Pesantren Dan Kearifan Islam Nusantara Di Tengah Logika Modern – Belakangan ini media sosial masih ramai memperbincangkan tentang pesantren. Ada yang menuduh sistem di dalamnya feodal, bahkan ada yang menganggapnya tidak cocok dengan semangat modern yang serba rasional.
Banyak orang kini berpikir, aturan dan tradisi hanya layak di ikuti kalau bisa diterima oleh logika. Kalau tidak masuk akal, buat apa ditaati?
Pesantren Adlah Sekolah Kehidupan Yang Menjaga Adab Dan Cinta
Padahal, tidak semua hal dalam hidup bisa kita ukur dengan hanya logika semata. Ada nilai-nilai tersendiri yang mana nilai itu hidup di dalam rasa, adab, dan cinta. Hal-hal seperti inilah yang tidak bisa kita jelaskan dengan rumus, tapi bisa kita rasakan di dalam hati. Itulah yang menjadi ruh di pesantren pesantren.

Hubungan antara santri dan kyai bukan hanya sebagai hubungan antara atasan dan bawahan, tetapi sebagai hubungan kasih seperti anak kepada orang tua. Santri menghormati bukan karena takut, tapi karena mereka cinta. Mereka meyakini bahwa keberkahan ilmu itu datang dari hati yang tulus dan adab yang terus mereka jaga.
Sayangnya, sebagian dari para netizen yang hidup di dunia serba digital saat ini ketika melihat tradisi seperti ini dari kacamata logika modern. Mencium tangan guru mereka menganggapnya kuno. Patuh pada kyai di anggap mengekang. Padahal, di balik sikap itu ada latihan spiritual yang melatih keikhlasan dan kerendahan hati.
Akal Dan Adab Adalah Dua Sayap Dalam Dunia Santri
Dalam dunia pesantren, akal dan adab itu tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi. Ilmu tanpa adab akan menumbuhkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu akan melahirkan kebodohan. Karena itu, santri itu belajar kedua-duanya: berpikir cerdas sekaligus menjaga hati.
Baca Juga:

Ketika Logika Menang! Tapi Adab Hilang Di Zaman Modern https://sabilulhuda.org/ketika-logika-menang-tapi-adab-hilang-di-zaman-modern/
Budaya Timur Tengah vs Islam Nusantara
Fenomena lain yang juga muncul adalah kecenderungan mereka para netizen yang membandingkan budaya Indonesia dengan budaya Timur Tengah. Ada anggapan bahwa menjadi muslim yang lurus itu harus mengikuti gaya berpakaian, berbicara, bahkan beribadah ala orang timur tengah.
Padahal, Indonesia sendiri mempunyai akar budaya sendiri yang juga Islami yaitu lembut, santun, dan beradab.
Dahulu, Islam datang ke Nusantara ini bukan untuk menghapus budaya, melainkan untuk menyucikan nilai-nilainya. Para ulama terdahulu tidak menolak dengan tradisi lokal, tetapi mereka kemudian memberikan ruh tauhid di dalamnya. Dari sinilah lahir wajah Islam Nusantara yaitu wajah yang ramah, sejuk, dan membumi.
Ketika Tradisi Baik Menjadi Bagian Dari Syariat
Dalam agama Islam, budaya yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat justru bisa di jadikan sebagai dasar hukum. Kaidah fikih menyebutkan:
اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ Adat kebiasaan yang baik dapat dijadikan dasar hukum.
Kaidah ini sejalan dengan hadis Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Ahmad:
مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ
Artinya: “Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk”
Artinya, budaya yang membawa kebaikan, seperti gotong royong, menghormati guru, atau tahlilan, termasuk bagian dari nilai Islam juga, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran pokok dari agama.
Menjaga Nilai Nilai Pesantren Dan Menjaga Jiwa Islam Yang Ramah
Pesantren selama ini menjadi tempat di mana nilai-nilai Islam dan budaya Nusantara itu dapat bertemu secara harmonis. Maka ketika pesantren di serang, sebenarnya yang diserang bukan hanya lembaganya saja, tapi juga akar dari kearifan lokal Islam yang sudah diwariskan secara berabad-abad.
Karena itu, kita perlu melihat pesantren itu bukan dengan prasangka, tapi dengan hati. Sebab, dari sinilah lahir Islam yang menenangkan, bukan menakutkan. Islam yang mendidik, bukan menghakimi. Islam yang hidup dalam kebersamaan, bukan perpecahan.
Baca Juga: Wamenag: Santri Laksana ‘Sayap Burung’, Ilmu dan Akhlak Harus Seimbang













