
Potret Pilu Guru Ngaji! Pengabdian Yang Terlupakan – Di sebuah desa kecil bernama Ngampel, Karanganyar, Kabupaten Demak, suara lantunan ayat suci biasa terdengar merdu dari sebuah langgar tua setiap sore.
Di tempat itulah seorang guru madrasah diniyah (madin), yang telah lama mengabdikan diri tanpa pamrih. Kini harus menelan pil pahit sampai harus menjual motor satu-satunya demi membayar ganti rugi yang dituntut oleh wali muridnya sendiri.
Guru madin itu yang selama ini di kenal masyarakat sebagai pribadi sabar dan penuh kasih dalam mendidik anak-anak kampung, dituduh menampar seorang muridnya. Peristiwa ini terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung.
Sang murid di kabarkan melempar sandal bersama teman-temannya hingga mengenai peci sang guru. Spontan, guru itu memberikan hukuman, yang berujung pada ketidakterimaan orang tua murid tersebut.
Tak berselang lama, sebuah surat pernyataan damai di tandatangani. Namun pernyataan damai itu berbiaya Rp 25 juta. Jumlah yang luar biasa besar bagi seorang guru ngaji yang bahkan tidak di gaji secara tetap.
Sang guru pun hanya mampu membayar Rp 15 juta, itu pun setelah menjual sepeda motornya. Sisa Rp 10 juta masih menggantung, sementara hati dan martabatnya sudah lebih dulu remuk.
Baca Juga:

Kehidupan Sederhana Di Panti Sabilulhuda Pakem https://sabilulhuda.org/kehidupan-sederhana-di-panti-sabilulhuda-pakem/
Zaman Sudah Berubah
Video peristiwa ini menjadi viral setelah di unggah oleh Gus Miftah melalui akun Instagram. Dia menyayangkan bagaimana guru ngaji yang selama ini mendidik anak-anak desa dengan hati dan kesabaran. Kini harus menghadapi ancaman hukum dan tuntutan materi.
“Dulu ketika anak mengadu telah dipukul guru, orang tua akan menyalahkan anaknya sendiri. Kini malah guru yang dilaporkan ke polisi. Zaman benar-benar sudah berubah,” tulis Gus Miftah dalam caption videonya.
Banjir simpati pun datang dari masyarakat. Banyak yang mengusulkan penggalangan dana untuk membantu sang guru. Banyak pula yang mengungkapkan betapa dulu mereka juga sering di hukum guru. Tapi tak pernah menyimpan dendam. Justru dari sanalah mereka belajar arti tanggung jawab.
Sosok Wali Murid Jadi Sorotan
Tak hanya simpati untuk sang guru, warganet juga mulai menyoroti sosok wali murid yang menuntut denda. Dalam sebuah unggahan oleh akun @beritasemaranghariini, terungkap bahwa wali murid tersebut berinisial SM (37). Mantan calon anggota DPRD Demak dari Partai Perindo. Dalam Pileg 2024, ia gagal karena hanya memperoleh 36 suara.
Banyak pihak menyayangkan tindakan tersebut. Salah satu warga desa, K, mengatakan bahwa seharusnya permasalahan semacam ini bisa di selesaikan dengan cara kekeluargaan. “Bukan malah dengan denda yang memberatkan dan mengorbankan guru ngaji yang telah lama mengabdi,” ujarnya.
Antara Tamparan Dan Luka Sosial
Kini, guru madin itu tetap datang ke langgar seperti biasa. Tapi langkahnya berat. Sepeda motor yang biasa mengantarkannya ke langgar kini telah berpindah tangan. Bukan karena keinginanbeliau sendiri, tapi karena keadaan yang memaksanya memilih: martabat tercoreng atau roda kehidupan.
Mungkin memang ada kekhilafan. Tapi apakah kekhilafan itu layak di bayar dengan masa depan anak? Guru ngaji bukan malaikat. Tetapi merekalah pelita yang bertahun-tahun menyalakan cahaya di kampung-kampung, bahkan ketika kita sudah lupa betapa pentingnya sinar itu.
Baca Juga: 43 Lembaga Pendidikan Pesantren Kantongi Izin Kemenag, Ini Daftarnya
Artikel ini diambil penulis dari berbagai sumber media sosial jika ada salah kata atau penulisan kami mohon maaf yang sebanyak banyaknya.






