tolak bala?” tanya Hanan hati-hati agar tidak menyinggung.

“Tidak, lidah jawa sulit mengucapkan kata kata Arab,” jawab Nenek Lastri.

“Gapapa Nek, tembang itu tadi bisa dijadikan doa tolak bala versi Bahasa jawa. Gak usah takut dikatakan mengundang setan.” Kata Hanan.

Namun, Hanan tetap meminta Bayu untuk memperbanyak doa keselamatan dan doa tolak bala dengan Bahasa Arab. Khusu kepada Nenek Lastri saja Hanan meminta berdoa dengan Bahasa jawa melalui tembang.

Wejangan dari Kakeknya, berdoa boleh dengan Bahasa apa saja tidak b=harus Bahasa Arab,. Kecuali dalam sholat, memang harus dengan Bahasa Arab.

Tirakat Mengusir Aura Negatif

“Bayu, Kamu perbanyak doa, rumah ini masih banyak aura negatif. Nanti malam kita berdua jaga di luar, kebetulan besok aku libur,” kata Hanan.

“Oke, siap aku temani sampai pagi juga boleh. Karena aku masih cuti,” jawab Bayu.

Hanan dan Bayu berjanji untuk melakukan tirakat menghilangkan aura negatif di rumah tersebut. Hanan melupakan sejenak soal Alisa, bagaimanapun Bayu adalah teman masa kecilnya dan Nenek Lastri adalah murid kakeknya yang harus dihormati juga.

“Nak Hanan jadi menginap disini, kami pulang sekarang,” kata Burhan.

“Ya Pak, tinggalkan saja saya. Maaf pertemuan dengan nenek Lastri ini mengingatkan saya pada masa kecil saya,” kata Hanan.

“Baiklah, kalau begitu kami tinggal. Bu Lastri, nak Bayu kami mohon pamit,” kata Burhan diikuti Maisaroh. Kemudian mereka menghantarkan Burhan dan Maisaroh sampai di jalan melepas kepergian suami istri tersebut.

Kenangan Masa Kecil Dan Cinta Yang Tertahan

Hanan masih sering mengingat Alisa. Bagaimanapun Hanan sangat mencintai Alisa. Namun, tidak mau juga merebut Alisa dari Bayu. Di masa kecilnya, Bayu sudah banyak mengalah dengan Hanan.

“Heh jangan melamun, mikirin siapa hayo!” seru Bayu saat melihat Hanan termenung.

“Ah gak, aku hanya merasa ada yang janggal di rumahmu ini, Bayu!” seru Hanan.

“Aku juga merasakan, tapi tidak tahu apa yang janggal dan harus bagaimana. Kemarin sempat berpikir pergi ke rumah Kyai Usman, tapi bingung harus bicara gimana,” kata Bayu.

“Bilang saja apa adanya, memang apa yang Kamu rasakan, Bayu?” tanya Hanan.

“Sebelumnya aku mau tanya sesuatu dulu, Hanan,” kata Bayu.

“Tanya aja, silahkan,” jawab Hanan.

“Benarkah tembang tadi bisa dijadikan doa?” tanya Bayu.

“Iya, terutama bagi orang yang sudah sepuh seperti Nenek Lastri. Kalau dipaksakan dengan Bahasa arab akan kesulitan dan memilih untuk tidak berdoa,” jawab Hanan.

“Memang seperti apa isinya, aku sendiri tidak paham maksudnya,” kata Bayu.

“Sebagian syair itu isinya sebagai berikut ini,” kata Hanan, lalu menjelaskan secara singkat kepada Bayu Sebagian isi syairnya tersebut berikut makna yang terkandung di dalamnya.

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh

Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah

Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko

Kataman wahyu…….. Kolosebo

Orang yang mendapat ridho illahi akan mendapat kekuatan (Ampuh = sakti) dan tidak mempan santet atau guna guna. Hidupnya akan perkasa dan ceria wajahnya memancarkan aura positif. Memiliki sifat ksatria seperti Bintang yang bercahaya.

Itu adalah orang yang memperoleh Hidayah dan menjalankan sholat. Makna dari kolosebo yaitu kolo adalah waktu sebo itu artinya menghadap. Kolosebo adalah waktu menghadap illahi atau waktu-waktu sholat.

“Begitulah, kakekku dulu mengajari murid muridnya. Tidak semua selalu dengan Bahasa Arab. Karena keterbatasan lidah orang jawa,” kata Hanan.Bayu pun mengangguk angguk, tapi dia tak habis pikir kenapa sekarang mendapat ujian yang begitu berat.

“Juju raku mendapat ujian yang cukup berat bagiku. Banyak hal mistis yang aku alami saat ini,” kata bayu.

Hanan terdiam, dia menduga bayu akan menceritakan tentang hubungan dia dengan Alisa. Karena Burhan juga sudah menceritakan apa yang dialami Bayu. Namun, Hanan berusaha menahan perasaan pribadinya.

“Mungkin lebih baik, Alisa juga diberitahu, aku akan izin pada Pak Burhan. Agar semakin jelas ada apa sebenarnya. Mbak Dewi adalah orang baik, Bayu juga orang baik. Mungkin ada sosok lain yang menyerupai Mbak Dewi saja,” kata Hanan dalam hati.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Misteri dan Ancaman Terselubung

Bayu berkata jujur, jika dia mempunyai kerja sampingan sebagai penulis. Pada saat menulis beberapa kali dia tertidur. Kemudian saat bangun di layer monitornya muncul tulisan yang isinya disuruh menjauhi Alisa.

“Nanti malam kita coba tirakat jangan tidur semalam. Semoga ada petunjuk atau jalan keluar, tapi yang jelas rumah ini memang sengaja dibuat panas oleh seseorang,” kata Hanan.

“Siapa yang membuat dan apa tujuannya?” tanya Bayu.

“Almarhum ayahmu dulu orang sukses, banyak yang iri dan berbuat kejam untuk menghancurkan keluargamu,” kata Hanan.

“Dari mana Kamu bisa tahu semua itu?” tanya Bayu heran.

“Sebenarnya aku pernah bertemu dengan mendiang adikmu. Dia mengatakan jika dia dan ayahmu bukan kecelakaan, melainkan mobilnya disabotase hingga masuk ke jurang,” kata Hanan.

“Siapa orangnya, kalau aku tahu pasti akan aku balas. Betapa kejamnya orang itu.” kata Bayu.

“Sabar, Kamu bukan tipe pendendam. Tunggu sampai semuanya terbongkar, ingat kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Siapa sangka kita akan bertemu? Kalau bukan karena takdir Allah, selama ini kita sudah tidak saling kenal,” kata Hanan.

Bayu mendengarkan ucapan Hanan, tapi Hanan masih menyimpan satu rahasia. Dia mengetahui jika Dewi bukan mati bunuh diri, melainkan dibunuh dan diperlakukan tidak senonoh. Hanya saja Hanan masih merahasiakan dari semua termasuk Bayu.