
Pelajaran Serat Sastra Jendra dari Adegan Harga Kailasa 2 – Naskah diambil dari Aksiologi Serat Sastra Jendra Karya: Sri Teddy Rusdy, 2024, hal 37-38.
Bima Sekti: “Waaah, yèn ora isip panduluku, kaya iki Mayangkara kakangku.”
Wah, kalau tidak salah pandanganku, ini pasti Kakakku Mayangkara (Anoman).
Anoman: “Yayi, yayi Werkodara kepara nyata pun kakang ingkang teka.”
Adikku, adikku Werkudara, sungguh ini kakakmu yang datang.
Bima Sekti: “Padha kanthi Basuki?”
Datang bersama Basuki? (Basuki = keselamatan / keberkahan)
Anoman: “Pamujimu ora ana sambekala.”
Doamu (pujianmu) tidak mengenal akhir (selalu abadi / tiada hentinya).
Bima Sekti: “Ana wigati apa kakang Mayangkara teka ana puncaking Harga Kaelasa?”
Ada keperluan penting apa Kakang Mayangkara datang ke puncak Harga Kailasa?
Anoman: “Oo yayi, purwané mengkene…”
Oh adikku, awalnya begini…
“…pun kakang katemben mangsah semadi, mudhun saka sanggar pamujan pun kakang priksa gumebyar mawa cahya…”
Kakak sedang diberi waktu untuk menyepi dan semadi. Saat turun dari sanggar pemujaan, kakak melihat cahaya yang menyilaukan.
“…tengahing cahya ana teja nyada lanang, pandugaku iku nugrahaning Bathara…”
Di tengah cahaya itu ada sinar berbentuk laki-laki, dugaanku itu adalah anugerah para dewa.
Baca Juga:

Pelajaran Serat Sastra Jendra Dari Adegan Harga Kailasa 1 https://sabilulhuda.org/pelajaran-serat-sastra-jendra-dari-adegan-harga-kailasa-1/
“…sumengka rasaning pamikiré pun kakang…”
Maka timbullah pertimbangan dan rasa dalam pikiran kakak.
“…dupi pun kakang mrepegi kang mawa cahya mau, kaya ngapa kageting pamikirku…”
Lalu kakak mencoba menyelami yang membawa cahaya itu, betapa terkejutnya pikiranku…
“…jebul yayi Bratasena kang mbabar teja sumorot sumundhulang ngawiyat.”
Ternyata engkau, adikku Bratasena (Werkudara), yang memancarkan cahaya terang yang menjulang.
“…nanging sadurungé aku munggah gunung Kaelasa, perlu tumuwuh kabèh padha ngarani marang si yayi Begawan Bima Sekti ya Begawan Bima Suci…”
Tapi sebelum aku naik Gunung Kailasa, sudah terdengar kabar bahwa adikku disebut sebagai Begawan Bima Sekti, juga Begawan Bima Suci.
“…mesthi yayi wus jumeneng pendhita…”
Sudah pasti adikku telah menjadi seorang pendeta (resi/sufi).
“…lan pun kakang mulat siswané yayi tanpa wilangan…”
Kakak pun melihat bahwa murid-murid adik jumlahnya tak terhitung…
“…wiwit kawula cilik nganti ana ingkang darah kusuma, rambasing madu lan ana ingkang pancen satriya pangembating praja.”
Dari rakyat biasa, hingga yang berdarah bangsawan, pedagang, bahkan ksatria pemimpin negeri.
“Ooo yayi, pun kakang bungah pamikirku nanging banjur tuwuh rasa kuwatir.”
Wahai adikku, awalnya kakak merasa bahagia, namun kemudian muncul rasa khawatir…
Bima Sekti: “Sebab?”
Apa sebabnya?
Anoman: “Pun kakang sakwise lereh kepraboning senapati madeg senapati, dadi pendhita iku wiwit yayi Bratasena durung ana…”
Setelah kakak meletakkan jabatan sebagai panglima, menjadi pendeta itu sejak dulu belum pernah dilakukan oleh Bratasena.
“…aku jumeneng pendhita ana Kendhalisada pirang taun, hara sapa muridè Anoman, rak ora ana ta…”
Aku menjadi pendeta di Kendhalisada bertahun-tahun, siapa muridku Anoman? Tak ada satu pun.
“Yayi lagi ketemben le dadi pendhita muridè tanpa wilangan…”
Tapi kamu, baru saja jadi pendeta, sudah memiliki murid tak terhingga jumlahnya…
“…sing dak kuwatirake banjur ngèlmu apa sing mbok wulangaké murid-muridmu kuwi, kuwatirku mengko gek ngèlmu penasaran, malah gawé cilakané para siswa-siswamu harag ora prayoga kedadeyané.”
Yang aku khawatirkan adalah ilmu apa yang kamu ajarkan kepada murid-muridmu itu. Aku takut itu nanti justru menjadi ilmu sesat yang membahayakan mereka, dan akhirnya membawa malapetaka yang tidak baik.
Bima Sekti: “Mayangkara kakangku.”
Kakakku Mayangkara…
Anoman: “Apa yayi.”
Ya, ada apa, adikku?
Bima Sekti: “Tak caosi priksa, aku dadi pendhita kaya mengkéné iki ora ana wong ingkang ngerti…”
Dengarkan dan camkan, aku menjadi pendeta seperti ini tidak ada seorang pun yang tahu…
“…menawa aku iki Werkudara, aja kok wong lumrah, anak bojo kulawarga, ndulu marang aku kesamaran.”
Bahwa aku ini sebenarnya Werkudara, bahkan orang biasa, istri, anak, dan keluargaku tak mengenali aku dalam penyamaran ini.
“Dene Mayangkara kakangku weruh aku ora pangling…”
Hanya engkau Mayangkara yang bisa melihat siapa aku sebenarnya dan tidak keliru mengenaliku.
“…merga kowe karo aku Tunggal bayu, anggone ngudi-ngudi ngelmu…”
Karena engkau sejiwa denganku dalam hal mencari dan mendalami ilmu sejati.
“…mula aku duwe panuwun, kowe yen cedhak karo aku, aja kowe ngandhakke nek aku iki Werkudara.”
Maka aku minta kepadamu, kalau kamu dekat denganku, jangan kau katakan pada siapa-siapa bahwa aku ini Werkudara.
“Kowe aku kudu nyebut sang tapa, Werkudara kuwi nek ana Ngodhijati, nek ana kene ki pendhita Begawan Bima Sekti. Saguh ora?”
Kau harus menyebutku sebagai sang tapa. Werkudara itu kalau di kesatrian Njodhipati. Kalau di sini, aku adalah Pendeta Begawan Bima Sekti. Bersediakah?
Anoman: “Iya, saguh.”
Ya, aku bersedia.
Relevansi Nilai-Nilai Dialog di Era Modern”
Dialog antara Bima Sekti (Werkudara) dan Anoman dalam cuplikan sastra pewayangan yang mendalam ini merupakan sumber nilai spiritual, etika, dan perenungan diri yang luar biasa relevan untuk kehidupan manusia di era sekarang.
Meski dikemas dalam bahasa dan konteks wayang klasik, nilai-nilainya melintasi zaman dan menjawab kegelisahan manusia modern yang hidup dalam arus cepat, hiruk-pikuk citra, dan krisis makna.
Berikut ini adalah uraian nilai-nilai utama yang dapat digali dari dialog tersebut dan bagaimana relevansinya diterapkan dalam kehidupan kontemporer:
1. Transformasi Diri
Werkudara yang berubah menjadi Begawan Bima Sekti melambangkan transformasi spiritual. Ia telah menapaki jalan dunia sebagai kesatria, dan kini memilih jalan sebagai pertapa.
Dalam kehidupan modern, ini menggambarkan pentingnya seseorang untuk berefleksi dan menempuh transformasi diri, disamping mengejar pencapaian duniawi, tetapi juga mendalami jati diri dan tujuan hidup.
Di tengah budaya prestasi dan kompetisi yang keras, banyak orang terjebak dalam definisi sukses yang dangkal. Kisah Bima mengajarkan bahwa makna sejati tidak terletak pada status sosial, melainkan pada kejujuran hati dan kesadaran spiritual. Ia meninggalkan nama besar untuk menjadi pelayan ilmu dan cahaya.
Karier, kekayaan, atau popularitas bukanlah puncak kehidupan; pencarian makna, ketenangan batin, dan kontribusi pada sesama adalah tujuan hakiki manusia.
2. Kekuatan Tidak Harus Tampil Nyata
Bima Sekti menyembunyikan jati dirinya dari semua orang, termasuk keluarga. Hanya Anoman yang bisa mengenali jiwanya. Ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya kerendahan hati dan kekuatan tersembunyi.
Era media sosial saat ini menciptakan dorongan untuk tampil, membuktikan diri, dan menunjukkan keberhasilan. Namun Bima justru menunjukkan bahwa nilai luhur tak selalu butuh pengakuan publik. Kebesaran sejati adalah ketika seseorang berbuat nyata, tanpa pamrih atau pencitraan.
Di tengah budaya pamer dan validasi eksternal, kita diajak untuk membangun kekuatan batin yang tidak tergantung pada penilaian luar. Seperti kata pepatah: “Air yang tenang, menghanyutkan.”
3. Kritik yang Tulus
Anoman datang membawa pertanyaan dan kegelisahan. Ia khawatir akan ajaran Werkudara kepada murid-muridnya. Di sini tampak bahwa cinta sejati terwujud dalam keberanian untuk mengingatkan bukan hanya memuji atau membiarkan dalam kesalahan.
Dalam dunia yang serba sensitif dan mudah tersinggung, kritik sering dianggap serangan. Namun dialog ini mengajarkan bahwa kritik yang tulus adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab moral, terutama dalam persahabatan atau kepemimpinan.
Kita perlu membangun budaya diskusi yang sehat, menghargai kritik yang membangun, dan memilah mana masukan yang berasal dari ketulusan.
4. Kesadaran akan Beban Ilmu dan Kepemimpinan
Kekhawatiran Anoman tentang “ilmu apa yang diajarkan Werkudara kepada murid-muridnya” menyiratkan pesan penting: mengajar adalah tanggung jawab besar. Ketika seseorang membuka jalan bagi orang lain, ia juga bertanggung jawab terhadap arah yang ia tunjukkan.
Di era maraknya konten digital, banyak orang menjadi guru, motivator, pembicara, atau influencer. Sayangnya, tidak sedikit yang menyebarkan ilusi, manipulasi, atau kesesatan.
Dalam konteks ini, dialog tersebut menjadi peringatan: mengajar tanpa kedalaman dapat membahayakan, bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi banyak orang yang mengikutinya.
Pemilik ilmu, pemimpin opini, dan tokoh publik harus beretika dan sadar akan pengaruhnya. Jangan sampai ilmunya menyesatkan, hanya demi keuntungan pribadi.
5. Persaudaraan Sejati
Werkudara dan Anoman bersaudara bukan karena darah, tetapi karena sejiwa dalam pencarian ilmu dan laku batin. Hanya Anoman yang bisa melihat siapa sebenarnya Begawan Bima Sekti, karena mereka menempuh jalan spiritual yang sama.
Hal ini mengajarkan bahwa persaudaraan sejati bukan hanya berdasarkan hubungan formal, tapi dari kesamaan nilai, visi, dan perjuangan. Dalam kehidupan modern, ini bisa ditemukan dalam komunitas pemikir, relawan, pendidik, atau pejalan sunyi yang bekerja di balik layar demi nilai luhur.
Kita butuh membangun jaringan persaudaraan spiritual — orang-orang yang saling menguatkan dalam kejujuran, pencarian kebenaran, dan amal kebaikan, tanpa pamrih duniawi.
6. Puncak Kesadaran
Gunung Harga Kailasa meerupakan simbol puncak kesadaran spiritual. Di sanalah Bima Sekti menyepi dan menerima cahaya ilahi. Dalam ajaran mistik, puncak gunung sering berarti tempat tertinggi dalam pencapaian ruhani — ruang hening tempat manusia bertemu dengan dirinya dan Tuhannya.
Dalam hidup modern yang bising dan penuh distraksi, setiap orang butuh “gunung Kailasa”-nya sendiri — ruang kontemplasi, hening, dan doa — agar mampu menyucikan niat, menyembuhkan batin, dan mendengar suara Tuhan di balik kesibukan dunia.
7. Etika Kepemimpinan Spiritual
Werkudara tidak ingin identitasnya terbuka. Ia bahkan memohon pada Anoman agar tetap menyebutnya “sang tapa” atau “Begawan Bima Sekti”, bukan Werkudara. Ini adalah pelajaran luhur tentang kerendahan hati dalam kepemimpinan spiritual. Ia tidak ingin kultus pribadi, tidak ingin pengkultusan nama, meski sejatinya dia adalah tokoh agung.
Dalam era sekarang, banyak tokoh spiritual atau publik justru membangun citra, mencari pengikut, bahkan memperjualbelikan nama suci. Werkudara justru menyembunyikan nama demi menjaga kemurnian jalan.
Para pemimpin spiritual, guru kehidupan, atau tokoh masyarakat harus meneladani Bima Sekti: menghindari pengultusan, menjaga keikhlasan, dan tetap membumi, karena tugas mereka bukan mencari sanjungan, tapi membimbing cahaya.
Dialog antara Bima Sekti dan Anoman bukan hanya warisan sastra, tapi juga cermin bagi manusia modern. Ia mengajak kita:
Baca Juga: Nilai-nilai Kementerian Keuangan dalam Filosofi Pewayangan
Untuk mengalihkan pencarian dari luar menuju dalam,
Untuk tetap rendah hati walau diberi cahaya,
Untuk bertanggung jawab atas ilmu dan pengaruh kita,
Untuk menjaga sahabat dengan kejujuran,
Dan untuk menemukan puncak Kailasa di dalam hati kita masing-masing.
(Bersambung) Oleh: Ki Pekathik




