
Qiandra! Calon Dokter – Namanya Qiandra, umurnya 8 tahun. Dia anak kedua dan satu-satunya anak gadis Pras. Qian adik reza. Gadis kecil berkerudung yang polos dan ceria.
Malam itu Qian pergi bersama ayah dan saudara-saudaranya. Dia tak tahu mau ke mana. Ayahnya hanya bilang mau cari kost baru. Bocah itu bahagia saat mobil membawa mereka pergi.
Sepanjang jalan matanya melihat lampu-lampu di pinggir jalan yang dilewati, hingga akhirnya mobil sampai di sebuah bangunan besar dan mereka turun di situ. Entah dimana ini.
Qian mengikuti ayahnya berjalan. Tak sadar matanya menangkap sebuah tulisan ,”Pondok SH”. Bibirnya tersenyum, oooh ternyata ayah ngajak kita ke pondok , batinnya. Ya pondok adalah tempat yang menjadi impiannya. Mengingat mereka berempat pernah masuk ke pondok sebelumnya.
“Assalamu’alaikum ,” ayahnya mengucapkan salam
“wa’alaikum salam, silakan-silakan, ayo masuk,’ jawab bapak yang di dalam.
Qian dan saudara-saudarnya masuk dan bersalaman dengan tuan rumah tersebut.
Hari-Hari Penuh Keceriaan di Pondok
Qian tak memperhatikan obrolan ayah dan bapak itu lagi. Matanya bersinar-sinar menyapu seluruh ruangan. Banyak anak-anak disini. Tak lama,Qian berkenalan dengan penghuni pondok dan Ifi salah satu santri pondok.
Baca Juga:

Reza! Anak Berbakat Dan Mandiri https://sabilulhuda.org/reza-anak-berbakat-dan-mandiri/
Dan mereka langsung akrab dan bermain bersama. Setelah makan dan sholat isya mereka bermain bersama anak-anak yang lain di aula.
Malam itu Qian Bahagia, punya teman baru, tempat baru di pondok. Esok harinya tak butuh waktu lama dia sudah bermain dengan teman-temannya di kebon, aula atas, kolam ikan. Bocah itu senang sekali.
Qian bocah polos tak benar-benar paham dengan apa yang terjadi dengan ayah dan mamanya. Dia tidak tahu kenapa mamanya pergi meninggalkan mereka. Yang dia tahu bahwa ayahnya sayang mereka, membawa kemanapun pergi, selalu bersama saat susah maupun senang.
“Ibu, kapan ya Qian sekolah?”, Tanyanya pada bu Nyai, suatu hari.
“InsyaAlloh besok ya nduk. Ibuk sudah daftarkan kamu ke sekolah,” jawab bu Nyai sambil tersenyum
“Alhamdulillahh, terimakasih buu,” Qian tersenyum, dan berlari-lari masuk ke kamarnya. Saking bahagianya bocah itu melompat-lompat di kasur sambil teriak “ besok aku sekolah!yeeeeaaa besok aku sekolah!”
Pagi harinya Qian bangun pagi, sholat subuh, lalu mandi . Dengan di bantu ibu Nyai dan mbak-mbak pondok, dia siapkan semua keperluannya. Bocah itu termasuk mandiri . Dia berusaha menyiapkan dirinya sebisanya. Dia songsong pagi itu dengan semangat dan gembira.
Tak lama mobil putih membawa anak-anak berangkat sekolah. Di sekolah Qian masih malu-malu, untung teman-temannya sangat menyenangkan., Mereka dan gurunya menyambut baik dan ramah Qian sebagai murid baru.
Mimpi Yang Mulia
Suatu hari, Qian mengobrol dengan ibu Mugi, salah satu pengasuh pondok.
“Qian, cita-citanya apa?,”
“Pingin jadi dokter, bu.” Katanya lantang.
“Dokter apa Qian?dokter gigi, hewan, anak?”, Tanya ibu lagi
“Dokter manusia,’ jawabnya sambil tertawa.
“Kenapa pingin jadi dokter?”
“Biar bisa nyembuhin orang buu,” jawabnya tersenyum sambil membetulkan kerudungnya.
Bu Mugi ikut tersenyum sambil mengusap kepala anak itu.
“Qian krasan di sini?’, Dia mengangguk.
“Kenapa? Apa yang membuat Qian kerasan?”
“Disini temannya banyak dan baik-baik. Di sekolah juga temannya baik-baik dan gurunya tidak galak”, katanya
“Syukurlah, Qian harus rajin belajar ya, biar tercapai cita-citanya jadi dokter . Harus rajin ngaji dan sholat juga ya,” pesan ibu Mugi. Qian mengangguk mantap.
Qian memang anak yang rajin sholat dan mengaji. Sekarang dia sudah sampai iqro 5. Setiap hari dia ikut TPA di pondok. Selain itu Qian juga senang menari dan membaca buku.
Cinta Untuk Ayah Dan Adik
Qian juga sangat dekat dengan ayahnya. Baginya ayah adalah the best. Dia suka minta gendong ayahnya. Yang dia tahu ayahnya suka bekerja keras buat mereka.
Kadang Qian menyusul ayahnya ke kantor atau sekedar melihat ayahnya kerja. Dan memanggil atau laporan sesuatu hal kecil. Melihat ayahnya ada setiap hari Itu hal yang membuatnya bahagia.
Qian juga sering momong adeknya Zaki. Dia sayang sekali sama zaki si bontot. Kadang di gendongnya adek bontotnya itu,walaupun dia tertatih berjalan, karena beratnya Zaki tapi dia melakukannya dengan penuh kasih sayang dan bahagia.
Mereka anak-anak yang polos, yang tak paham dengan masalah orangtuanya. Jaga mereka untuk tetap bahagia. Setiap anak adalah bintang yang bersinar dengan caranya sendiri, Mereka adalah amanah dari yang kuasa dan mereka adalah masa depan bangsa yang harus di perjuangkan dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Baca Juga: Pengabdian Anwar dan Kasidah Terakhir Bersama Abdul Kadir Jailani






