Qorin Bab 52: TEROR DI RUMAH BURHAN PINTU GAIB TERBUKA

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Sabilulhuda, Yogyakarta – Arsyita masih menutupi telinganya, tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya memburu seolah baru saja kabur dari bahaya besar yang tak kasat mata. Alisa mendekatinya dengan hati-hati.

“Arsyita… maksudmu kita berbahaya? Ada apa?” tanya Alisa terbata, memegang bahu adiknya.

Arsyita menggeleng cepat.

“Aku… aku dengar suara perempuan. Banyak! Mereka teriak-teriak di telingaku. Mereka bilang kalian—kamu dan Mas Bayu—jangan sampai keluar rumah! Mereka bilang… ada pintu yang terbuka di luar sana. Pintu yang nggak boleh kalian lewati.”

Bayu tersentak.
“Pintu? Pintu apa?”

Namun, sebelum Arsyita sempat menjawab, suara ledakan keras dari kamar tengah membuat semua orang menjerit. Cahaya merah menyala di balik pintu kamar, seperti ada api yang terbakar tanpa sumber.

Nenek Lastri memegangi dada, wajahnya pucat pasi.
“Ya Allah… itu suara apa lagi?!” jeritnya.

Burhan dan Maisaroh berlari ke ruang tengah. Maisaroh hampir jatuh saking kagetnya melihat lemari kayu besar bergeser sendiri, menyeret jejak di lantai seakan ada tangan-tangan besar mencengkeramnya.

“Mas Burhan! Tahan itu!” teriak Maisaroh.

Burhan berusaha menahannya, tapi dorongan dari arah kosong itu jauh lebih kuat dari manusia. Lemari itu jatuh menghantam lantai, pintunya terbuka, dan dari dalamnya keluar embusan angin sangat dingin disertai suara bisikan lirih yang membelah ruang:

“Maithuna dibuka… jiwa-jiwa terlepas… Darah keluarga Bayu dipanggil kembali…”

Bayu merinding.
“Suara itu lagi… Sama seperti di rumahku waktu itu…”

Suara itu menggema, membentuk gema yang tidak mungkin terjadi di ruangan sekecil itu. Semua orang mundur kecuali Arsyita yang justru menatap kosong ke arah lemari.

“Mereka sudah marah,” bisiknya lirih. “Ritual itu memanggil mereka… memanggil sesuatu yang haus darah.”

Mereka diam dalam ketakutan. Teror nyata dari makhluk tak kasat mata membuat bulu kuduk mereka merinding. Bahkan semua saling berdekatan tak berani saling berjauhan.

Baca Juga:

RITUAL NARPATI – LORONG DIMENSI TERBUKA

Dari jauh Narpati telah berhasil membuka lorong dua dimensi. Sebuah pintu penghubung antara dimensi manusia dan dimensi makhluk tak kasat mata.

Dalam sebuah bangunan tua yang dijadikan tempat ritual, Narpati berada di lingkaran utama. Matanya memerah, seluruh tubuhnya ditutupi simbol-simbol kuno yang dilukis dengan darah ayam hitam.

Ruangan itu penuh puluhan pasangan yang berganti-ganti melakukan hubungan tanpa sekat, tubuh-tubuh mereka bergerak dalam irama kacau yang justru menghasilkan harmoni gaib. Di pojok ruangan, tiga orang pawang modern membakar dupa tebal, asapnya membentuk figur-figur tanpa wajah yang melayang menuju langit-langit.

Narpati menegakkan tubuhnya, menyeringai.
“Mulai… perang bintang sudah dibuka,” ucapnya pelan namun tegas.

Di luar bangunan, dua wujud astral besar muncul berkelebat, menuju arah Kyai Rasyid dan Hanan.

Hanan tersentak melihat langit di atas pepohonan mendadak berpendar merah ungu.
“Kyai! Mereka datang!”

Kyai Rasyid tidak menjawab, hanya mengangkat kedua tangan, membaca doa dengan suara rendah namun tegas. Dari telapak tangannya memancar cahaya putih kecil, lalu membesar menjadi bola cahaya.

“Astagfirullah… kuat sekali energi jahatnya,” bisik Kyai Rasyid. “Ini bukan sekadar Maithuna. Mereka sudah memutus sekat antara alam manusia dan alam jin tingkat bawah. Jika terus dibiarkan… keluarga Bayu bisa hancur.”

Hanan menelan ludah.
“Kita harus hentikan Narpati.”

“Kita tidak bisa masuk!” jawab Kyai Rasyid. “Jika kita mendekat sekarang, kita bisa mati sebelum sampai ke pintu. Kita perang dari sini!”

Ia merapalkan ayat, sementara dua makhluk astral menghambur ke arah mereka. Benturan cahaya terjadi di udara, petir putih vs. api ungu, memancar seterang kilat. Getarannya terasa hingga tanah.

TEROR MEMUNCAK DI RUMAH BURHAN

Arsyita tiba-tiba berteriak. Tubuhnya melengkung seperti menahan rasa sakit luar biasa. Maisaroh memeluknya sambil menangis.

“Ya Allah, anakku! Arsyita kenapa?!”

Arsyita menggigil.
“Dia… dia datang. Yang mengirim bisikan. Yang membuka pintu…”

“Siapa?!” tanya Bayu.

“Narpati…” jawab Arsyita lirih.

Begitu nama itu diucap, seluruh lampu rumah padam, menyisakan gelap pekat. Terdengar suara langkah kaki berat dari arah halaman, disusul suara tawa kecil—tawa tua dan dalam yang tidak berasal dari manusia.

Burhan mengambil pisau dapur, mendekati jendela.
“Siapa di luar?!”

Tiba-tiba—BRUK!
Sesosok bayangan hitam besar menabrak jendela sampai retak. Tubuhnya seperti asap pekat namun memiliki bentuk raga.

Bayu menarik Alisa dan Nenek Lastri ke belakang.
“Naik ke dalam! Jauh dari jendela!”

Wajah makhluk itu menempel ke kaca. Wajah hitam tanpa mata, hanya mulut besar penuh gigi panjang.

Arsyita menjerit.
“Itu! Itu yang aku lihat di dalam mimpi! Itu yang mengejar kita!”

Makhluk itu mengeluarkan suara gabungan puluhan suara:

“Berikan… darah… pengganti… Berikan… anak… Bayu…”

Arsyita memandang Alisa dan Bayu dengan mata membesar.
“Dia mau kalian! Makhluk itu mau menyeret kalian ke alam mereka!”

Maisaroh menangis panik.
“Kenapa kalian dikejar begini?! Apa salah kalian?!”

Bayu menjawab dengan napas berat,
“Aset keluarga kami… ternyata ada darah yang terikat dengan ritual kuno. Narpati mau mewarisinya. Kita penghalang.”

Baca Juga:

PERLINDUNGAN TERAKHIR – DOA KYAI RASYID

Tiba-tiba suara kentongan keras terdengar dari luar rumah, disusul orang-orang mengaji. Cahaya putih merambat dari pagar rumah, membungkus bangunan seperti perisai.

“Pak Kyai?!” seru Burhan.

Suara Kyai Rasyid menggema dari kejauhan, bercampur suara ledakan magis dari perang bintang.

“Tahan! Jangan keluar rumah! Pintu gaib sedang terbuka! Mereka menargetkan dua darah muda—Bayu dan Alisa! Jaga mereka!”

Makhluk hitam itu mengaum, menabrak dinding hingga runtuhan semen berjatuhan. Seakan ingin memaksa masuk.

Lantai ruang tamu menggembung, lalu retak. Tangan hitam panjang muncul dari celah tanah, mencoba meraih siapa pun yang dekat.

Jeritan mengisi ruang. Maisaroh, Burhan, dan Nenek Lastri mundur ketakutan.

Hingga akhirnya suara Kyai Rasyid menggema keras:
“Hanan! Pegang garisnya! Aku buka segelnya sekarang!”

Cahaya mendadak memancar kuat menerobos jendela.

Makhluk-makhluk itu menjerit, terbakar cahaya. Lantai berhenti retak. Tangan hitam itu menghilang.

Rumah kembali tenang… lampu menyala perlahan. Hanya suara tangisan yang tersisa.

Bayu memeluk Alisa.
“Kita diselamatkan…”

KEMUNCULAN ANISA – PERINGATAN DARI ALAM LAIN

Namun sebelum semua bernapas lega, pintu depan terbuka sendiri. Angin keras masuk ke ruang tamu. Suara lirih perempuan terdengar…

Suara yang sangat dikenal Bayu.

“Waspadalah… ini baru permulaan…”

Bayu menoleh.
Nenek Lastri menutup mulutnya.
Maisaroh terjatuh.

Karena yang berdiri di depan pintu adalah sosok perempuan muda berwajah pucat, rambut terurai—identik dengan Anisa terakhir kali terlihat. Namun tubuhnya tidak menyentuh tanah. Matanya kosong.

“Hentikan Narpati… sebelum dia memanggil jiwa yang tidak bisa dipulangkan…”

Dan sosok itu menghilang bagai asap.

Bayu tersungkur, terisak.
Anisa datang bukan sebagai roh pelindung…
tapi sebagai peringatan bahwa ritual Narpati sudah mencapai tahap yang tidak bisa dibalik.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA