Percaya! Takdir Baik Akan Datang

Teman

Saat gelap menggerogoti jiwaku…

Kau laksana matahari…

Setiap hari hanya untukku…

Bersinar tersenyum berseri…

Aku rangkul sosokmu lagi…

Takkan kulepas…

 bahkan sampai malaikat maut menjemput nanti…

            Semua orang pasti memiliki sifat malu, tanpa terkecuali. Begitu juga denganku, namun bedanya adalah sifat malu yang ada di dalam diriku ini sudah stadium akhir. Padahal aku baru berusia 13 tahun. Dan alasanku menduduki stadium akhir adalah karena aku dirundung.  Masalah yang sering dianggap biasa oleh anak seusiaku. Karena pada dasarnya mereka merasakan apa yang kurasakan.

            Namaku Luna Ellia Lanuvel, Aku sekarang duduk dibangku MTs tahun kedua. Jadi, sudah setahun lamanya aku merasakan kesedihan ini. Alasan utamanya sangat sederhana dan konyol. Hanya karena orangtuaku mualaf dan namaku yang begitu kebarat-baratan. Alasan itu juga yang membuatku malu untuk memulai pembicaraan dengan siapa pun disekolah. Setiap perkataan buruk yang mereka bisikkan di belakangku selalu berhasil membuat mentalku menurun menuju dasar kehampaan.

            Manusia adalah makhluk sosial, termasuk aku. Aku benci tidak dianggap sebagai manusia di sekolah. Aku berdoa tiap malam agar rasa maluku hilang atau paling tidak orang-orang berhenti merundungku. Dan hari ini, semuanya benar-benar berubah.

            Besok akan ada murid baru di kelasku. Tepat setelah tahu akan hal itu, tak peduli dia laki-laki atau perempuan, aku berdoa sepenuh hati agar dia bisa menerimaku sebagai temannya, bahkan setelah tahu kenyataan tentang diriku. Karena aku duduk sendirian dikelas, aku jadi yakin bahwa aku bisa menjadi temannya.

            Keesokan harinya, aku datang paling awal dengan harapan bisa bertemu dengan murid baru itu lebih dulu dari siapa pun. Senyum lebar penuh ketidak sabaran terpampang di wajahku saat mulai memasuki gerbang sekolah yang udaranya masih terasa sejuk sambil membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Saat memasuki kelas, aku merasa bahwa takdir baik akan datang hari ini. Karena menunggu terasa membosankan, aku kemudian mengeluarkan sebuah novel dan mulai membacanya. Hanya satu menit setelah kubuka novel itu, mataku terasa sangat berat, dan tanpa sadar aku mulai tertidur.

            “Boleh aku duduk disini? Bangku lain sudah penuh.” Seseorang menepuk pundakku dan terdengar suara lembut yang belum pernah kudengar sebelumnya, berbisik tepat di telinga membuatku benar-benar terkejut.

            “Eh.. Ah.. Iyaa silahkan, lagian bangku ini memang kosong.” Aku berkata tanpa pikir panjang, masih mengantuk.

            “Maaf ya, padahal ini MTs tapi kamu harus duduk sama aku, jadi aneh ya?” Katanya dengan suara yang halusnya mencapai kesempurnaan.

            “Iya enggak papa kok, santai aja.” Kataku sambil menguap.

            “Eh, tunggu bentar, kamu anak baru kan?! Astaga, aku malah ketiduran! kacau banget!” karena panik, semua yang harusnya hanya ada di pikiranku menjadi terucap.

            “Memangnya aku nakutin ya? Kamu sampek takut gitu.” Ucapnya dengan tenang.

            “Bukan, bukan itu ,pokoknya kacau.” Kataku sambil mengatur nafas.

            “Kacau gimana? udah mau masuk lo ini. Mending kamu cuci muka dulu.”

            Setelah aku mencuci muka, kutatap diriku yang menyedihkan di depan cermin. “Kenapa bisa sekacau ini? padahal aku dah berharap banget.” Rahangku mengeras, merasa lebih menyedihkan dari sebelumnya. Kutarik nafas panjang dan kembali ke kelas. Aku berjalan menunduk menuju tempat dudukku seperti biasanya.

            “Gimana? udah seger lagi?” tanya murid baru itu dengan polos.

            “Paling enggak udah tenang lah.” Ucapku sambil mengusap wajah yang masih meneteskan air.

            “Bagus deh, Kalo gitu kenalin namaku Fitria Lailani, namamu?”

            “Ah iya belum kenalan, namaku Luna Ellia Lanuvel. Nama yang aneh buat siswi madrasah ya” Entah apa yang kuharapkan setelah mengatakan hal itu.

            “Emmmm, enggak juga, Aku suka namamu, cantik.”

            “Serius?!?!” Tanya ku dengan wajah campur aduk, antara senang dan tak percaya.

            “Iya serius.., memangnya ada yang salah?”

            “Pengen sih cerita, tapi aku takut kamu ngejauhin aku nanti.”

            “Gak akan, beneran deh.” Kata Fitria meyakinkan Luna.

            Dengan berat aku mulai bercerita, “Kan aku udah sekolah disini setahun, nah lebih banyak hal buruk yang menimpaku ketimbang yang baik. Kamu tahu kan namaku, karena menurut murid-murid disini namaku itu enggak cocok, aku di-bully. Dan selama kelas tujuh aku nggak punya teman disekolah. Juga karena orangtuaku yang mualaf, murid lain juga ngejauhin aku. Tapi aku cuma bisa diem selama ini.” Jelasku dengan wajah sedih.

            Tiba-tiba nafasnya memberat, wajahnya juga memerah, kedua alisnya mengerut membuatku takut dengan apa yang akan ia lakukan. Lalu dia mendorong kursi ke belakang dan berdiri.

            “Apa bener yang Luna bilang! Apa bener kalian semua ngejauhin Luna! Ngebully Luna! Kita ini hidup di negara Indonesia ! Terlepas dari agama kita, negara kita adalah negara Pancasila! Kita tidak boleh membeda-bedakan teman! Hanya karena dia berbeda sedikit dengan kita, lalu kita menjauhinya, itu jahat sekali!” Teriak Fitria yang membuatnya menarik perhatian satu kelas sekaligus, dan membuat semua siswa di kelas menjadi tegang. Aku hanya bisa menunduk dan menahan jantungku yang berdegup begitu kencang. Tiba-tiba bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi  memecah suasana tegang menjadi lebih santai.

            Jam pertama adalah pelajaran PPKn. Fitria sudah memperkenalkan diri dan pelajaran dimulai. Setelah setengah jam guru menjelaskan tentang hak asasi manusia, Fitria tiba-tiba mengangkat tangannya.

            “Pak saya mau tanya.” Ucapnya dengan lantang. Membuat seisi kelas menoleh ke arahnya.

Aku hanya bisa menunduk lagi dan berharap apa yang dikatakan olehnya tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan.

            “Contoh penerapan sila ke-2 dari Pancasila  itu tidak boleh membeda-bedakan teman. Benar tidak pak?”

            “Iya, itu salah satu penerapan sila ke-2. Memangnya kenapa kok tiba-tiba tanya tentang Pancasila?”

            “Saya ada permintaan Pak, saya mau semua siswa di kelas ini minta maaf sama Luna dan jadi teman Luna.” Kata Fitria dengan berani.

            Pak guru yang terkejut lantas memikirkan sejenak jawabannya, menerka-nerka tentang apa yang terjadi padaku. Lalu aku melihatnya menarik nafas panjang dan menyuruh semua anak di kelas minta maaf kepada dan menjadi temanku.

            Aku yang terkejut setengah mati atas apa yang dilakukan Fitria lagi-lagi hanya bisa memegangi dada kiriku, berusaha menahan degup jantung yang begitu kuat. Bahkan air mataku hampir keluar dari kelopak mataku bila tak kutahan juga.

            Atas apa yang terjadi hari ini, aku hanya bisa berterima kasih kepada Fitria karena sudah menghilangkan segala beban yang selama ini menyiksaku, karena dia sudah bersedia menjadi teman pertama dan terbaik selama hidupku. Aku berharap bisa selamanya menjadi sahabat terbaiknya. (Aldn Mask)