Penyakit Hati

Oleh: Ki Pekathik

Di antara perkara yang paling penting untuk kita perhatikan dalam kehidupan ini adalah hati. Sebab baik dan buruknya seseorang tidak dapat dilihat dari lahirnya dan sangat ditentukan oleh keadaan batiniyahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jangan sampai kita sibuk memperbaiki penampilan lahir, tetapi lupa memperbaiki batin.

Baca juga: Cara Mengatasi Sakit Hati

Riya’

Penyakit hati yang pertama adalah riya’. Yaitu beramal karena ingin dilihat, dipuji, dan diakui manusia. Amal yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru berubah menjadi jalan mencari penilaian manusia. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut riya’ sebagai bagian dari syirik kecil. Maka hendaknya kita selalu bertanya kepada diri sendiri: “Untuk siapa aku beramal? Untuk Allah atau untuk mendapatkan pandangan manusia?”

Takabbur atau Sombong

Penyakit hati berikutnya adalah takabbur atau sombong.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah.”

(HR. Muslim)

Kesombongan terkadang sangat halus. Kita merasa lebih pintar, lebih alim, lebih kaya, lebih baik, lebih berjasa, bahkan merasa lebih pantas dihormati daripada orang lain. Padahal semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.

Baca juga: Ajari Hatimu Untuk Menerima Kekecewaan Dari Orang Yang Kamu Cintai (Renungan Dari Jalaluddin Rumi Tentang Lapang Dada & Cinta Yang Dewasa)

Hasad atau Dengki

Penyakit hati yang lain adalah hasad atau dengki. Yaitu tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat. Hatinya berkata, “Mengapa dia yang mendapatkan? Mengapa bukan aku?” Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling hasad.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang hasad sebenarnya sedang memprotes pembagian Allah. Karena itu obat hasad adalah belajar bersyukur dan menyadari bahwa rezeki setiap manusia telah diatur oleh Allah.

Su’uzan atau Buruk Sangka

Ada pula penyakit hati berupa su’uzan, yaitu buruk sangka kepada orang lain tanpa alasan yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak hubungan persaudaraan rusak karena prasangka yang kita bangun sendiri dalam hati.

Dendam dan Kebencian

Penyakit hati berikutnya adalah dendam dan kebencian.

Ada orang yang secara lahir berkata, “Saya sudah memaafkan,” tetapi hatinya masih menyimpan luka, kebencian, dan keinginan agar orang lain mendapatkan keburukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا

“Janganlah kalian saling membenci dan janganlah kalian saling mendengki.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan berarti membebaskan hati kita dari beban kebencian.

Ujub atau Kagum kepada Diri Sendiri

Penyakit hati yang juga sangat berbahaya adalah ujub, yaitu kagum kepada diri sendiri. Seseorang merasa amalnya banyak, ilmunya tinggi, ibadahnya baik, jasanya besar, lalu lupa bahwa kemampuan untuk beramal itu sendiri adalah karunia Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Ada tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (Diriwayatkan Al-Bazzar dan Al-Baihaqi)

Cinta Dunia Secara Berlebihan

Ada pula penyakit cinta dunia secara berlebihan.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta dan tidak boleh kaya. Tetapi yang berbahaya adalah ketika dunia masuk ke dalam hati dan akhirat keluar dari perhatian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا…

“Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi aku khawatir dunia dilapangkan untuk kalian…”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Syuh atau Sifat Kikir

Kemudian ada syuh atau sifat kikir yang disertai ketamakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

(HR. Muslim)

Marah

Dan jangan lupa penyakit marah. Marah adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi membiarkan marah menguasai hati dapat melahirkan banyak dosa: mencaci, menyakiti, memutus silaturahmi, bahkan melakukan kezaliman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana Keadaan Hati Kita?

Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Bagaimana keadaan hati kita?

Jangan hanya takut apabila tubuh kita sakit. Kita takutlah apabila hati kita sakit tetapi kita tidak menyadarinya.

Sebab penyakit tubuh membuat manusia sulit beraktivitas, sedangkan penyakit hati dapat membuat manusia jauh dari Allah tanpa merasa dirinya sedang sakit.

Karena itu, marilah kita memperbanyak istighfar, dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbaiki niat, bersyukur, memaafkan, merendahkan hati, mencintai sesama, dan senantiasa bermuhasabah.

Sebab hati yang sehat bukanlah hati yang tidak pernah salah, tetapi hati yang ketika salah segera kembali kepada Allah.

Doa Memohon Hati yang Bersih

Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya’, takabbur, hasad, ujub, su’uzan, dendam, cinta dunia yang berlebihan, kikir, amarah, dan hawa nafsu yang menyesatkan.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْهَا مِنَ النِّفَاقِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ، وَاجْعَلْهَا قُلُوبًا سَلِيمَةً تُحِبُّكَ وَتَرْضَاكَ.

“Ya Allah, perbaikilah hati kami, sucikanlah hati kami dari kemunafikan, dengki, kesombongan dan riya’. Jadikanlah hati kami hati yang selamat, yang mencintai-Mu dan mencari ridha-Mu.”