Sabilulhuda, Yogyakarta: Penyakit Jiwa Dan Cara Mengobatinya Dalam Pandangan Islam – Setiap manusia memiliki dua potensi yang besar di dalam jiwanya yaitu potensi kebaikan dan potensi keburukan. Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebut kedua potensi tersebut dalam Surah Asy-Syams ayat 7–10.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Potensi kebaikan disebut takwa, sementara potensi keburukan disebut fujur.
Keduanya selalu ada di dalam diri setiap manusia, tinggal bagaimana seseorang itu dapat mengelolanya agar mereka bisa menentukan arah kehidupannya.
Allah bersumpah di dalam ayat itu, dan ketika Allah bersumpah, itu pertanda sesuatu yang sangat penting. Artinya, memahami jiwa adalah bagian yang mendasar dalam kehidupan seorang muslim. Jiwa yang sehat akan memancarkan kebaikan dalam setiap ucapan, tindakan, dan sikapnya.
Sebaliknya, jiwa yang sakit akan menampakkan tanda-tanda melalui perilaku yang buruk, perkataan yang kasar, atau tindakan yang menyimpang dari fitrah manusia itu sendiri.
Baca Juga:
Ketika Jiwa Manusia Mulai Sakit
Penyakit jiwa dalam pandangan Islam bukan hanya kondisi dimana seseorang yang kehilangan kesadaran atau melakukan hal tercela tanpa terkontrol. Penyakit jiwa sejati adalah ketika seseorang itu tidak mampu mengoptimalkan potensi baiknya sehingga mereka dikuasai oleh potensi buruknya.
Mereka mungkin sadar, tapi hatinya gelap. Mereka tahu yang benar, tapi enggan melakukannya, mereka tahu yang salah, tapi justru menikmatinya. Itulah tanda-tanda jiwa yang sedang sakit.
Jiwa yang sehat tidak bisa kita bangun begitu saja. Tetapi jiwa itu harus kita latih, kita arahkan, dan di bersihkan melalui jalan yang benar, yaitu jalan yang disebut syariat.
Syariat berasal dari kata syari‘, yang berarti jalan menuju sumber air, tempat kehidupan bermula. Begitu pula syariat Islam: ia adalah jalan menuju sumber kehidupan rohani, tempat jiwa menemukan ketenangan dan kebersihan.
Ibadah Sebagai Terapi Jiwa
Setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah sesungguhnya adalah terapi bagi jiwa kita. Salat, misalnya, bukan hanya sebatas kegiatan rutinitas lima waktu. Tetapi salat adalah sebagai latihan disiplin spiritual kita yang mampu untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Di dalam salat, manusia itu belajar supaya menundukkan diri, melatih keikhlasan, dan menjaga hati agar tetap sadar akan kehadiran Allah.
Puasa pun demikian. Puasa bukan hanya kita mampu menahan lapar dan haus, tetapi juga kita dapat menahan diri dari hawa nafsu dan amarah. Maka orang yang berpuasa dengan benar mereka akan merasakan jiwanya menjadi lebih tenang, lebih lembut, dan lebih mudah memaafkan.
Baca Juga:
Di dalam puasa itu sendiri juga mengandung kekuatan yang luar biasa untuk menekan dorongan fujur dan menumbuhkan benih takwa.
Zakat dan sedekah juga merupakan cara Allah untuk membersihkan jiwa kita dari sifat tamak. Orang yang memberi bukan berarti harta mereka menjadi berkurang. Tetapi sebenarnya mereka sedang menyembuhkan dirinya dari penyakit cinta dunia yang berlebihan.
Sementara haji dan umrah menjadi puncak perjalanan spiritual yang mengajarkan kepada kita tentang kesabaran, kesetaraan, dan totalitas dalam menyerahkan diri kepada Allah.
Seruan Untuk Bertakwa Dan Evaluasi Diri
Dalam setiap khotbah Jumat, kita sering mendengar seruan yang sama: “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah.” Kalimat ini bukan hanya sebagai pengingat rutin, tetapi sebagai ajakan untuk terus mengevaluasi diri kita ini.
Sejauh mana potensi baik dalam diri kita telah bekerja? Seberapa banyak kebaikan yang kita hadirkan bagi orang lain? Dan seberapa jauh kita berjuang dalam melawan sisi gelap dalam diri?
Penyakit jiwa tidak akan sembuh dengan kemarahan, tapi penyakit tersebut akan sembuh dengan kesadaran. Ia tidak akan hilang dengan cara kita banyak berbicara, tapi dengan cara kita banyak berdzikir dan juga merenung.
Jiwa yang kotor butuh dibersihkan dengan ibadah, ilmu, dan perbuatan baik yang terus-menerus kita lakukan. Itulah jalan penyembuhan sejati, jalan yang telah Allah tunjukkan melalui syariat-Nya agar kita kembali pada fitrah. Yaitu kita hidup dengan jiwa yang tenang, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Amiin!
Baca Juga: Agama Berperan Penting Dalam Kesehatan Jiwa















